alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Usai Diedukasi, Melukis Wayang Klasik Kamasan Dilombakan di PKB

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tak saja menampilkan berbagai pergelaran seni unggulan dari sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bali. Namun juga menjadi salah satu wahana melestarikan gaya lukisan Wayang Klasik Kamasan dari Kabupaten Klungkung.

Jika pada pekan sebelumnya puluhan remaja Bali di ajang PKB telah dibekali teknik-teknik melukis Wayang Klasik Kamasan, maka Selasa (21/6) mereka beradu kepiawaian dalam Wimbakara (Lomba) Melukis Wayang Klasik Kamasan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali.

“Lomba lukisan klasik Wayang Kamasan ini orientasinya bagaimana melakukan pelestarian terhadap seni dan budaya,” kata I Wayan Gulendra selaku juri lomba lukis Wayang Klasik di sela-sela lomba.

Selain Gulendra, ada juga Made Benny Yuda dan Wayan Kondra yang terlibat sebagai dewan juri. Mereka bertiga merupakan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

“Melukis figur Wayang Kamasan tidak mudah. Kami akan lihat keutuhan karyanya, unsur-unsur pakemnya. Karena ada norma yang harus diikuti sesuai yang ada di Kamasan,” ujarnya pada lomba yang berlangsung selama tiga jam tersebut.

Dalam penilaiannya, para juri akan mengategorikan berdasarkan sisi warna, bentuk, ornamen, serta makna lukisan secara narasi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan para peserta dalam memahami seni tersebut.

Selain itu, sebelum berlomba para peserta dibekali aturan terkait tema Pesta Kesenian Bali ke-44, yaitu Danu Kerthi Huluning Amreta, Memuliakan Air Sumber Kehidupan. Lewat tema tersebut para peserta dapat mengembangkan pengetahuannya.

“Lukisan yang dibuat ada hubungannya tentang tema. Jadi, bagaimana peserta mengangkat tema misalnya kisah Bima Dewa Ruci, Tirta Kamandalu, atau garuda dengan naga. Biasanya yang sulit ketika anak-anak ini membangun pakem yang benar dan memahami cerita,” ujar Gulendra

Tiga orang pemenang akan dicari dalam lomba ini, tetapi menurut Gulendra, bukan juara yang menjadi acuan penyelenggara, melainkan upaya pendekatan dengan generasi muda untuk mau melanjutkan seni lukisan wayang.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tak saja menampilkan berbagai pergelaran seni unggulan dari sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bali. Namun juga menjadi salah satu wahana melestarikan gaya lukisan Wayang Klasik Kamasan dari Kabupaten Klungkung.

Jika pada pekan sebelumnya puluhan remaja Bali di ajang PKB telah dibekali teknik-teknik melukis Wayang Klasik Kamasan, maka Selasa (21/6) mereka beradu kepiawaian dalam Wimbakara (Lomba) Melukis Wayang Klasik Kamasan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali.

“Lomba lukisan klasik Wayang Kamasan ini orientasinya bagaimana melakukan pelestarian terhadap seni dan budaya,” kata I Wayan Gulendra selaku juri lomba lukis Wayang Klasik di sela-sela lomba.

Selain Gulendra, ada juga Made Benny Yuda dan Wayan Kondra yang terlibat sebagai dewan juri. Mereka bertiga merupakan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

“Melukis figur Wayang Kamasan tidak mudah. Kami akan lihat keutuhan karyanya, unsur-unsur pakemnya. Karena ada norma yang harus diikuti sesuai yang ada di Kamasan,” ujarnya pada lomba yang berlangsung selama tiga jam tersebut.

Dalam penilaiannya, para juri akan mengategorikan berdasarkan sisi warna, bentuk, ornamen, serta makna lukisan secara narasi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan para peserta dalam memahami seni tersebut.

Selain itu, sebelum berlomba para peserta dibekali aturan terkait tema Pesta Kesenian Bali ke-44, yaitu Danu Kerthi Huluning Amreta, Memuliakan Air Sumber Kehidupan. Lewat tema tersebut para peserta dapat mengembangkan pengetahuannya.

“Lukisan yang dibuat ada hubungannya tentang tema. Jadi, bagaimana peserta mengangkat tema misalnya kisah Bima Dewa Ruci, Tirta Kamandalu, atau garuda dengan naga. Biasanya yang sulit ketika anak-anak ini membangun pakem yang benar dan memahami cerita,” ujar Gulendra

Tiga orang pemenang akan dicari dalam lomba ini, tetapi menurut Gulendra, bukan juara yang menjadi acuan penyelenggara, melainkan upaya pendekatan dengan generasi muda untuk mau melanjutkan seni lukisan wayang.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/