28.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

Korban Meledaknya Kompor Mayat di Belega Meninggal Dunia

Dikenal Periang dan Mudah Bergaul, Warga Banjar Selat Kehilangan Sosok Gian

GIANYAR, BALI EXPRESS – Insiden meledaknya kompor mayat dalam upacara Ngaben Massal di Setra Desa Adat Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, menewaskan dua orang korbannya. Selain Bagus Oscar asal Banjar Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar yang merupakan tukang kompor mayat tersebut, juga ada Kadek Gian Pramana Putra , 15, asal Banjar Selat, Desa Belega, yang meregang nyawa setelah sempat mendapatkan perawatan di RSUP Prof. Ngoerah (sebelumnya RSUP Sanglah).

 

Usianya masih terbilang remaja, namun kenangannya bersama warga di Banjar Selat tak mudah dilupakan. Ia dikenal sebagai anak yang periang dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sehingga kabar meninggalnya remaja yang akrab disapa Gian itu pun tak hanya membuat keluarganya sedih, namun warga setempat juta ikut berduka. “Bahkan dada saya terasa sesak saat denga informasi kalau Gian meninggal. Gian ini sudah saya anggap sebagai anak sendiri, dia sering bermain sama anak saya,” ujar I Komang Gading, salah seorang warga Banjar Selat yang juga Pecalang Desa Adat Selat Belega, Senin (22/8).

Baca Juga :  Korban Ledakan Kompor Mayat Berangsur Pulih, Dinsos Gelontor Sembako

 

Kesedihan yang ia rasakan pun membawanya kembali teringat insiden yang terjadi Jumat petang (19/8). Dimana setelah ledakan, Gian yang tersambar api langsung berlari ke rumah warga dalam kondisi api masih menyala ditubuhnya. Gading bersama warga lainnya ikut berlari mengejar Gian dengan maksud membantu Gian agar apinya padam. Namun api terlanjur membakar tubuhnya hingga ia mengalami luka bakar mencapai 90 persen dan harus dirujuk ke RSUP Prof Ngoerah. Sayangnya, setelah sempat berjuang Gian dinyatakan meninggal dunia. “Waktu itu situasinya sangat krodit, semua orang panik. Setelah kejadian, semua warga yang punya kendaraan ikut membawa para korban ke rumah sakit. Mobil patroli polisi yang kebetulan lewat juga banyak membawa korban ke rumah sakit,” kenangnya.

 

Gian sendiri merupakan anak kedua dikeluarga dan semasa hidupnya gemar bermain voli. Selama ini remaja tersebut dibesarkan oleh ibunya pasca ayahnya meninggal karena sakit sekitar tiga tahun lalu. “Anak ini orangnya baik. Saya sangat kehilangan karena sudah seperti anak sendiri,” sebutnya.

Baca Juga :  Desa Sebali Ngaben Massal Setiap 5 Tahun

 

Ditambahkan oleh Bendesa Selat Belega, I Made Arto, jenazah Gian selanjutnya akan diaben Selasa (23/8) di Setra Desa Adat Belega. Pihak krama pun telah menyiapkan sarana prasarana sejak Minggu kemarin. Seperti dresta yang ada di Desa Adat Selat, pengabenan Gian akan menggunakan petulangan Singa Merah sebagai keturunan Arya Tan Mundur. Hanya saja karena keterbatasan waktu, diputuskan untuk membeli petulangan diluar. “Krama sudah tedun membuat sarana upakara pengabenan sejak kemarin,. Tapi untuk petulangannya, karena terkendala waktu, diputuskan untuk membeli di luar,” tegasnya.

 

 

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika Pengabenan Gian akan berlangsung di Setra Desa Adat Belega sejak pagi, namun kemungkinan pembakaran akan berlangsung siang hari. Pembakaran pun juga tetap menggunakan kompor mayat. “Tetapi untuk mengantisipasi hal seperti kemarin terjadi lagi, akan disiagakan mobil pemadam kebakaran. Mohon doanya agar upacara ngaben besok berjalan lancar,” tandasnya.

