Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Bali
icon featured
Bali

Tunggu Pariwisata Buka, Pelaku Desa Wisata Harap Pelatihan SDM

22 September 2021, 17: 58: 00 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tunggu Pariwisata Buka, Pelaku Desa Wisata Harap Pelatihan SDM

Ketua Forkom Pokdarwis Desa Wisata Gianyar, Mangku Nyoman Kandia. (istimewa)

Share this      

GIANYAR,BALI EXPRESS - Sembari menunggu sektor pariwisata pulih, pelaku pariwisata di Gianyar berharap bisa mendapatkan pelatihan dari pemerintah tentunya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Sehingga saat nanti pariwisata dibuka, sumber daya manusia yang dimiliki sudah semakin siap.

Ketua Forkom Pokdarwis Desa Wisata Gianyar, Mangku Nyoman Kandia menjelaskan bahwa desa wisata merupakan salah satu pihak yang sangat terdampak pada pandemi Covid-19. Padahal para pelaku pariwisata didalamnya memiliki semangat tinggi untuk berkarya. "Desa wisata terdampak. Tapi orang-orang di desa wisata masih memiliki semangat tinggi untuk berkarya," ungkapnya Rabu (22/9).

Ditambahkannya jika karya yang dimaksud diantaranya dengan membuat objek wisata baru. Atau sekedar membersihkan maupun menata desa mereka. "Cuma saja pendanaannya susah. Karena kabupaten tidak ada dana untuk itu, ya karena pandemi ini," bebernya.

Baca juga: AMAN Belum Tunaikan Janji Bangun Arda Chandra

Maka dari itu pihaknya berharap ada pelatihan dari pemerintah sembari menunggu sektor pariwisata pulih kembali. "Misalnya, pelatihan lokal guide, pelatihan house keeping dan sebagainya. Itu untuk mengisi waktu mereka supaya tidak bosan sembari menunggu pariwisata benar-benar dibuka," sambungnya.

Saat ini di Kabupaten Gianyar, ada 29 desa wisata yang telah disahkan oleh Bupati. Diantaranya  Desa Kerta, Buahan Kaja, Taro, Kendran, Manukaya. Di Ubud, Petulu, Mas, Lodtunduh, dan lainnya. Dimana 29 desa wisata tersebut memiliki potensi yang berbeda satu sama lain. Sehingga memiliki karakteristik tersendiri tiap desa.  Dan untuk memudahkan koordinasi satu desa wisata dengan lainnya, maka pihaknya akan membuatkan paket wisata bersama terintegrasi. 

"Misalnya living in Gianyar begitu judulnya. Bisa saja 14 hari living in Gianyar. Kami arahkan ke desa yang siap. Sehingga tidak ada dikotomi Gianyar Barat dan Timur," paparnya.

Dan menyambut dibukanya kembali objek-objek wisata, Kandia mengatakan jika desa wisata sendiri dalam tahap persiapan menggunakan barcode PedulilIndungi. Sebab masih ada pegawai yang kurang paham. Atau bahkan kesulitan sinyal. "Kami sambut baik penerapannya tapi teknis di lapangan agar susah, jadi perlu benar-benar sosialisasi," sambungnya.

Namun seluruh desa wisata telah mengantongi sertifikat CHSE dari Dinas Pariwisata. "Kalau sertifikat CHSE itu sudah dimiliki sebagai salah satu syarat," tandasnya.

(bx/ras/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia