alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

KS Keberatan Dijuluki Predator, Lapor Polisi Atas Pencemaran Nama Baik

SINGARAJA, BALI EXPRESS – KS, salah satu oknum anggota BEM REMA Undiksha yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswi di Undiksha melakukan pengaduan ke Polres Buleleng. KS mengajukan pengaduan ke Polres Buleleng dengan dasar pencemaran nama baik. Pasalnya, foto KS terpampang dengan jelas di unggahan instagram BEM REMA Undiksha beberapa waktu lalu. Kini unggahan itu telah dihapus. Pada postingan tersebut nama KS disebutkan dengan jelas. Parahnya, pada foto KS, pihak BEM melabelinya dengan tinta merah bertuliskan predator. Atas hal itu Selasa (21/12) pagi, KS mendatangi Polres Buleleng dan membuar surat pengaduan atas postingan yang merugikan dirinya tersebut.

Dikonfirmasi Rabu (22/12) siang, Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya mebenarkan laporan tersebut. Ia mengatakan laporan itu dalam bentuk pengaduan masyarakat. Laporan itu berkaitan dengan Undang-undang ITE. “Dasarnya itu ada yang memvonis pelapor sebagai seorang predator dan diupload di media social. Dan itu dianggap melakukan pencemaran nama baik. Sekarang masih dipelajari oleh penyidik terkait pengaduan itu,” ungkapnya.

Kendati postingan tersebut telah dihapus oleh admin BEM REMA Undiksha namun Sumarjaya menyebut pihak pelapor masih memiliki hasil tangkapan layar dari postingan itu. “Itu dijadikan barang bukti. KS ada screenshot postingan itu,” kata dia.

Sementara dari pantauan di Instagram, BEM REMA Undiksha telah memposting surat pernyataan sikap pada Selasa kemarin. Dalam surat itu, BEM REMA Undiksha mengakui telah terjadi kekeliruan atas postingan yang memberikan label “predator” dan menyebarluaskan identitas terduga pelaku (KS,red) secara gamblang.

BEM REMA Undiksha juga meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan, terurama kepada terduga pelaku dan keluarga besarnya. Postingan itu diklaim tidak menyinggung atau merugikan pihak manapun, karena maksud dari postingan tersebut murni sebagai bentuk transparasi sesuai yang diatur dalam AD/ART Pasal 16 tentang Pemberhentian.  Saat ini, kasus dugaan pelanggaran etika sudah diserahkan kepada pihak yang berwenang di Undikhsa untuk dikaji dan ditindaklanjuti.

Sementara Presiden Mahasiswa Republik Mahasiswa Undiksha, Kadek Andre Karisma Dewantara saat dikonfirmasi enggan berkomentar terkait adanya laporan dari KS tersebut. “Soal laporan itu kami tidak bisa berkomentar. Kami sudah serahkan kasusnya ke rektorat,” singkatnya.

Sebelumnya, beredar postingan pada instagram BEM REMA Undiksha yang menceritakan adanya pelecehan seksual. Pelecehan di kampus seribu jendela itu ditindaklanjuti oleh BEM REMA Undiksha. Tindakan tegas pun diberikan kepada pelaku yang melakukan pelecehan tersebut. Kronologi pelecehan beserta identitas pelaku telah diunggah dalam media sosial milik organisasi BEM Undiksha. Pelaku pun diganjar dengan pemecatan secara tidak hormat dari kepengurusan organisasi. Seperti yang telah beredar di sosial media, disebutkan KS salah seorang mahasiswa di Undisksha melakukan pelecehan seksual terhadap teman satu organisasinya. KS mengetahui kedatangan mahasiswi itu dari luar Bali, melalui WhatsApp Group Organisasi yakni grup WA BEM REMA Undiksha, pada 4 Agustus 2021 lalu. Saat itu KS dalam perjalanan pulang dari Klungkung menuju Singaraja. Ia menghubungi mahasiswi tersebut via WA. Dalam perpesanan itu, keduanya berbincang. Hingga akhirnya oknum mahasisi itu menyetujui KS untuk datang ke tempat kosnya yang beralasan ingin singgah. Sesampainya di tempat kos, KS lantas berbincang di teras kos.

