28.7 C
Denpasar
Thursday, June 8, 2023

205 Pohon Glodok Tiang Bajra Sandhi Dipotong, Kadisbud Minta Distop

DENPASAR,  BALI EXPRESS  –  Gubernur Bali mengemban visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sebuah visi yang pro lingkungan. Salah satunya adalah Wana Kerthi (menjaga pohon dan hutan), sepertinya tidak dipahami oleh pejabat di bawahnya. Buktinya, penggelola UPT Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang lebih dikenal dengan sebutan Bajra Sandhi, malah berencana memotong seluruh pohon glodok tiang.

Bahkan hingga Jumat (22/11) sudah sebagian besar terpotong menjadi sangat pendek. Koran ini menghitung pohon yang menjulang seperti tiang itu, total ada 205 pohon sudah terpotong. Sehingga terlihat areal lapangan tambah gersang. Padahal butuh waktu tahunan untuk agar pohon tersebut tinggi. Dikonfirmasi,  Kadis Kebudayaan Bali Wayan “Kun” Adnyana mengaku belum tahu atas kondisi itu. “Saya belum tahu, coba saya akan cek ke kepala UPT,” ujar pejabat yang sebelumnya adalah akademisi ISI Denpasar, Jumat (22/11).

Dia mengaku masih sulit menghubungi Kepala UPT Monumen Perjuangan Rakyat Bali Putu Sukaredaya. “Saya belum bisa hubungi, namun saya pastikan langkah memotong banyak pohon itu saya akan hentikan. Saya perintahkan agar distop,” tegasnya.

Baca Juga :  Mengeluh Mual, Sugiani Gantung Diri Berkebaya Saat Purnama 

Salah satu petugas Bagian Kebersihan Gusti Agung ketika ditemui di Lapangan Puputan Margarana, Renon mengakui, memang akan dipotong semua untuk jenis glodok tiang. Tapi itu semua dikerjakan karena perintah atasan. “Kami hanya melakukan pemotongan, atas perintah. Silakan tanya ke atasan kami,” ujar Gusti Agung.

Koran ini berusaha mengkonfirmasi Kepala UPT Putu Sukaredaya melalui telepon. Dia membenarkan memang ada rencana memotong semua pohon glodok tiang menjadi pendek. “Kami memang akan potong semua pohon jenis glodok tiang menjadi pendek, karena ada masukan dari pengunjung yang sering olahraga di Lapangan Renon,” kilahnya.

Apa masukannya? Alasannya juga aneh, karena orang yang mengusulkan itu tidak bisa melihat Monumen Perjuangan Rakyat Bali. “Bagi saya benar juga, kita mau menonton pohon atau mau melihat monumen. Karena terlalu rimbun, kan sulit lihat monumennya,” kilahnya.

Dengan penjelasan ini, Koran ini berusaha bertanya dengan membandingkan dengan kawasan Borobudur. Ketika masuk kawasan wisata Borobudur, malah melihat kawasan seperti hutan. Namun ketika sudah berjalan ke dalam, dari beberapa titik tertentu baru bisa melihat candi. Sedangkan Monumen Bajra Sandi, dari semua sudut sebenarnya terlihat. Bahkan beberapa sudut bisa melihat secara utuh. Apakah nanti kalau mau melihat Bajra Sandi dari utara Kantor Gubernur, semua pohon di Kantor Gubernur juga dibabat? Ditanya seperti itu, Sukaredaya berkilah lagi.  “Bukan seperti itu maksud kami. Selain tidak bisa melihat monumen secara leluasa, juga karena antisipasi pohon roboh saat musim hujan,” kilahnya.

Baca Juga :  Gubernur Koster Serahkan 32.273 Kartu BPJS untuk Rohaniawan

Namun ketika balik ditanya, memang setiap musim hujan ada yang roboh? Dia mengakui bahwa tidak pernah, apalagi glodok tiang memang tidak mudah roboh dengan kondisi pohon yang seperti tiang. Dia pun akhirnya mengaku sudah dihubungi oleh Kadis Kebudayaan untuk menghentikan rencana pemotongan sisa pohon glodok tiang. “Masalahnya sekarang sudah kadung kami potong sebagian, apakah nanti tidak terlihat jelek terpotong setengah. Sisanya masih tinggi,” ujar Sukaredaya bertanya balik. Namun dia memastikan, apapun perintah atasannya yaitu Kadis Kebudayaan, dia siap mengikuti. “Nanti saya konsultasikan dulu dengan Pak Kadis Kebudayaan, sementara sudah diminta stop, agar tidak dipotong lagi,” pungkasnya.


