alexametrics
26.7 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Koster Rancang Retribusi Budaya, Target Rp 1 T Setahun

BALI EXPRESS, DENPASAR – Rapat gabungan antara DPRD Bali dengan Gubernur beserta jajaran, berlangsung panas di akhir rapat. Ini terjadi lantaran, jajaran DPRD Bali merasa kalau waktu rapat terlalu pendek. Namun anehnya sebelum rapat sudah sepakat untuk rapat satu jam saja. Anggota Komisi I DPRD Bali Dewa Nyoman Rai sempat teriak – teriak, emosi dan rapat panas, namun tetap ditutup. Dalam rapat itu, Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan rencananya untuk melakukan pungutan retribusi budaya  kepada wisatawan yang ke Bali.

Rapat gabungan pada Senin (19/11) berlangsung di DPRD Bali. Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama, hadir Gubernur Bali Wayan Koster dengan semua jajaran pejabat Pemprov Bali. Diawal rapat semua mufakat untuk rapat dilakukan cukup satu jam, karena akan agenda Gubernur Bali yang mendesak dan Ketua DPRD Bali, juga ada agenda lanjutan. Semua sepakat hanya satu jam.

Kemudian Ketua DPRD Bali memulai rapat terkait RAPBD tahun 2019, kemudian sempat Kadek Diana diawal memaparkan beberapa hal. Selanjutnya Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan banyak rencana, terkait penataan mangrove, terkait rencana retribusi Budaya Bali untuk wisatawan domestik dan mancanegara. “Kami ingin nanti ada sejenis retribusi untuk kepentingan budaya Bali. Bisa di Bandara, termasuk di hotel – hotel,” jelas Koster.

Baca Juga :  Rebutan Air, 2 Subak Lintas Kabupaten 'Masadu' Datangi¬†Dewan

Dia mengatakan model retribusi ini nantinya, dirancang satu wisatawan domestic Rp 10 ribu sedangkan wisatawan mancanegara USD 10. “Hitung – hitungan kami setahun dapat sampai Rp 1 triliun. Nantinya dikelola dengan bagus, oleh lembaga dibawah pemerintah. Namun ini baru ide dan rancangan,” kata Koster.

Gubernur yang adalah Ketua DPD PDIP ini mengatakan, tentu nanti mesti ada payung hukum. Dia mengatakan paling tidak nanti ada Perda yang mengatur. Selain itu, Koster juga mengatakan terkait pengelolaan CSR. Baginya jika bisa disatukan, untuk dikelola secara satu pintu, sehingga bisa lebih terfokus untuk pengentasan kemiskinan dan lainnya.

Setelah cukup lama menjelaksan, waktu dikembalikan ke Ketua DPRD Bali yang memimpin acara. Ternyata hitung – hitungan dari Adi Wiryatama, pertemuan sudah lewat 5 menit dari yang sudah dirancang. “Kita semua sudah sepakat rapat satu jam. Sekarang sudah satu jam lebih lima menit, dan semua sudah gamblang dijelaskan oleh Gubernur,” kata mantan Bupati Tabanan dua periode ini.

Atas kondisi ini, Anggota Komisi I DPRD Bali Wayan Gunawan intrupsi. “Pimpinan sebaiknya dilanjutkan lagi sebentar, ada beberapa hal yang mesti kami sampaikan,” kata politisi asal Bangli ini.

Namun akhirnya Adi Wiryatama mengatakan, sudah sepakat untuk rapat satu jam. Sehingga Adi Wiryatama tetap bersikukuh untuk rapat selesai. Akhirnya malah Sekretaris Komisi I DPRD Bali Dewa Nyoman Rai. Dia langsung intrupsi dan langsung bicara, dengan mengatakan bahwa dirinya tidak puas dengan pembagian hibah untuk yang disalurkan oleh DPRD Bali. “Saya ingin mempermasalakan terkait hibah yang difasilitasi DPRD Bali. Kami sudah dipangkas dari Rp 6,5 miliar menjadi Rp 4,5 miliar. Namun malah belakangan muncul kabar bahwa ada beda jumlah antara pimpinan dan anggota,” ujar Dewa Rai.

Baca Juga :  Terkait Perpres Mikol, Ketua Komisi II Harap Ada Kemudahan Perizinan

Dia mengatakan jika pimpinan, atau ketua dan Wakil Ketua mendapatkan jumlah yang jauh lebih besar. Dewa Rai mengatakan untuk Ketua DPRD Bali dapat Rp 10 miliar, sedangkan Wakil Ketua dapat Rp 8 miliar. “Ini apa – apaan, kok bisa beda – beda. Ketua sampai Rp 10 miliar, dan Wakil Ketua sampai Rp 8 miliar,” cetus Dewa Rai dengan suara keras bahkan sudah teriak – teriak. Dengan kondisi ini, Adi Wiryatama langsung mengatakan, rapat ditutup dan ketok palu. “Saya pimpinan disini, saya punya kewenangan dan saya yang memimpin rapat. Rapat ditutup, Om Santih, Santih, Santih, Om,” kata Adi Wiryatama dan langsung mengetok palu tanda rapat ditutup. Dewa Rai terus teriak –  teriak, namun rapat langsung bubar.

Koster langsung mendekati Dewa Rai, dan menyalami. Saat itu Koster mengatakan bahwa itu tidak benar. “Tidak benar info itu, saya yang tahu persis. Tidak benar, yakin sama saya, tidak benar itu,” kata Koster dan Dewa Rai akhirnya memilih tidak lagi teriak – teriak.