 

Sementara itu, pihak keluarga dari Gian masih sangat terpukul atas kepergian remaja tersebut, sehingga belum bisa dimintai keterangan.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Insiden meledaknya kompor mayat dalam upacara Ngaben Massal di Setra Desa Adat Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, menewaskan dua orang korbannya. Selain Bagus Oscar asal Banjar Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar yang merupakan tukang kompor mayat tersebut, juga ada Kadek Gian Pramana Putra , 15, asal Banjar Selat, Desa Belega, yang meregang nyawa setelah sempat mendapatkan perawatan di RSUP Prof. Ngoerah (sebelumnya RSUP Sanglah).

 

Usianya masih terbilang remaja, namun kenangannya bersama warga di Banjar Selat tak mudah dilupakan. Ia dikenal sebagai anak yang periang dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sehingga kabar meninggalnya remaja yang akrab disapa Gian itu pun tak hanya membuat keluarganya sedih, namun warga setempat juta ikut berduka. “Bahkan dada saya terasa sesak saat denga informasi kalau Gian meninggal. Gian ini sudah saya anggap sebagai anak sendiri, dia sering bermain sama anak saya,” ujar I Komang Gading, salah seorang warga Banjar Selat yang juga Pecalang Desa Adat Selat Belega, Senin (22/8).

Baca Juga :  Dunia Kreatif Denpasar Kehilangan Kang Ayip

 

Kesedihan yang ia rasakan pun membawanya kembali teringat insiden yang terjadi Jumat petang (19/8). Dimana setelah ledakan, Gian yang tersambar api langsung berlari ke rumah warga dalam kondisi api masih menyala ditubuhnya. Gading bersama warga lainnya ikut berlari mengejar Gian dengan maksud membantu Gian agar apinya padam. Namun api terlanjur membakar tubuhnya hingga ia mengalami luka bakar mencapai 90 persen dan harus dirujuk ke RSUP Prof Ngoerah. Sayangnya, setelah sempat berjuang Gian dinyatakan meninggal dunia. “Waktu itu situasinya sangat krodit, semua orang panik. Setelah kejadian, semua warga yang punya kendaraan ikut membawa para korban ke rumah sakit. Mobil patroli polisi yang kebetulan lewat juga banyak membawa korban ke rumah sakit,” kenangnya.

 

Gian sendiri merupakan anak kedua dikeluarga dan semasa hidupnya gemar bermain voli. Selama ini remaja tersebut dibesarkan oleh ibunya pasca ayahnya meninggal karena sakit sekitar tiga tahun lalu. “Anak ini orangnya baik. Saya sangat kehilangan karena sudah seperti anak sendiri,” sebutnya.

Baca Juga :  Setelah Rapat Semesteran, Anggota DSD/SDS Megibung di Karangasem

 

Ditambahkan oleh Bendesa Selat Belega, I Made Arto, jenazah Gian selanjutnya akan diaben Selasa (23/8) di Setra Desa Adat Belega. Pihak krama pun telah menyiapkan sarana prasarana sejak Minggu kemarin. Seperti dresta yang ada di Desa Adat Selat, pengabenan Gian akan menggunakan petulangan Singa Merah sebagai keturunan Arya Tan Mundur. Hanya saja karena keterbatasan waktu, diputuskan untuk membeli petulangan diluar. “Krama sudah tedun membuat sarana upakara pengabenan sejak kemarin,. Tapi untuk petulangannya, karena terkendala waktu, diputuskan untuk membeli di luar,” tegasnya.

 

 

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika Pengabenan Gian akan berlangsung di Setra Desa Adat Belega sejak pagi, namun kemungkinan pembakaran akan berlangsung siang hari. Pembakaran pun juga tetap menggunakan kompor mayat. “Tetapi untuk mengantisipasi hal seperti kemarin terjadi lagi, akan disiagakan mobil pemadam kebakaran. Mohon doanya agar upacara ngaben besok berjalan lancar,” tandasnya.

 

Sementara itu, pihak keluarga dari Gian masih sangat terpukul atas kepergian remaja tersebut, sehingga belum bisa dimintai keterangan.


Most Read

Artikel Terbaru