DENPASAR,  BALI EXPRESS  –  Gubernur Bali mengemban visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sebuah visi yang pro lingkungan. Salah satunya adalah Wana Kerthi (menjaga pohon dan hutan), sepertinya tidak dipahami oleh pejabat di bawahnya. Buktinya, penggelola UPT Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang lebih dikenal dengan sebutan Bajra Sandhi, malah berencana memotong seluruh pohon glodok tiang.

Bahkan hingga Jumat (22/11) sudah sebagian besar terpotong menjadi sangat pendek. Koran ini menghitung pohon yang menjulang seperti tiang itu, total ada 205 pohon sudah terpotong. Sehingga terlihat areal lapangan tambah gersang. Padahal butuh waktu tahunan untuk agar pohon tersebut tinggi. Dikonfirmasi,  Kadis Kebudayaan Bali Wayan “Kun” Adnyana mengaku belum tahu atas kondisi itu. “Saya belum tahu, coba saya akan cek ke kepala UPT,” ujar pejabat yang sebelumnya adalah akademisi ISI Denpasar, Jumat (22/11).

Dia mengaku masih sulit menghubungi Kepala UPT Monumen Perjuangan Rakyat Bali Putu Sukaredaya. “Saya belum bisa hubungi, namun saya pastikan langkah memotong banyak pohon itu saya akan hentikan. Saya perintahkan agar distop,” tegasnya.

Baca Juga :  Praktik Pertama Kali, Tangani Jenazah Sang Ayah

Salah satu petugas Bagian Kebersihan Gusti Agung ketika ditemui di Lapangan Puputan Margarana, Renon mengakui, memang akan dipotong semua untuk jenis glodok tiang. Tapi itu semua dikerjakan karena perintah atasan. “Kami hanya melakukan pemotongan, atas perintah. Silakan tanya ke atasan kami,” ujar Gusti Agung.

Koran ini berusaha mengkonfirmasi Kepala UPT Putu Sukaredaya melalui telepon. Dia membenarkan memang ada rencana memotong semua pohon glodok tiang menjadi pendek. “Kami memang akan potong semua pohon jenis glodok tiang menjadi pendek, karena ada masukan dari pengunjung yang sering olahraga di Lapangan Renon,” kilahnya.

Apa masukannya? Alasannya juga aneh, karena orang yang mengusulkan itu tidak bisa melihat Monumen Perjuangan Rakyat Bali. “Bagi saya benar juga, kita mau menonton pohon atau mau melihat monumen. Karena terlalu rimbun, kan sulit lihat monumennya,” kilahnya.

Dengan penjelasan ini, Koran ini berusaha bertanya dengan membandingkan dengan kawasan Borobudur. Ketika masuk kawasan wisata Borobudur, malah melihat kawasan seperti hutan. Namun ketika sudah berjalan ke dalam, dari beberapa titik tertentu baru bisa melihat candi. Sedangkan Monumen Bajra Sandi, dari semua sudut sebenarnya terlihat. Bahkan beberapa sudut bisa melihat secara utuh. Apakah nanti kalau mau melihat Bajra Sandi dari utara Kantor Gubernur, semua pohon di Kantor Gubernur juga dibabat? Ditanya seperti itu, Sukaredaya berkilah lagi.  “Bukan seperti itu maksud kami. Selain tidak bisa melihat monumen secara leluasa, juga karena antisipasi pohon roboh saat musim hujan,” kilahnya.

Baca Juga :  Gubernur Koster Serahkan 32.273 Kartu BPJS untuk Rohaniawan

Namun ketika balik ditanya, memang setiap musim hujan ada yang roboh? Dia mengakui bahwa tidak pernah, apalagi glodok tiang memang tidak mudah roboh dengan kondisi pohon yang seperti tiang. Dia pun akhirnya mengaku sudah dihubungi oleh Kadis Kebudayaan untuk menghentikan rencana pemotongan sisa pohon glodok tiang. “Masalahnya sekarang sudah kadung kami potong sebagian, apakah nanti tidak terlihat jelek terpotong setengah. Sisanya masih tinggi,” ujar Sukaredaya bertanya balik. Namun dia memastikan, apapun perintah atasannya yaitu Kadis Kebudayaan, dia siap mengikuti. “Nanti saya konsultasikan dulu dengan Pak Kadis Kebudayaan, sementara sudah diminta stop, agar tidak dipotong lagi,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru