alexametrics
27.6 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Berhias Seram, Desa Pakraman Tengkulak Kelod Gelar Tradisi Ngerebeg

GIANYAR, BALI EXPRESS – Krama lanang mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia di Desa Pakraman Tengkulak Kelod, Banjar Tengkulak Mas, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, merias diri dengan berbagai macam rupa dalam tradisi Ngerebeg yang digelar Kamis (21/10).

 

Selanjutnya krama berjalan keliling wilayah desa pakraman diiringi gamelan baleganjur serta kulkul bambu kecil. Bendesa Pakraman Tengkulak Kelod Dewa Ngakan Ketut Suarbawa mengatakan bahwa tradisi ini sudah diwarisi secara turun temurun dan digelar setiap tahunnya. “Saya sendiri mendapati tradisi ini sudah ada, jadi sudah ada sejak dulu,” ungkapnya.

Ditambahkannya jika tradisi Ngerebeg ini digelar setiap Kajeng Kliwon Sasih Kelima. Dimana Ida Sesuunan setempat tedun sebanyak tiga kali dan hari terakhir digelar Ngerebeg. Tradisi Ngerebeg ini dimulai pukul 12.00 WITA yang diawali dengan krama berkumpul di Pura Dalem Desa Pakraman Tengkulak Kelod. Krama yang datang khususnya krama lanang pun berhias, ada yang menggunakan cat full warna, ada juga yang mengoleskan kapur sirih pada bagian tubuh. “Ini semacam simbol, agar dalam prosesi krama senantiasa dilindungi,” sambungnya.

Terlebih, dalam iring-iringan Ngerebeg tersebut dipercaya ada makhluk gaib yang ikut serta. Sehingga disetiap perempatan dihaturkan segehan yang bertujuan untuk menetralisir. 

Krama pun membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mengelilingi wilayah desa pekraman. Start diawali dari Pura Dalem menuju batas selatan desa yakni perbatasan dengan Banjar Batu Sepih. Kemudian kembali lagi ke arah utara hingga perbatasan dengan Banjar Tengkulak Tengah. Dan dari titik tersebut kembali finish di areal Pura. “Ngerebeg ini juga sekaligus ngiring Ida Bhatara sesuhunan Pura Dalem Tengkulak Kelod berupa Barong dan Rangda yang tedun napak pertiwi,” lanjutnya.

Krama lanang yang berhias seram pun tampak ikut mundut sarana upakara semisal pasepan, canang rebong, maupun tedung dan umbul-umbul.  Menurutnya tradisi Ngerebeg ini digelar untuk menolak bala memohon keharmonisan jagat serta menetralisir aura yang bersifat negatif dilingkungan desa pekraman. “Tujuannya untuk menolak bala dan menetralisir hal-hal negatif,” imbuhnya.

Lebih lanjut dirinya menyebutkan jika ada beberapa prosesi yang dilakukan Ngerebeg ini digelar. Sebelumnya, pada rahina Kajeng Kliwon pertama Sasih Kelima, krama desa pekraman nunas pasikepan berupa benang tridatu dan mecaru. Begitu pula pada rahina Kajeng Kliwon kedua di sasih kelima kembali digelar pecaruan baik di pura maupun rumah masing-masing. Barulah pada rahina Kajeng Kliwon ketiga pada sasih kelima ini digelar tradisi Ngerebeg. Selama ini tradisi ini selalu digelar alias lidak pernah ditiadakan.

Terakhir, setelah prosesi berakhir krama lanang yang berhias akan beramai-ramai menuju Tukad Juga yang ada di sebelah barat banjar untuk membersihkan diri. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Krama lanang mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia di Desa Pakraman Tengkulak Kelod, Banjar Tengkulak Mas, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, merias diri dengan berbagai macam rupa dalam tradisi Ngerebeg yang digelar Kamis (21/10).

 

Selanjutnya krama berjalan keliling wilayah desa pakraman diiringi gamelan baleganjur serta kulkul bambu kecil. Bendesa Pakraman Tengkulak Kelod Dewa Ngakan Ketut Suarbawa mengatakan bahwa tradisi ini sudah diwarisi secara turun temurun dan digelar setiap tahunnya. “Saya sendiri mendapati tradisi ini sudah ada, jadi sudah ada sejak dulu,” ungkapnya.

Ditambahkannya jika tradisi Ngerebeg ini digelar setiap Kajeng Kliwon Sasih Kelima. Dimana Ida Sesuunan setempat tedun sebanyak tiga kali dan hari terakhir digelar Ngerebeg. Tradisi Ngerebeg ini dimulai pukul 12.00 WITA yang diawali dengan krama berkumpul di Pura Dalem Desa Pakraman Tengkulak Kelod. Krama yang datang khususnya krama lanang pun berhias, ada yang menggunakan cat full warna, ada juga yang mengoleskan kapur sirih pada bagian tubuh. “Ini semacam simbol, agar dalam prosesi krama senantiasa dilindungi,” sambungnya.

Terlebih, dalam iring-iringan Ngerebeg tersebut dipercaya ada makhluk gaib yang ikut serta. Sehingga disetiap perempatan dihaturkan segehan yang bertujuan untuk menetralisir. 

Krama pun membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mengelilingi wilayah desa pekraman. Start diawali dari Pura Dalem menuju batas selatan desa yakni perbatasan dengan Banjar Batu Sepih. Kemudian kembali lagi ke arah utara hingga perbatasan dengan Banjar Tengkulak Tengah. Dan dari titik tersebut kembali finish di areal Pura. “Ngerebeg ini juga sekaligus ngiring Ida Bhatara sesuhunan Pura Dalem Tengkulak Kelod berupa Barong dan Rangda yang tedun napak pertiwi,” lanjutnya.

Krama lanang yang berhias seram pun tampak ikut mundut sarana upakara semisal pasepan, canang rebong, maupun tedung dan umbul-umbul.  Menurutnya tradisi Ngerebeg ini digelar untuk menolak bala memohon keharmonisan jagat serta menetralisir aura yang bersifat negatif dilingkungan desa pekraman. “Tujuannya untuk menolak bala dan menetralisir hal-hal negatif,” imbuhnya.

Lebih lanjut dirinya menyebutkan jika ada beberapa prosesi yang dilakukan Ngerebeg ini digelar. Sebelumnya, pada rahina Kajeng Kliwon pertama Sasih Kelima, krama desa pekraman nunas pasikepan berupa benang tridatu dan mecaru. Begitu pula pada rahina Kajeng Kliwon kedua di sasih kelima kembali digelar pecaruan baik di pura maupun rumah masing-masing. Barulah pada rahina Kajeng Kliwon ketiga pada sasih kelima ini digelar tradisi Ngerebeg. Selama ini tradisi ini selalu digelar alias lidak pernah ditiadakan.

Terakhir, setelah prosesi berakhir krama lanang yang berhias akan beramai-ramai menuju Tukad Juga yang ada di sebelah barat banjar untuk membersihkan diri. 


Most Read

Artikel Terbaru

/