alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Warga Tegal Badeng Cemas, Bayi Meninggal Diduga DBD

NEGARA, BALI EXPRESS – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kini  membuat resah warga Jembrana, selain menghadapi pandemi Covid-19.

Apalagi berkembang informasi seorang bayi usia 7 bulan yang tinggal di perumahan di Tegal Badeng Timur meninggal dunia di RS Negara, Selasa (21/7) sore, karena diduga kena demam berdarah. Bahkan, yang makin membuat warga di perumahan Tegal Badeng Timur was-was, secara tiba-tiba pada Rabu (22/7) pagi ada fogging mendadak di sekitar perumahan dan tempat tinggal orang tua bayi yang meninggal tersebut.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  pada Dinas Kesehatan Jembrana dr. I Gusti Agung Putu Arishanta, mengatakan, pihaknya sudah berupaya menelusuri kebenaran informasi bayi yang diinformasikan demam berdarah tersebut. Dari hasil konfirmasi petugas, bayi tersebut sebelumnya sempat dibawa ke Puskesmas Pengambengan lalu dirujuk ke RS Negara. “Bayi tersebut memang meninggal. Ada panas dan batuk juga. Tapi hasil pemeriksaan dokter kena radang selaput otak. Bukan demam berdarah,” jelasnya.

Sementara itu, disinggung terkait dengan adanya fogging yang dilaksanakan, dakuinya memang terkait kasus mewabahnya demam berdarah di perumahan tersebut. Karena sebelumnya beberapa kali ada yang kena demam berdarah. Demikian juga terkait informasi warga Medewi yang kena demam berdarah dan meninggal dunia, dijelaskan Arisantah, juga bukan karena DBD, namun karena infeksi bakteri secara menyeluruh. Dari data di Dinas Kesehatan, kasus DBD tahun 2020 dari Januari hingga saat ini, sudah mencapai 179 kasus. Yang meninggal dunia dua orang.

Menurut Arisantha, untuk mencegah makin meluasnya kasus DBD, selain melakukan pemberantasan jentik nyamuk, juga dilakukan kegiatan fogging. Fogging dimaksudkan untuk meminimalisasi sebaran nyamuk Aedes Aegypti di tengah-tengah masyarakat. “Ini kami lakukan secara rutin di daerah-daerah yang disinyalisasi rawan dari wabah nyamuk itu,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Bupati Jembrana I Putu Artha  sebelumnya mengatakan, saat ini semua warga masyarakat masih fokus  terhadap virus Konona saja. Sementara mengabaikan dampak dari wabah penyakit menular lainya. “Saat ini semua masyarakat lagi booming dengan Virus Korona, padahal penyakit lainnya, seperti Rabies dan Demam Berdarah Dengue (DBD) harus diwaspadai lantaran wabah-wabah penyakit ini sangat membahayakan, bahkan telah banyak memakan korban jiwa,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi wabah penyakit menular ini, Artha menegaskan kepada dinas terkait agar dalam penanganannya dilaksanakan secara seimbang. Dinas terkait, lanjutnya, harus sigap dan tanggap dalam melakukan penangan. Karena wabah ini memiliki tingkat keganasan yang sama (mematikan).

Lain halnya dengan covid-19 yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya, tetapi tidak untuk DBD dan Rabies yang obatnya sudah ada. “Untuk itu saya instruksikan kepada dinas terkait agar melakukan langkah-langkah penanganan yang cepat, sehingga warga masyarakat tidak tertular oleh penyakit-penyakit yang bisa mematikan itu,” tegasnya.

Selain itu, Artha juga mengimbau warga untuk mengintensifkan pencegahan DBD. Diantaranya dengan mengintensifkan gerakan 3 M plus di lingkungan masing-masing . “Ini cara sederhana dalam mencegah DBD , namun efektif dan bisa dilakukan secara bersama. Dengan menguras dan menyikat, menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan barang -barang bekas yang tak terpakai agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” pungkasnya.


