alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Narkotika dan Pencurian Dominasi Kasus Kejahatan di Tabanan

TABANAN, BALI EXPRESS – Selama semester satu tahun 2022 Polres Tabanan mencatat tiga kasus kejahatan yang menduduki posisi lima besar. Yakni, penyalahgunaan narkotika, kasus pencurian, kasus penganiayaan, kasus curanmor dan kasus curat.

Dari lima kasus kejahatan tersebut, rinci Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra, penyalahgunaan narkotika menempati urutan pertama, yakni sebanyak 27 kasus, dilanjutkan dengan kasus pencurian biasa sebanyak 24 kasus, kasus penganiayaan sebanyak 14 kasus, kasus curanmor sebanyak 14 kasus dan kasus curat sebanyak 8 kasus.

“Dari total kasus tersebut, sebagian besar bisa diungkap oleh jajaran Polres Tabanan, seperti kasus narkoba. Dari 27 kasus yang ditangani, 22 kasus di antaranya berhasil diungkap oleh team Satuan Narkotika Polres Tabanan,” jelasnya, Kamis (21/7).

Baca Juga :  Rutan Overload, Wacana Pemindahan Belum Pasti

Selanjutnya, untuk kasus pencurian, dari 24 kasus, 22 di antaranya berhasil diungkap. Dari 15 kasus penganiayaan, 14 kasus bisa diungkap. Sedangkan untuk kasus curanmor, dan dari 14 kasus, 13 diantaranya bisa diungkap.

Sementara untuk kasus curat yang jumlahnya mencapai 8 kasus, keseluruhan bisa diungkap. Khusus untuk trend kejahatan narkotika, Kapolres Renefli mengakui, mengalami peningkatan hingga 30 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021. Dari proses pengungkaan kasus penyalahgunaan narkotika, Renefli menyebutkan, yang tertangkap sebagian besar adalah para pengguna.

Persentasenya, rinci Renefli, selama satu semester tahun 2022, jumlah pengguna yang ditangkap mencapai 50 persen dari total jumlah kasus narkotika. “Sedangkan 30 persen lainnya adalah pengedar dan 20 persen adalah bandar narkotika,” lanjutnya.

Baca Juga :  PKK Tabanan Kenalkan Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Yang Lain

Penelusuran dan penangkapan terhadap bandar narkotika di Tabanan, diakui Renefli, memang cukup sulit. Karena jaringan peredaran narkotika di Kabupaten Lumbung Beras ini sangat tertutup dan banyak modus baru.

“Salah satu yang membuat kami kesulitan adalah sering ditemukan kasus blokir nomor telepon ketika si pengguna ditangkap. Inilah yang membuat penyelidikan terputus. Namun seiring kecanggihan teknologi, kami tetap berupaya melakukan penelusuran, sehingga pengungkapan kasus narkotika bisa mencapai 75 persen,” pungkasnya.

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

TABANAN, BALI EXPRESS – Selama semester satu tahun 2022 Polres Tabanan mencatat tiga kasus kejahatan yang menduduki posisi lima besar. Yakni, penyalahgunaan narkotika, kasus pencurian, kasus penganiayaan, kasus curanmor dan kasus curat.

Dari lima kasus kejahatan tersebut, rinci Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra, penyalahgunaan narkotika menempati urutan pertama, yakni sebanyak 27 kasus, dilanjutkan dengan kasus pencurian biasa sebanyak 24 kasus, kasus penganiayaan sebanyak 14 kasus, kasus curanmor sebanyak 14 kasus dan kasus curat sebanyak 8 kasus.

“Dari total kasus tersebut, sebagian besar bisa diungkap oleh jajaran Polres Tabanan, seperti kasus narkoba. Dari 27 kasus yang ditangani, 22 kasus di antaranya berhasil diungkap oleh team Satuan Narkotika Polres Tabanan,” jelasnya, Kamis (21/7).

Baca Juga :  Rutan Overload, Wacana Pemindahan Belum Pasti

Selanjutnya, untuk kasus pencurian, dari 24 kasus, 22 di antaranya berhasil diungkap. Dari 15 kasus penganiayaan, 14 kasus bisa diungkap. Sedangkan untuk kasus curanmor, dan dari 14 kasus, 13 diantaranya bisa diungkap.

Sementara untuk kasus curat yang jumlahnya mencapai 8 kasus, keseluruhan bisa diungkap. Khusus untuk trend kejahatan narkotika, Kapolres Renefli mengakui, mengalami peningkatan hingga 30 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021. Dari proses pengungkaan kasus penyalahgunaan narkotika, Renefli menyebutkan, yang tertangkap sebagian besar adalah para pengguna.

Persentasenya, rinci Renefli, selama satu semester tahun 2022, jumlah pengguna yang ditangkap mencapai 50 persen dari total jumlah kasus narkotika. “Sedangkan 30 persen lainnya adalah pengedar dan 20 persen adalah bandar narkotika,” lanjutnya.

Baca Juga :  Trio Aljazair Pencuri Tas di Kuta Dituntut 1,5 Tahun

Penelusuran dan penangkapan terhadap bandar narkotika di Tabanan, diakui Renefli, memang cukup sulit. Karena jaringan peredaran narkotika di Kabupaten Lumbung Beras ini sangat tertutup dan banyak modus baru.

“Salah satu yang membuat kami kesulitan adalah sering ditemukan kasus blokir nomor telepon ketika si pengguna ditangkap. Inilah yang membuat penyelidikan terputus. Namun seiring kecanggihan teknologi, kami tetap berupaya melakukan penelusuran, sehingga pengungkapan kasus narkotika bisa mencapai 75 persen,” pungkasnya.

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/