BALI EXPRESS, DENPASAR – Rapat gabungan antara DPRD Bali dengan Gubernur beserta jajaran, berlangsung panas di akhir rapat. Ini terjadi lantaran, jajaran DPRD Bali merasa kalau waktu rapat terlalu pendek. Namun anehnya sebelum rapat sudah sepakat untuk rapat satu jam saja. Anggota Komisi I DPRD Bali Dewa Nyoman Rai sempat teriak – teriak, emosi dan rapat panas, namun tetap ditutup. Dalam rapat itu, Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan rencananya untuk melakukan pungutan retribusi budaya  kepada wisatawan yang ke Bali.

Rapat gabungan pada Senin (19/11) berlangsung di DPRD Bali. Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama, hadir Gubernur Bali Wayan Koster dengan semua jajaran pejabat Pemprov Bali. Diawal rapat semua mufakat untuk rapat dilakukan cukup satu jam, karena akan agenda Gubernur Bali yang mendesak dan Ketua DPRD Bali, juga ada agenda lanjutan. Semua sepakat hanya satu jam.

Kemudian Ketua DPRD Bali memulai rapat terkait RAPBD tahun 2019, kemudian sempat Kadek Diana diawal memaparkan beberapa hal. Selanjutnya Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan banyak rencana, terkait penataan mangrove, terkait rencana retribusi Budaya Bali untuk wisatawan domestik dan mancanegara. “Kami ingin nanti ada sejenis retribusi untuk kepentingan budaya Bali. Bisa di Bandara, termasuk di hotel – hotel,” jelas Koster.

Baca Juga :  Paket DEWA Daftar ke Golkar, Cok Ibah Belum Ada Kabar

Dia mengatakan model retribusi ini nantinya, dirancang satu wisatawan domestic Rp 10 ribu sedangkan wisatawan mancanegara USD 10. “Hitung – hitungan kami setahun dapat sampai Rp 1 triliun. Nantinya dikelola dengan bagus, oleh lembaga dibawah pemerintah. Namun ini baru ide dan rancangan,” kata Koster.

Gubernur yang adalah Ketua DPD PDIP ini mengatakan, tentu nanti mesti ada payung hukum. Dia mengatakan paling tidak nanti ada Perda yang mengatur. Selain itu, Koster juga mengatakan terkait pengelolaan CSR. Baginya jika bisa disatukan, untuk dikelola secara satu pintu, sehingga bisa lebih terfokus untuk pengentasan kemiskinan dan lainnya.

Setelah cukup lama menjelaksan, waktu dikembalikan ke Ketua DPRD Bali yang memimpin acara. Ternyata hitung – hitungan dari Adi Wiryatama, pertemuan sudah lewat 5 menit dari yang sudah dirancang. “Kita semua sudah sepakat rapat satu jam. Sekarang sudah satu jam lebih lima menit, dan semua sudah gamblang dijelaskan oleh Gubernur,” kata mantan Bupati Tabanan dua periode ini.

Atas kondisi ini, Anggota Komisi I DPRD Bali Wayan Gunawan intrupsi. “Pimpinan sebaiknya dilanjutkan lagi sebentar, ada beberapa hal yang mesti kami sampaikan,” kata politisi asal Bangli ini.

Namun akhirnya Adi Wiryatama mengatakan, sudah sepakat untuk rapat satu jam. Sehingga Adi Wiryatama tetap bersikukuh untuk rapat selesai. Akhirnya malah Sekretaris Komisi I DPRD Bali Dewa Nyoman Rai. Dia langsung intrupsi dan langsung bicara, dengan mengatakan bahwa dirinya tidak puas dengan pembagian hibah untuk yang disalurkan oleh DPRD Bali. “Saya ingin mempermasalakan terkait hibah yang difasilitasi DPRD Bali. Kami sudah dipangkas dari Rp 6,5 miliar menjadi Rp 4,5 miliar. Namun malah belakangan muncul kabar bahwa ada beda jumlah antara pimpinan dan anggota,” ujar Dewa Rai.

Baca Juga :  Rebutan Air, 2 Subak Lintas Kabupaten 'Masadu' Datangi¬†Dewan

Dia mengatakan jika pimpinan, atau ketua dan Wakil Ketua mendapatkan jumlah yang jauh lebih besar. Dewa Rai mengatakan untuk Ketua DPRD Bali dapat Rp 10 miliar, sedangkan Wakil Ketua dapat Rp 8 miliar. “Ini apa – apaan, kok bisa beda – beda. Ketua sampai Rp 10 miliar, dan Wakil Ketua sampai Rp 8 miliar,” cetus Dewa Rai dengan suara keras bahkan sudah teriak – teriak. Dengan kondisi ini, Adi Wiryatama langsung mengatakan, rapat ditutup dan ketok palu. “Saya pimpinan disini, saya punya kewenangan dan saya yang memimpin rapat. Rapat ditutup, Om Santih, Santih, Santih, Om,” kata Adi Wiryatama dan langsung mengetok palu tanda rapat ditutup. Dewa Rai terus teriak –  teriak, namun rapat langsung bubar.

Koster langsung mendekati Dewa Rai, dan menyalami. Saat itu Koster mengatakan bahwa itu tidak benar. “Tidak benar info itu, saya yang tahu persis. Tidak benar, yakin sama saya, tidak benar itu,” kata Koster dan Dewa Rai akhirnya memilih tidak lagi teriak – teriak.


Most Read

Artikel Terbaru

/