NEGARA, BALI EXPRESS – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kini  membuat resah warga Jembrana, selain menghadapi pandemi Covid-19.

Apalagi berkembang informasi seorang bayi usia 7 bulan yang tinggal di perumahan di Tegal Badeng Timur meninggal dunia di RS Negara, Selasa (21/7) sore, karena diduga kena demam berdarah. Bahkan, yang makin membuat warga di perumahan Tegal Badeng Timur was-was, secara tiba-tiba pada Rabu (22/7) pagi ada fogging mendadak di sekitar perumahan dan tempat tinggal orang tua bayi yang meninggal tersebut.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  pada Dinas Kesehatan Jembrana dr. I Gusti Agung Putu Arishanta, mengatakan, pihaknya sudah berupaya menelusuri kebenaran informasi bayi yang diinformasikan demam berdarah tersebut. Dari hasil konfirmasi petugas, bayi tersebut sebelumnya sempat dibawa ke Puskesmas Pengambengan lalu dirujuk ke RS Negara. “Bayi tersebut memang meninggal. Ada panas dan batuk juga. Tapi hasil pemeriksaan dokter kena radang selaput otak. Bukan demam berdarah,” jelasnya.

Sementara itu, disinggung terkait dengan adanya fogging yang dilaksanakan, dakuinya memang terkait kasus mewabahnya demam berdarah di perumahan tersebut. Karena sebelumnya beberapa kali ada yang kena demam berdarah. Demikian juga terkait informasi warga Medewi yang kena demam berdarah dan meninggal dunia, dijelaskan Arisantah, juga bukan karena DBD, namun karena infeksi bakteri secara menyeluruh. Dari data di Dinas Kesehatan, kasus DBD tahun 2020 dari Januari hingga saat ini, sudah mencapai 179 kasus. Yang meninggal dunia dua orang.

Menurut Arisantha, untuk mencegah makin meluasnya kasus DBD, selain melakukan pemberantasan jentik nyamuk, juga dilakukan kegiatan fogging. Fogging dimaksudkan untuk meminimalisasi sebaran nyamuk Aedes Aegypti di tengah-tengah masyarakat. “Ini kami lakukan secara rutin di daerah-daerah yang disinyalisasi rawan dari wabah nyamuk itu,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Bupati Jembrana I Putu Artha  sebelumnya mengatakan, saat ini semua warga masyarakat masih fokus  terhadap virus Konona saja. Sementara mengabaikan dampak dari wabah penyakit menular lainya. “Saat ini semua masyarakat lagi booming dengan Virus Korona, padahal penyakit lainnya, seperti Rabies dan Demam Berdarah Dengue (DBD) harus diwaspadai lantaran wabah-wabah penyakit ini sangat membahayakan, bahkan telah banyak memakan korban jiwa,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi wabah penyakit menular ini, Artha menegaskan kepada dinas terkait agar dalam penanganannya dilaksanakan secara seimbang. Dinas terkait, lanjutnya, harus sigap dan tanggap dalam melakukan penangan. Karena wabah ini memiliki tingkat keganasan yang sama (mematikan).

Lain halnya dengan covid-19 yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya, tetapi tidak untuk DBD dan Rabies yang obatnya sudah ada. “Untuk itu saya instruksikan kepada dinas terkait agar melakukan langkah-langkah penanganan yang cepat, sehingga warga masyarakat tidak tertular oleh penyakit-penyakit yang bisa mematikan itu,” tegasnya.

Selain itu, Artha juga mengimbau warga untuk mengintensifkan pencegahan DBD. Diantaranya dengan mengintensifkan gerakan 3 M plus di lingkungan masing-masing . “Ini cara sederhana dalam mencegah DBD , namun efektif dan bisa dilakukan secara bersama. Dengan menguras dan menyikat, menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan barang -barang bekas yang tak terpakai agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/