alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Klaster Perkantoran Dominasi Kasus Covid-19 di Denpasar

DENPASAR, BALI EXPRESS –  Setelah klaster pasar dan upacara, klaster baru penyebaran Covid-19 terjadi di perkantoran. Penyebaran klaster baru tersebut mulai terjadi sejak 1 September. Tercatat 74 orang ASN, TNI maupun Polri yang dinyatakan positif Covid-19 di Denpasar. Sementara pegawai swasta dan BUMN sebanyak 138 orang. Sedangkan tenaga medis tercatat 50 orang.

Data tersebut disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai, Selasa (22/9) pagi. Dijelaskan, belasan kantor di Denpasar jadi klaster penyebaran Covid-19. Sebanyak 138 pegawai swasta dan BUMN positif Covid-19 sejak awal September. Perkantoran tersebut mulai dari kantor milik pemerintah maupun kantor milik swasta ataupun BUMN.

“Setelah sebelumnya didominasi klaster pedagang pasar, kini pegawai swasta dan BUMN menjadi klaster baru Covid-19 di Kota Denpasar,” kata Dewa Rai.

Ia menjelaskan, hal ini terjadi karena Kota Denpasar merupakan simpul pergerakan berbagai bidang kegiatan dan sebagai pusat perkantoran baik instansi vertikal maupun BUMN . “Hal ini perlu menjadi catatan bersama. Berbagai sektor mulai perekonomian, jasa dan lainnya turut bergerak di Kota Denpasar. Sehingga dalam situasi merebaknya Covid-19 saat ini diperlukan tingkat kewaspadaan yang ekstra,” katanya.

Berdasarkan data, Dewa Rai menjelaskan, klaster pedagang pasar cenderung mengalami penurunan. Namun, klaster pegawai swasta dan BUMN mengalami peningkatan. “Pegawai swasta dan BUMN mencapai 27,5 persen dari total jumlah pasien. Sementara sisanya terbagi atas beberapa klaster profesi, yakni PNS, TNI/Polri, pensiunan, tenaga medis, PRT, pedagang, ibu rumah tangga dan profesi lainnya,” katanya.

Dalam pengaturan pola kerja pegawai untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19, pihak GTPP mengimbau instansi swasta dan BUMN untuk menerapkan pengaturan jam kerja pegawai mengikuti surat edaran (SE) walikota dengan berpedoman pada zona resiko wilayah.

“Jadi dalam menerapkan pola kerja bisa menyesuaikan luas ruangan dengan jumlah pegawai, dan bisa juga mengikuti SE walikota dengan berpedoman pada zona resiko wilayah masing-masing desa/kelurahan, di mana kantor berlokasi. Jadi mari lebih waspada bersama, dan disiplin melakukan protokol kesehatan,” tambahnya.

Selain pasien yang terkonfirmasi positif dari klaster perkatoran, Kota Denpasar juga menyimpan 2.000 orang tanpa gejala (OTG). Sebanyak 60 persen di antaranya mengantongi identitas luar Denpasar. Mereka tinggal di Denpasar dengan berbagai profesi. OTG inilah yang berpotensi menjadi penular Covid-19. “Jika satu orang positif, maka orang terdekatnya langsung menjadi OTG,” tegasnya.

Dewa Rai mengatakan, semestinya mereka yang berstatus OTG ini melakukan isolasi mandiri selama minimal 14 hari. Akan tetapi banyak yang melanggar dan tidak memperhatikan protokol kesehatan. Hal itulah yang menjadi pemicu meningkatnya kasus positif Covid-19. “Padahal protokol kesehatan sudah dilaksanakan dengan ketat. Terus kami juga sudah gencar pengawasan, tapi kasus masih naik. OTG yang tak melakukan isolasi inilah penyebabnya,” katanya.

Oleh karena itu, sesuai instruksi dari Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, semua pihak harus ikut menekan kasus positif Covid-19. Pihaknya pun melibatkan jumantik, sekaa teruna, karang taruna, kader Posyandu, hingga PKK. Apalagi saat ini semua profesi sudah terpapar Covid-19. “Dari kluster tenaga medis, lanjut ke kluster pasar, upacara, perkantoran, dan kini ke pegawai dan karyawan swasta,” katanya.


