alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Guru Besar Unud Akhiri Hidup, Sang Anak Syok

DENPASAR, BALI EXPRESS – Warga di Jalan Kerta Winangun II Gang Tratai, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan, dibuat heboh setelah mengetahui Prof. Dr. Ir. Komang Buda Arsa, MS yang tinggal di sana tewas gantung diri. Pria yang diketahui sebagai guru besar di Fakultas Peternakan Universitas Udayana (Unud) ini diduga mengakhiri hidup pada Senin (21/2) pukul 13.30.

Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Ketut Sukadi yang dikonfirmasi menerangkan peristiwa ini pertama kali diketahui oleh anak korban Kadek Dwi Yogiantara. Berdasar keterangan tetangga korban bernama Nyoman Suardana, hari itu anak korban baru datang dari Malang, Jawa Timur sekitar pukul 05.00. Namun, saat itu Prof. Buda Arsa masih dalam keadaan sehat.

“Anaknya sempat tertidur dan ketika bangun juga sempat mengobrol dengan korban,” kata Sukadi, Selasa (22/2). Akan tetapi, berselang beberapa jam kemudian, Yogiantara mendapati sang ayah sudah tewas gantung diri. Sehingga dia berlari ke tetangga sekitar untuk meminta tolong dan melaporkan ke polisi.

Pukul 16.05, Unit Identifikasi Satreskrim Polresta Denpasar tiba di untuk melakukan olah TKP. Hasilnya tidak ditemukan ada tanda-tanda kekerasan dari tubuh dosen itu. Selanjutnya jenazah korban dibawa ke RSUP Sanglah oleh Ambulance BPBD Kota Denpasar. Kejadian memilukan ini mengakibatkan anak korban syok dan belum dapat dimintai keterangan.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Protokoler Unud dan Staff Dosen di FK Peternakan Unud, I Ketut Mangku Budiasah menerangkan dirinya dilibatkan dalam pertemuan keluarga korban usai proses di Polsek Denpasar Selatan. Pihak keluarga disebut telah sepakat melaksanakan upacara Ngaben pada 24 Februari 2022 di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung dan saat ini jenazah masih dititipkan di RSUP Sanglah.

“Keluarga menyatakan tidak melakukan autopsi dan sudah menerima SOP dari kepolisian. Kebetulan tyang agak dekat dengan beliau dengan keluarga juga, dan dilibatkan dalam pertemuan mereka. Istrinya setahu saya sudah meninggal sejak 10 tahun lalu, dan anak almarhum yang pertama dosen di sastra Bali FIB Unud,” ujarnya. Lebih lanjut, Budiasah mengatakan tidak ada yang khusus, baik firasat atau kode yang didapat pihak keluarga sebelum korban meninggal.

Namun diduga Prof. Budi Arsa sudah lama sakit karena sempat mengeluh sulit tidur seperti insomnia. Walaupun begitu, belakangan ini secara fisik korban tampak sehat. Bahkan pada pagi hari sebelum kejadian tragis ini, korban sempat mengikuti apel virtual Fakultas Peternakan Unud. Dia sempat menanyakan ke korban mengenai kondisinya saat pandemi dan hanya dijawab “Ya baik ada batuk-batuknya sedikit,”.

“Selama ini beliau lebih intens mengajar, penelitian pengabdian setelah selesai menjabat. Tidak ada handle proyek apapun. Di kampus beliau terakhir adalah sekretaris LPM dan sempat sekretaris prodi S3 Ilmu Peternakan. Beliau juga banyak menulis buku yang saya tahu mungkin sekitar lebih dari lima,” lanjutnya. Sebagai orang dekat, Mangku Budiasah tentu merasa kehilangan atas meninggalnya Prof. Budi Arsa. Apalagi korban dianggapnya panutan, seorang guru besar terutama yang banyak berkecimpung di bidang pengabdian kepada masyarakat.






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Warga di Jalan Kerta Winangun II Gang Tratai, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan, dibuat heboh setelah mengetahui Prof. Dr. Ir. Komang Buda Arsa, MS yang tinggal di sana tewas gantung diri. Pria yang diketahui sebagai guru besar di Fakultas Peternakan Universitas Udayana (Unud) ini diduga mengakhiri hidup pada Senin (21/2) pukul 13.30.

Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Ketut Sukadi yang dikonfirmasi menerangkan peristiwa ini pertama kali diketahui oleh anak korban Kadek Dwi Yogiantara. Berdasar keterangan tetangga korban bernama Nyoman Suardana, hari itu anak korban baru datang dari Malang, Jawa Timur sekitar pukul 05.00. Namun, saat itu Prof. Buda Arsa masih dalam keadaan sehat.

“Anaknya sempat tertidur dan ketika bangun juga sempat mengobrol dengan korban,” kata Sukadi, Selasa (22/2). Akan tetapi, berselang beberapa jam kemudian, Yogiantara mendapati sang ayah sudah tewas gantung diri. Sehingga dia berlari ke tetangga sekitar untuk meminta tolong dan melaporkan ke polisi.

Pukul 16.05, Unit Identifikasi Satreskrim Polresta Denpasar tiba di untuk melakukan olah TKP. Hasilnya tidak ditemukan ada tanda-tanda kekerasan dari tubuh dosen itu. Selanjutnya jenazah korban dibawa ke RSUP Sanglah oleh Ambulance BPBD Kota Denpasar. Kejadian memilukan ini mengakibatkan anak korban syok dan belum dapat dimintai keterangan.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Protokoler Unud dan Staff Dosen di FK Peternakan Unud, I Ketut Mangku Budiasah menerangkan dirinya dilibatkan dalam pertemuan keluarga korban usai proses di Polsek Denpasar Selatan. Pihak keluarga disebut telah sepakat melaksanakan upacara Ngaben pada 24 Februari 2022 di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung dan saat ini jenazah masih dititipkan di RSUP Sanglah.

“Keluarga menyatakan tidak melakukan autopsi dan sudah menerima SOP dari kepolisian. Kebetulan tyang agak dekat dengan beliau dengan keluarga juga, dan dilibatkan dalam pertemuan mereka. Istrinya setahu saya sudah meninggal sejak 10 tahun lalu, dan anak almarhum yang pertama dosen di sastra Bali FIB Unud,” ujarnya. Lebih lanjut, Budiasah mengatakan tidak ada yang khusus, baik firasat atau kode yang didapat pihak keluarga sebelum korban meninggal.

Namun diduga Prof. Budi Arsa sudah lama sakit karena sempat mengeluh sulit tidur seperti insomnia. Walaupun begitu, belakangan ini secara fisik korban tampak sehat. Bahkan pada pagi hari sebelum kejadian tragis ini, korban sempat mengikuti apel virtual Fakultas Peternakan Unud. Dia sempat menanyakan ke korban mengenai kondisinya saat pandemi dan hanya dijawab “Ya baik ada batuk-batuknya sedikit,”.

“Selama ini beliau lebih intens mengajar, penelitian pengabdian setelah selesai menjabat. Tidak ada handle proyek apapun. Di kampus beliau terakhir adalah sekretaris LPM dan sempat sekretaris prodi S3 Ilmu Peternakan. Beliau juga banyak menulis buku yang saya tahu mungkin sekitar lebih dari lima,” lanjutnya. Sebagai orang dekat, Mangku Budiasah tentu merasa kehilangan atas meninggalnya Prof. Budi Arsa. Apalagi korban dianggapnya panutan, seorang guru besar terutama yang banyak berkecimpung di bidang pengabdian kepada masyarakat.






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/