Dari pemaparan kronologi, disebutkan juga, ketika KS berbincang di teras, KS menunjukkan gelagak aneh dan ingin berbincang di kamar. Keduanya pun menyanggupi. Mereka berbincang kembali di depan kamar kos. Kemudian beralih ke kamar. Selang beberapa lama, KS meminta ijin untuk ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, KS pun mengutarakan keinginannya untuk bermalam di kos itu. oknum mahasiswi yang disebutkan nama samarannya adalah Lini merasa kaget. Awalnya Lini tidak mengijinkan KS menginap, meski berbagai alasan diutarakan oleh Lini. Karena rasa takut dan tidak bisa melawan, Lini pun pasrah. Ia memngijinkan KS menginap dengan syarat tidur di lantai. Lini berusaha terjaga sepanjang malam dengan lampu tetap menyala.

Setelah beberapa saat berbaring di lantai, KS beranjak ke kasur Lini dengan alasan ingin menonton film. Lantaran takut, Lini menghubungi teman-temannya via WA. Saat berada dalam satu ranjang, KS dan Lini sempat bersinggungan badan karena kasur yang sempit. Bahkan, KS sempat menepuk Lini karena ada nyamuk.

Pada pukul 01.00 wita, 4 orang teman lelaki Lini datang yang sebelumnya sudah dihubungi Lini. Mereka beralasan ingin bermain kartu di teras. KS pun sempat ikut bermain. Namun tak lama KS pamit untuk tidur karena lelah. Lini meminta kepada 4 teman lelakinya itu tetap ada di sana untuk menemaninya sampai KS pergi. Namun hingga pukul 06.00 wita, KS baru terbangun dan pamit pulang. Setelah kejadian itu Lini merasa tidak tenang dan ketakutan setiap bertemu dengan KS saat ada pertemuan di organisasi.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – KS, salah satu oknum anggota BEM REMA Undiksha yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswi di Undiksha melakukan pengaduan ke Polres Buleleng. KS mengajukan pengaduan ke Polres Buleleng dengan dasar pencemaran nama baik. Pasalnya, foto KS terpampang dengan jelas di unggahan instagram BEM REMA Undiksha beberapa waktu lalu. Kini unggahan itu telah dihapus. Pada postingan tersebut nama KS disebutkan dengan jelas. Parahnya, pada foto KS, pihak BEM melabelinya dengan tinta merah bertuliskan predator. Atas hal itu Selasa (21/12) pagi, KS mendatangi Polres Buleleng dan membuar surat pengaduan atas postingan yang merugikan dirinya tersebut.

Dikonfirmasi Rabu (22/12) siang, Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya mebenarkan laporan tersebut. Ia mengatakan laporan itu dalam bentuk pengaduan masyarakat. Laporan itu berkaitan dengan Undang-undang ITE. “Dasarnya itu ada yang memvonis pelapor sebagai seorang predator dan diupload di media social. Dan itu dianggap melakukan pencemaran nama baik. Sekarang masih dipelajari oleh penyidik terkait pengaduan itu,” ungkapnya.

Kendati postingan tersebut telah dihapus oleh admin BEM REMA Undiksha namun Sumarjaya menyebut pihak pelapor masih memiliki hasil tangkapan layar dari postingan itu. “Itu dijadikan barang bukti. KS ada screenshot postingan itu,” kata dia.

Sementara dari pantauan di Instagram, BEM REMA Undiksha telah memposting surat pernyataan sikap pada Selasa kemarin. Dalam surat itu, BEM REMA Undiksha mengakui telah terjadi kekeliruan atas postingan yang memberikan label “predator” dan menyebarluaskan identitas terduga pelaku (KS,red) secara gamblang.

BEM REMA Undiksha juga meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan, terurama kepada terduga pelaku dan keluarga besarnya. Postingan itu diklaim tidak menyinggung atau merugikan pihak manapun, karena maksud dari postingan tersebut murni sebagai bentuk transparasi sesuai yang diatur dalam AD/ART Pasal 16 tentang Pemberhentian.  Saat ini, kasus dugaan pelanggaran etika sudah diserahkan kepada pihak yang berwenang di Undikhsa untuk dikaji dan ditindaklanjuti.

Sementara Presiden Mahasiswa Republik Mahasiswa Undiksha, Kadek Andre Karisma Dewantara saat dikonfirmasi enggan berkomentar terkait adanya laporan dari KS tersebut. “Soal laporan itu kami tidak bisa berkomentar. Kami sudah serahkan kasusnya ke rektorat,” singkatnya.

Sebelumnya, beredar postingan pada instagram BEM REMA Undiksha yang menceritakan adanya pelecehan seksual. Pelecehan di kampus seribu jendela itu ditindaklanjuti oleh BEM REMA Undiksha. Tindakan tegas pun diberikan kepada pelaku yang melakukan pelecehan tersebut. Kronologi pelecehan beserta identitas pelaku telah diunggah dalam media sosial milik organisasi BEM Undiksha. Pelaku pun diganjar dengan pemecatan secara tidak hormat dari kepengurusan organisasi. Seperti yang telah beredar di sosial media, disebutkan KS salah seorang mahasiswa di Undisksha melakukan pelecehan seksual terhadap teman satu organisasinya. KS mengetahui kedatangan mahasiswi itu dari luar Bali, melalui WhatsApp Group Organisasi yakni grup WA BEM REMA Undiksha, pada 4 Agustus 2021 lalu. Saat itu KS dalam perjalanan pulang dari Klungkung menuju Singaraja. Ia menghubungi mahasiswi tersebut via WA. Dalam perpesanan itu, keduanya berbincang. Hingga akhirnya oknum mahasisi itu menyetujui KS untuk datang ke tempat kosnya yang beralasan ingin singgah. Sesampainya di tempat kos, KS lantas berbincang di teras kos.

Dari pemaparan kronologi, disebutkan juga, ketika KS berbincang di teras, KS menunjukkan gelagak aneh dan ingin berbincang di kamar. Keduanya pun menyanggupi. Mereka berbincang kembali di depan kamar kos. Kemudian beralih ke kamar. Selang beberapa lama, KS meminta ijin untuk ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, KS pun mengutarakan keinginannya untuk bermalam di kos itu. oknum mahasiswi yang disebutkan nama samarannya adalah Lini merasa kaget. Awalnya Lini tidak mengijinkan KS menginap, meski berbagai alasan diutarakan oleh Lini. Karena rasa takut dan tidak bisa melawan, Lini pun pasrah. Ia memngijinkan KS menginap dengan syarat tidur di lantai. Lini berusaha terjaga sepanjang malam dengan lampu tetap menyala.

Setelah beberapa saat berbaring di lantai, KS beranjak ke kasur Lini dengan alasan ingin menonton film. Lantaran takut, Lini menghubungi teman-temannya via WA. Saat berada dalam satu ranjang, KS dan Lini sempat bersinggungan badan karena kasur yang sempit. Bahkan, KS sempat menepuk Lini karena ada nyamuk.

Pada pukul 01.00 wita, 4 orang teman lelaki Lini datang yang sebelumnya sudah dihubungi Lini. Mereka beralasan ingin bermain kartu di teras. KS pun sempat ikut bermain. Namun tak lama KS pamit untuk tidur karena lelah. Lini meminta kepada 4 teman lelakinya itu tetap ada di sana untuk menemaninya sampai KS pergi. Namun hingga pukul 06.00 wita, KS baru terbangun dan pamit pulang. Setelah kejadian itu Lini merasa tidak tenang dan ketakutan setiap bertemu dengan KS saat ada pertemuan di organisasi.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/