DENPASAR, BALI EXPRESS –  Setelah klaster pasar dan upacara, klaster baru penyebaran Covid-19 terjadi di perkantoran. Penyebaran klaster baru tersebut mulai terjadi sejak 1 September. Tercatat 74 orang ASN, TNI maupun Polri yang dinyatakan positif Covid-19 di Denpasar. Sementara pegawai swasta dan BUMN sebanyak 138 orang. Sedangkan tenaga medis tercatat 50 orang.

Data tersebut disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai, Selasa (22/9) pagi. Dijelaskan, belasan kantor di Denpasar jadi klaster penyebaran Covid-19. Sebanyak 138 pegawai swasta dan BUMN positif Covid-19 sejak awal September. Perkantoran tersebut mulai dari kantor milik pemerintah maupun kantor milik swasta ataupun BUMN.

“Setelah sebelumnya didominasi klaster pedagang pasar, kini pegawai swasta dan BUMN menjadi klaster baru Covid-19 di Kota Denpasar,” kata Dewa Rai.

Ia menjelaskan, hal ini terjadi karena Kota Denpasar merupakan simpul pergerakan berbagai bidang kegiatan dan sebagai pusat perkantoran baik instansi vertikal maupun BUMN . “Hal ini perlu menjadi catatan bersama. Berbagai sektor mulai perekonomian, jasa dan lainnya turut bergerak di Kota Denpasar. Sehingga dalam situasi merebaknya Covid-19 saat ini diperlukan tingkat kewaspadaan yang ekstra,” katanya.

Berdasarkan data, Dewa Rai menjelaskan, klaster pedagang pasar cenderung mengalami penurunan. Namun, klaster pegawai swasta dan BUMN mengalami peningkatan. “Pegawai swasta dan BUMN mencapai 27,5 persen dari total jumlah pasien. Sementara sisanya terbagi atas beberapa klaster profesi, yakni PNS, TNI/Polri, pensiunan, tenaga medis, PRT, pedagang, ibu rumah tangga dan profesi lainnya,” katanya.

Dalam pengaturan pola kerja pegawai untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19, pihak GTPP mengimbau instansi swasta dan BUMN untuk menerapkan pengaturan jam kerja pegawai mengikuti surat edaran (SE) walikota dengan berpedoman pada zona resiko wilayah.

“Jadi dalam menerapkan pola kerja bisa menyesuaikan luas ruangan dengan jumlah pegawai, dan bisa juga mengikuti SE walikota dengan berpedoman pada zona resiko wilayah masing-masing desa/kelurahan, di mana kantor berlokasi. Jadi mari lebih waspada bersama, dan disiplin melakukan protokol kesehatan,” tambahnya.

Selain pasien yang terkonfirmasi positif dari klaster perkatoran, Kota Denpasar juga menyimpan 2.000 orang tanpa gejala (OTG). Sebanyak 60 persen di antaranya mengantongi identitas luar Denpasar. Mereka tinggal di Denpasar dengan berbagai profesi. OTG inilah yang berpotensi menjadi penular Covid-19. “Jika satu orang positif, maka orang terdekatnya langsung menjadi OTG,” tegasnya.

Dewa Rai mengatakan, semestinya mereka yang berstatus OTG ini melakukan isolasi mandiri selama minimal 14 hari. Akan tetapi banyak yang melanggar dan tidak memperhatikan protokol kesehatan. Hal itulah yang menjadi pemicu meningkatnya kasus positif Covid-19. “Padahal protokol kesehatan sudah dilaksanakan dengan ketat. Terus kami juga sudah gencar pengawasan, tapi kasus masih naik. OTG yang tak melakukan isolasi inilah penyebabnya,” katanya.

Oleh karena itu, sesuai instruksi dari Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, semua pihak harus ikut menekan kasus positif Covid-19. Pihaknya pun melibatkan jumantik, sekaa teruna, karang taruna, kader Posyandu, hingga PKK. Apalagi saat ini semua profesi sudah terpapar Covid-19. “Dari kluster tenaga medis, lanjut ke kluster pasar, upacara, perkantoran, dan kini ke pegawai dan karyawan swasta,” katanya.


Most Read

Artikel Terbaru

/