alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Pemerintah Nunggak Pembayaran, Sambungan Air Pasar Loka Crana Disegel

BANGLI, BALI EXPRESS- Pedagang di Pasar Loka Crana, Bangli tidak mendapat pelayanan air dari PDAM Bangli. Itu karena PDAM menyegel sambungan ke pasar itu pada Desember 2020. Penyegalan dilakukan lantaran  pemerintah menunggak pembayaran.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang kecewa. Selain tidak dapat air, mereka kecewa karena tidak ada pemberitahuan resmi dari dinas terkait soal penyebab tidak mengalirnya air. Tiba-tiba air di toilet maupun wastafel macet. Di sisi lain, pedagang tetap dikenakan retribusi. “Setiap berjualan kami bayar retribusi Rp 8.000 untuk pedagang kios. Dengan membayar itu, kami seharusnya mendapatkan pelayanan, seperti air,” protes salah seorang pedagang pakaian ditemui di pasar setempat, Senin (22/3).

Akibat tidak ada air, para pedagang harus bawa air sendiri. Ada yang menggunakan jerigen. Tak sedikit pula memanfaatkan botol air mineral. Sebab selama berjualan sekitar pukul 07.00-15.00, pasti sempat ke toilet. Minimal buang air kecil. “Makan saya sudah atur, biar tidak pengen BAB (buang air besar) di pasar karena bawa airnya sedikit,” terang perempuan yang enggan namanya dikorankan itu.

Salah seorang pedagang, Dewa Ayu mengaku membawa air dari rumahnya. Itu untuk mengantisipasi ketika kebelet BAB atau minimal buang air kecil. Sebab tidak mungkin dia harus bolak-balik ke rumahnya di Sidembunut, Kelurahan Cempaga, Bangli. “Kalau ada pengunjung mau ke toilet, saya bilang air tidak mengalir,” ujarnya. Sama halnya dengan pedagang lain, Dewa Ayu juga tidak tahu penyebab air tidak mengalir. Padahal dia rutin bayar retribusi yang dipungut Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangli.

Kepala Bagian Hubungan Langganan PDAM Bangli Ida Bagus Putu Gangga Prawita mengatakan, PDAM harus memutus sambungan ke Pasar Loka Crana karena Dinas Perhubungan yang tercantum dalam rekening menunggak pembayaran Rp 13 juta. Tunggakan terhitung sejak Juli 2019. Sambungan diputus pada Desember 2020.

Terhadap tunggakan itu, lanjut dia, Dinas Perhubungan sudah bersurat ke PDAM. Pada intinya menyatakan bahwa tunggakan akan dilunasi tahun ini. Selanjutnya rekening akan dimutasi ke Disperindag. Namun hingga saat ini belum ada pelunasan. “Apabila sudah dilunasi baru dipasang kembali,” jelasnya.

Kepala Disperindag Kabupaten Bangli I Wayan Gunawan mengakui, air di Pasar Loka Crana tidak mengalir sejak beberapa bulan. Hal itu karena ada tunggakan dari Dinas Perhubungan. Dinas Perhubungan harus melunasi dulu tunggakan itu, baru bisa disambung lagi dan tanggung jawab dialihkan pembayaran ke Disperindag. “Otomatis teman-teman di Perhubungan harus membayar itu (tunggakan),” jelas Gunawan. “Kami sudah konfirmasi ke perhubungan, katanya akan dibayar,” imbuh Gunawan.


BANGLI, BALI EXPRESS- Pedagang di Pasar Loka Crana, Bangli tidak mendapat pelayanan air dari PDAM Bangli. Itu karena PDAM menyegel sambungan ke pasar itu pada Desember 2020. Penyegalan dilakukan lantaran  pemerintah menunggak pembayaran.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang kecewa. Selain tidak dapat air, mereka kecewa karena tidak ada pemberitahuan resmi dari dinas terkait soal penyebab tidak mengalirnya air. Tiba-tiba air di toilet maupun wastafel macet. Di sisi lain, pedagang tetap dikenakan retribusi. “Setiap berjualan kami bayar retribusi Rp 8.000 untuk pedagang kios. Dengan membayar itu, kami seharusnya mendapatkan pelayanan, seperti air,” protes salah seorang pedagang pakaian ditemui di pasar setempat, Senin (22/3).

Akibat tidak ada air, para pedagang harus bawa air sendiri. Ada yang menggunakan jerigen. Tak sedikit pula memanfaatkan botol air mineral. Sebab selama berjualan sekitar pukul 07.00-15.00, pasti sempat ke toilet. Minimal buang air kecil. “Makan saya sudah atur, biar tidak pengen BAB (buang air besar) di pasar karena bawa airnya sedikit,” terang perempuan yang enggan namanya dikorankan itu.

Salah seorang pedagang, Dewa Ayu mengaku membawa air dari rumahnya. Itu untuk mengantisipasi ketika kebelet BAB atau minimal buang air kecil. Sebab tidak mungkin dia harus bolak-balik ke rumahnya di Sidembunut, Kelurahan Cempaga, Bangli. “Kalau ada pengunjung mau ke toilet, saya bilang air tidak mengalir,” ujarnya. Sama halnya dengan pedagang lain, Dewa Ayu juga tidak tahu penyebab air tidak mengalir. Padahal dia rutin bayar retribusi yang dipungut Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangli.

Kepala Bagian Hubungan Langganan PDAM Bangli Ida Bagus Putu Gangga Prawita mengatakan, PDAM harus memutus sambungan ke Pasar Loka Crana karena Dinas Perhubungan yang tercantum dalam rekening menunggak pembayaran Rp 13 juta. Tunggakan terhitung sejak Juli 2019. Sambungan diputus pada Desember 2020.

Terhadap tunggakan itu, lanjut dia, Dinas Perhubungan sudah bersurat ke PDAM. Pada intinya menyatakan bahwa tunggakan akan dilunasi tahun ini. Selanjutnya rekening akan dimutasi ke Disperindag. Namun hingga saat ini belum ada pelunasan. “Apabila sudah dilunasi baru dipasang kembali,” jelasnya.

Kepala Disperindag Kabupaten Bangli I Wayan Gunawan mengakui, air di Pasar Loka Crana tidak mengalir sejak beberapa bulan. Hal itu karena ada tunggakan dari Dinas Perhubungan. Dinas Perhubungan harus melunasi dulu tunggakan itu, baru bisa disambung lagi dan tanggung jawab dialihkan pembayaran ke Disperindag. “Otomatis teman-teman di Perhubungan harus membayar itu (tunggakan),” jelas Gunawan. “Kami sudah konfirmasi ke perhubungan, katanya akan dibayar,” imbuh Gunawan.


Most Read

Artikel Terbaru

/