alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Warga Mengeluh, Asap TPA Mandung Tak Kunjung Padam

TABANAN, BALI EXPRESS – Masyarakat yang bermukim di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Mandung, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, kembali mengeluhkan asap kebakaran sampah yang sebelumnya sudah sering terjadi sejak tahun 2019 lalu. 

Belakangan asap kebakaran sampah tersebut semakin pekat dan berbau, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat, dan dikhawatirkan dapat berpengaruh pada kesehatan.

Salah seorang warga Banjar Dinas Kukuh Kangin, Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, I Wayan Ari Sadewa, menuturkan,  asap kebakaran semakin pekat dirasakan mulai hari Senin sebelum Galungan. Selain pekat, asap juga berbau, sehingga membuat ia dan keluarganya terganggu.

“Sebelumnya dari tahun 2019 kan sudah sering terbakar sampahnya, tapi asapnya tipis-tipis. Kemarin  sebelum Galungan intensitas asapnya semakin pekat dan berbau,” ujarnya, dikonfirmasi Senin (21/9).

Ditambahkannya, pelaporan pun sudah sering dilakukan, namun solusinya hanya penanganan jangka panjang saja, seperti penanganan sampah secara mandiri dan sebagainya. Sedangkan penanganan jangka pendek, seperti untuk menghentikan asap belum dilaksanakan.

“Harapan kami kan agar asap itu bisa diatasi, sedangkan waktu itu solusinya hanya bagaimana untuk memadamkan api, tapi asapnya tidak,” imbuh pria yang tinggal sekitar 2,5 kilometer dari TPA Mandung tersebut.

Menurutnya, asap yang pekat dan berbau paling keras ia rasakan pada dini hari saat hembusan angin laut ke arah selatan. Selain bau asap yang sangat menyengat, belakangan juga banyak terjadi peristiwa masyarakat di sekitar TPA Mandung yang mengalami kanker, serangan jantung hingga menyebabkan kematian mendadak.

“Apakah itu dipengaruhi oleh asap kebakaran sampah yang terhirup setiap hari atau tidak, kita tidak tahu. Yang jelas ini sangat mengkhawatirkan karena tidak ada penanganan yang jelas,” bebernya.

Ia menyebutkan pelaporan telah dilakukan ke Kantor Perbekel yang kemudian ditindaklanjuti ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan, Bapelitbang Tabanan, hingga ditembuskan ke Bupati Tabanan. Namun, penanganan hanya sebatas formalitas saja, masyarakat pun diberikan masker.

“Dari desa solusinya mengelola sampah sendiri, kemarin ada yang dijadikan kompos dan pupuk cair, tapi kita rasa itu kurang efektif karena untuk mengatasi ini perlu peran semua pihak, meskipun masyarakat Desa Kukuh tidak membuang sampah di TPA, tetap saja ada sampah dari desa-desa lain, terutama kota yang masuk ke TPA Mandung,” jelasnya.

Mirisnya kondisi tersebut sudah hampir dua tahun ia alami bersama warga lainnya, dan terjadi hampir setiap hari. Ia berharap instansi terkait bisa memasang alat ukur kadar udara di sekitar TPA Mandung, agar masyarakat  yang setiap hari bekerja di sawah dan kebun mengetahui kadar udara yang mereka hirup. “Misalnya ada masyarakat yang ke sawah pagi-pagi biar tahu kadar udaranya. Kalau masuk kategori bahaya, biar mereka tidak usah ke sawah dulu,” pungkasnya. 


TABANAN, BALI EXPRESS – Masyarakat yang bermukim di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Mandung, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, kembali mengeluhkan asap kebakaran sampah yang sebelumnya sudah sering terjadi sejak tahun 2019 lalu. 

Belakangan asap kebakaran sampah tersebut semakin pekat dan berbau, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat, dan dikhawatirkan dapat berpengaruh pada kesehatan.

Salah seorang warga Banjar Dinas Kukuh Kangin, Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, I Wayan Ari Sadewa, menuturkan,  asap kebakaran semakin pekat dirasakan mulai hari Senin sebelum Galungan. Selain pekat, asap juga berbau, sehingga membuat ia dan keluarganya terganggu.

“Sebelumnya dari tahun 2019 kan sudah sering terbakar sampahnya, tapi asapnya tipis-tipis. Kemarin  sebelum Galungan intensitas asapnya semakin pekat dan berbau,” ujarnya, dikonfirmasi Senin (21/9).

Ditambahkannya, pelaporan pun sudah sering dilakukan, namun solusinya hanya penanganan jangka panjang saja, seperti penanganan sampah secara mandiri dan sebagainya. Sedangkan penanganan jangka pendek, seperti untuk menghentikan asap belum dilaksanakan.

“Harapan kami kan agar asap itu bisa diatasi, sedangkan waktu itu solusinya hanya bagaimana untuk memadamkan api, tapi asapnya tidak,” imbuh pria yang tinggal sekitar 2,5 kilometer dari TPA Mandung tersebut.

Menurutnya, asap yang pekat dan berbau paling keras ia rasakan pada dini hari saat hembusan angin laut ke arah selatan. Selain bau asap yang sangat menyengat, belakangan juga banyak terjadi peristiwa masyarakat di sekitar TPA Mandung yang mengalami kanker, serangan jantung hingga menyebabkan kematian mendadak.

“Apakah itu dipengaruhi oleh asap kebakaran sampah yang terhirup setiap hari atau tidak, kita tidak tahu. Yang jelas ini sangat mengkhawatirkan karena tidak ada penanganan yang jelas,” bebernya.

Ia menyebutkan pelaporan telah dilakukan ke Kantor Perbekel yang kemudian ditindaklanjuti ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan, Bapelitbang Tabanan, hingga ditembuskan ke Bupati Tabanan. Namun, penanganan hanya sebatas formalitas saja, masyarakat pun diberikan masker.

“Dari desa solusinya mengelola sampah sendiri, kemarin ada yang dijadikan kompos dan pupuk cair, tapi kita rasa itu kurang efektif karena untuk mengatasi ini perlu peran semua pihak, meskipun masyarakat Desa Kukuh tidak membuang sampah di TPA, tetap saja ada sampah dari desa-desa lain, terutama kota yang masuk ke TPA Mandung,” jelasnya.

Mirisnya kondisi tersebut sudah hampir dua tahun ia alami bersama warga lainnya, dan terjadi hampir setiap hari. Ia berharap instansi terkait bisa memasang alat ukur kadar udara di sekitar TPA Mandung, agar masyarakat  yang setiap hari bekerja di sawah dan kebun mengetahui kadar udara yang mereka hirup. “Misalnya ada masyarakat yang ke sawah pagi-pagi biar tahu kadar udaranya. Kalau masuk kategori bahaya, biar mereka tidak usah ke sawah dulu,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/