alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Kepincut Porang, Pemkab Tabanan Rencanakan Bikin Pabrik

TABANAN, BALI EXPRESS – Porang menjadi tanaman yang lagi seksi. Budidayanya digemakan sebagai tanaman pangan alternatif. Dalam beberapa kesempatan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, ikut mempopulerkan tanaman pangan ini.

 

Tanaman ini juga membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berencana memiliki pabrik pengolahannya. Arah ke sana juga sedang dipersiapkan. Paling tidak, pada 2022 mendatang, rencana itu bisa difasilitasi Kementerian Pertanian RI. Sehingga pembangunan pabrik pengolahan itu bisa didanai Pemerintah Pusat.

 

“Kebetulan rekan-rekan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) ada wacana di 2022 akan memfasilitasinya ke Pemerintah Pusat. Saat ini lagi proses untuk melengkapi persyaratannya,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana, Minggu (22/8).

 

Bahkan, menurut dia, hari ini Disperindag bersama pihaknya akan melakukan studi lapangan di Buleleng. Melihat langsung salah satu pabrik pengolahan di daerah tersebut.

 

“Sebetulnya dua minggu lalu. Karena Pak Asisten II yang memimpin rombongan ada kesibukan sehingga fiksnya besok (hari ini),” imbuhnya.

 

Mengenai potensi porang di Tabanan, menurut Budana, luas tanamnya mencapai 939 hektar. Hanya saja, tanaman ini dibudidayakan secara tumpang sari pada kebun-kebun milik masyarakat atau kelompok petani perkebunan.

 

“(Ditanam) di sela tanaman yang sudah ada. Bisa kopi atau cokelat. Jarang yang sampai hektaran atau istilahnya monokultur,” jelas Budana.

 

Sejauh ini, luas tanam terbesar ada di Kecamatan Selemadeg Barat. Luasnya mencapai 439 hektar. Selebihnya menyebar di kecamatan lainnya. Dan yang paling sempit luasnya ada di Kecamatan Tabanan.

 

Dari sisi penjualan, petaninya sejauh ini langsung berhubungan dengan pengepulnya. Harga jualnya pun berkisar di antara Rp 6 sampai 7 ribu perkilogram. “Sebelumnya sempat sampai Rp 12 ribu perkilogram,” sebutnya.

 

Dengan tren saat ini ditambah arahan pusat serta Bupati Sanjaya secara langsung, porang ke depannya akan dikembangkan. Untuk menunjang pengembangannya, pada tahun anggaran ini pemerintah mencurahkan hibah anggaran kepada empat poktan untuk membeli bibit. Bahkan satu kelompok menerima bantuan langsung dari Kementerian Pertanian.

 

“Total ada lima kelompok jadinya. Empat kelompok penerima hibah dari kabupaten. Satu kelompok dari Kementerian Pertanian. Bentuknya anggaran. Nilainya rata-rata seratusan juta rupiah. Anggaran ini untuk pembelian bibit,” pungkasnya.


TABANAN, BALI EXPRESS – Porang menjadi tanaman yang lagi seksi. Budidayanya digemakan sebagai tanaman pangan alternatif. Dalam beberapa kesempatan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, ikut mempopulerkan tanaman pangan ini.

 

Tanaman ini juga membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berencana memiliki pabrik pengolahannya. Arah ke sana juga sedang dipersiapkan. Paling tidak, pada 2022 mendatang, rencana itu bisa difasilitasi Kementerian Pertanian RI. Sehingga pembangunan pabrik pengolahan itu bisa didanai Pemerintah Pusat.

 

“Kebetulan rekan-rekan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) ada wacana di 2022 akan memfasilitasinya ke Pemerintah Pusat. Saat ini lagi proses untuk melengkapi persyaratannya,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana, Minggu (22/8).

 

Bahkan, menurut dia, hari ini Disperindag bersama pihaknya akan melakukan studi lapangan di Buleleng. Melihat langsung salah satu pabrik pengolahan di daerah tersebut.

 

“Sebetulnya dua minggu lalu. Karena Pak Asisten II yang memimpin rombongan ada kesibukan sehingga fiksnya besok (hari ini),” imbuhnya.

 

Mengenai potensi porang di Tabanan, menurut Budana, luas tanamnya mencapai 939 hektar. Hanya saja, tanaman ini dibudidayakan secara tumpang sari pada kebun-kebun milik masyarakat atau kelompok petani perkebunan.

 

“(Ditanam) di sela tanaman yang sudah ada. Bisa kopi atau cokelat. Jarang yang sampai hektaran atau istilahnya monokultur,” jelas Budana.

 

Sejauh ini, luas tanam terbesar ada di Kecamatan Selemadeg Barat. Luasnya mencapai 439 hektar. Selebihnya menyebar di kecamatan lainnya. Dan yang paling sempit luasnya ada di Kecamatan Tabanan.

 

Dari sisi penjualan, petaninya sejauh ini langsung berhubungan dengan pengepulnya. Harga jualnya pun berkisar di antara Rp 6 sampai 7 ribu perkilogram. “Sebelumnya sempat sampai Rp 12 ribu perkilogram,” sebutnya.

 

Dengan tren saat ini ditambah arahan pusat serta Bupati Sanjaya secara langsung, porang ke depannya akan dikembangkan. Untuk menunjang pengembangannya, pada tahun anggaran ini pemerintah mencurahkan hibah anggaran kepada empat poktan untuk membeli bibit. Bahkan satu kelompok menerima bantuan langsung dari Kementerian Pertanian.

 

“Total ada lima kelompok jadinya. Empat kelompok penerima hibah dari kabupaten. Satu kelompok dari Kementerian Pertanian. Bentuknya anggaran. Nilainya rata-rata seratusan juta rupiah. Anggaran ini untuk pembelian bibit,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/