alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Mural ‘Restorasi Memori’ Karya Slinat, Ini Penjelasan Maknanya

DENPASAR, BALI EXPRESS – Di salah satu tembok warga di Banjar Tampak Gangsul, Desa Dangin Puri Kauh atau tepatnya di perempatan jalan Yudistira-Nakula-Abimanyu, Denpasar terdapat sebuah mural dengan ukuran cukup besar. Gambar tersebut cukup menyejukkan mata ketika melihatnya.

Ada tiga sosok di mural itu, laki-laki bertopi dengan tas slempang menggunakan masker, dengan mobil terbuka yang di dalamnya terpajang dagangan. Dibelakangnya terpampang juga pemandangan pegunungan. Kemudian dua sosok gadis yang memakai busana Bali kuno dengan sebuah bangunan kuno disampingnya. Siapa sebenarnya arsitek di balik ini semua dan apa makna dibalik mural ini?

“Saya beri judul Restorasi Memori dengan tema Pariwisata Berkelanjutan,” ujar Slinat, sang seniman mural saat dijumpai Bali Express (Jawa Pos Group).

Sembari merapikan ‘senjata’ nya yang dipergunakan untuk membuat mural ini, Slinat bertutur bahwa makna yang terkandung di dalamnya merupakan refleksi dari kejadian saat ini.

“Orang yang sedang berjualan memakai mobil itu merupakan fenomena saat ini. Pariwisata Bali sedang drop, banyak orang yang banting stir berjualan di pinggir jalan menggunakan mobil mereka,” serunya.

Kemudian sosok gadis memakai busana Bali kuno itu menurutnya identitas dari Bali itu sendiri. Sejak dulu, ketika bicara soal pariwisata Bali, gambar atau foto yang menerangkan pariwisata maupun budaya Bali tak terlepas dari sosok orang Bali kuno dengan pakaian serta tradisi jaman dulu. “Potret orang Bali kuno dengan pakaian ataupun gaya khas mereka memiliki nilai jual dalam promosi pariwisata Bali,” beber Slinat yang enggan mengatakan nama aslinya ini.

Sesuai dengan tema yang ia ambil, lewat mural ini Slinat juga ingin memberikan gambaran kepada orang-orang agar tidak melupakan warisan para leluhur, terutama dari arsitektur. “Saya bukan orang religius, tapi saya tertarik dengan bangunan-bangunan kuno di Bali. Saat ini, bangunan kuno banyak yang dipugar dan menghilangkan kesan kuno nya. Kalau bangunan itu dipertahankan ada nilai historisnya,” bebernya lantang.

Menurutnya, dengan mempertahankan histori tersebut bisa dibilang menjadi jawaban pariwisata berkelanjutan daripada membongkar tebing atau mengurug laut. “Bukan hanya baik untuk pariwisata, tapi keberadaannya sangat penting untuk kita, untuk anak cucu, dan perjalanan peradaban manusia,” tegasnya.

Slinat sendiri merupakan bagian dari seniman yang ikut serta dalam penciptaan karya seni untuk Pemulihan Hijau. Puluhan seniman mural Bali turut tergabung di dalamnya dengan mengusung tema masing-masing.

“Ada tiga tema dalam acara Kembali Becik, Pariwisata Berkelanjutan, Kendaraan Bebas Polusi dan Energi Terbarukan. Saya ambil tema pariwisata,” tutupnya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

DENPASAR, BALI EXPRESS – Di salah satu tembok warga di Banjar Tampak Gangsul, Desa Dangin Puri Kauh atau tepatnya di perempatan jalan Yudistira-Nakula-Abimanyu, Denpasar terdapat sebuah mural dengan ukuran cukup besar. Gambar tersebut cukup menyejukkan mata ketika melihatnya.

Ada tiga sosok di mural itu, laki-laki bertopi dengan tas slempang menggunakan masker, dengan mobil terbuka yang di dalamnya terpajang dagangan. Dibelakangnya terpampang juga pemandangan pegunungan. Kemudian dua sosok gadis yang memakai busana Bali kuno dengan sebuah bangunan kuno disampingnya. Siapa sebenarnya arsitek di balik ini semua dan apa makna dibalik mural ini?

“Saya beri judul Restorasi Memori dengan tema Pariwisata Berkelanjutan,” ujar Slinat, sang seniman mural saat dijumpai Bali Express (Jawa Pos Group).

Sembari merapikan ‘senjata’ nya yang dipergunakan untuk membuat mural ini, Slinat bertutur bahwa makna yang terkandung di dalamnya merupakan refleksi dari kejadian saat ini.

“Orang yang sedang berjualan memakai mobil itu merupakan fenomena saat ini. Pariwisata Bali sedang drop, banyak orang yang banting stir berjualan di pinggir jalan menggunakan mobil mereka,” serunya.

Kemudian sosok gadis memakai busana Bali kuno itu menurutnya identitas dari Bali itu sendiri. Sejak dulu, ketika bicara soal pariwisata Bali, gambar atau foto yang menerangkan pariwisata maupun budaya Bali tak terlepas dari sosok orang Bali kuno dengan pakaian serta tradisi jaman dulu. “Potret orang Bali kuno dengan pakaian ataupun gaya khas mereka memiliki nilai jual dalam promosi pariwisata Bali,” beber Slinat yang enggan mengatakan nama aslinya ini.

Sesuai dengan tema yang ia ambil, lewat mural ini Slinat juga ingin memberikan gambaran kepada orang-orang agar tidak melupakan warisan para leluhur, terutama dari arsitektur. “Saya bukan orang religius, tapi saya tertarik dengan bangunan-bangunan kuno di Bali. Saat ini, bangunan kuno banyak yang dipugar dan menghilangkan kesan kuno nya. Kalau bangunan itu dipertahankan ada nilai historisnya,” bebernya lantang.

Menurutnya, dengan mempertahankan histori tersebut bisa dibilang menjadi jawaban pariwisata berkelanjutan daripada membongkar tebing atau mengurug laut. “Bukan hanya baik untuk pariwisata, tapi keberadaannya sangat penting untuk kita, untuk anak cucu, dan perjalanan peradaban manusia,” tegasnya.

Slinat sendiri merupakan bagian dari seniman yang ikut serta dalam penciptaan karya seni untuk Pemulihan Hijau. Puluhan seniman mural Bali turut tergabung di dalamnya dengan mengusung tema masing-masing.

“Ada tiga tema dalam acara Kembali Becik, Pariwisata Berkelanjutan, Kendaraan Bebas Polusi dan Energi Terbarukan. Saya ambil tema pariwisata,” tutupnya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

Most Read

Artikel Terbaru

/