alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Antimainstream, Lomba Layangan Diterbangkan dari Rumah Masing-masing

GIANYAR, BALI EXPRESS – Tetap ada cara untuk menjalankan hobi sekaligus melestarikan tradisi layang-layang sekalipun di masa pandemi seperti saat ini. Seperti halnya lomba layangan yang  yang digelar Sekha Truna Truni (STT) Sukma Kesuma di Banjar Tebesaya, Gianyar ini. Dimana peserta cukup menaikkan layang-layang di pekarangan rumah masing-masing tanpa harus berkumpul di areal lapang.

Dari pantauan di lapangan Sabtu (21/8), ratusan layang-layang celepuk mengudara di langit Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Ubud. Ketua Panitia Lomba, I Kadek Surya Wijaya menjelaskan bahwa lomba layang-layang yang digelar pihaknya memang tergolong unik. Teknisnya seluruh peserta yang sudah terdaftar diwajibkan menaikkan layangan dari rumahnya masing-masing dengan menggunakan tiang bambu. “Dan layangan yang dilombakan hanya jenis Celepuk. Kenapa celepuk? Karena layangan ini relatif stabil untuk menghindari resiko gangguan terhadap fasilitas umum yang ada disekitar,” ujarnya.

Menurutnya, lomba tersebut digelar 

serangkaian dengan perayaan HUT RI ke-76 sekaligus HUT STT Suksma Kesuma Banjar Tebesaya. Namun karena saat ini masih dalam situasi pandemi serta PPKM, maka pihaknya mencoba mengkemas lomba ini dengan konsep yang berbeda. “Sebab kalau digelar sebagaimana lomba umumnya, protokol kesehatan akan sulit diawasi. Sedangkan kami ingin bisa memberi ruang kepada teman-teman khususnya penghobi layang-layang untuk tetap bisa menjalankan hobinya di tengah PPKM ini, tapi dengan jaminan prokes Covid-19 tetap diterapkan secara disiplin,” paparnya.

Maka dari itu dengan menyesuaikan karakter angin di daerah pemukiman, pihaknya akhirnya memilih layangan celepuk untuk dilombakan. Dan untuk tetap memberikan ruang kreativitas, ada 3 jenis layangan celepuk yang dilombakan, yaitu jenis polos, chatting dan air brush.

Pihaknya pun tak menyangka jika lomba itu disambut antusias warga. Dimana peserta yang berminat hingga ratusan orang. “Namun peserta yang ikut kami batasi yakni 140 peserta.  Ada beberapa peserta dari luar banjar namun tetap berkolaborasi dengan warga disini,”  sambungnya.

Dan guna memastikan lomba berjalan dengan lancar tanpa menimbulkan gangguan fasilitas umum, pihaknya terpaksa harus mendiskualifikasi peserta yang menaikkan layangan di titik- titik berisiko, seperti misalnya dekat jaringan PLN. “Bahkan sebelum lomba di mulai,  kami sudah tekankan ini. Sebab melalui lomba ini kami juga berharap dapat menumbuhkan kesadaran teman-teman utamanya penghobi layangan harus tetap mengutamakan keselamatan dan menghindari gangguan yang bisa ditimbulkan ketika menaikkan layang-layang,” beber Wijaya.

Disamping itu, kata dia lomba layangan ini juga dijadikan momentum oleh  generasi muda setempat untuk dapat mempererat tali persaudaraan. “Selain itu,  diharapkan berdampak juga dengan perputaran ekonomi yang ada di wilayah ini,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Tetap ada cara untuk menjalankan hobi sekaligus melestarikan tradisi layang-layang sekalipun di masa pandemi seperti saat ini. Seperti halnya lomba layangan yang  yang digelar Sekha Truna Truni (STT) Sukma Kesuma di Banjar Tebesaya, Gianyar ini. Dimana peserta cukup menaikkan layang-layang di pekarangan rumah masing-masing tanpa harus berkumpul di areal lapang.

Dari pantauan di lapangan Sabtu (21/8), ratusan layang-layang celepuk mengudara di langit Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Ubud. Ketua Panitia Lomba, I Kadek Surya Wijaya menjelaskan bahwa lomba layang-layang yang digelar pihaknya memang tergolong unik. Teknisnya seluruh peserta yang sudah terdaftar diwajibkan menaikkan layangan dari rumahnya masing-masing dengan menggunakan tiang bambu. “Dan layangan yang dilombakan hanya jenis Celepuk. Kenapa celepuk? Karena layangan ini relatif stabil untuk menghindari resiko gangguan terhadap fasilitas umum yang ada disekitar,” ujarnya.

Menurutnya, lomba tersebut digelar 

serangkaian dengan perayaan HUT RI ke-76 sekaligus HUT STT Suksma Kesuma Banjar Tebesaya. Namun karena saat ini masih dalam situasi pandemi serta PPKM, maka pihaknya mencoba mengkemas lomba ini dengan konsep yang berbeda. “Sebab kalau digelar sebagaimana lomba umumnya, protokol kesehatan akan sulit diawasi. Sedangkan kami ingin bisa memberi ruang kepada teman-teman khususnya penghobi layang-layang untuk tetap bisa menjalankan hobinya di tengah PPKM ini, tapi dengan jaminan prokes Covid-19 tetap diterapkan secara disiplin,” paparnya.

Maka dari itu dengan menyesuaikan karakter angin di daerah pemukiman, pihaknya akhirnya memilih layangan celepuk untuk dilombakan. Dan untuk tetap memberikan ruang kreativitas, ada 3 jenis layangan celepuk yang dilombakan, yaitu jenis polos, chatting dan air brush.

Pihaknya pun tak menyangka jika lomba itu disambut antusias warga. Dimana peserta yang berminat hingga ratusan orang. “Namun peserta yang ikut kami batasi yakni 140 peserta.  Ada beberapa peserta dari luar banjar namun tetap berkolaborasi dengan warga disini,”  sambungnya.

Dan guna memastikan lomba berjalan dengan lancar tanpa menimbulkan gangguan fasilitas umum, pihaknya terpaksa harus mendiskualifikasi peserta yang menaikkan layangan di titik- titik berisiko, seperti misalnya dekat jaringan PLN. “Bahkan sebelum lomba di mulai,  kami sudah tekankan ini. Sebab melalui lomba ini kami juga berharap dapat menumbuhkan kesadaran teman-teman utamanya penghobi layangan harus tetap mengutamakan keselamatan dan menghindari gangguan yang bisa ditimbulkan ketika menaikkan layang-layang,” beber Wijaya.

Disamping itu, kata dia lomba layangan ini juga dijadikan momentum oleh  generasi muda setempat untuk dapat mempererat tali persaudaraan. “Selain itu,  diharapkan berdampak juga dengan perputaran ekonomi yang ada di wilayah ini,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/