alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Penderita ODGJ di Gianyar Bertambah, Dinsos Terus Berikan Pendampingan

GIANYAR, BALI EXPRESS – Jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Gianyar mengalami peningkatan. Bahkan per bulan Mei 2022 jumlah penduduk Gianyar yang masuk kategori ODGJ berat sebanyak 1.396 orang. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah di tahun sebelumnya yakni 1.291 orang.

 

Sekretaris Dinas Sosial, Nurwidyaswanto, menjelaskan bahwa dari jumlah penderita di tahun 2021, penderita terbanyak ada di Kecamatan Gianyar dengan 283 penderita, kemudian Kecamatan Sukawati dengan 219 kasus dan Kecamatan Blahbatuh 195 kasus. Sedangkan per bulan Mei 2022, jumlah ODGJ yang terdata sebanyak 1.396 dan memang eningkat dari jumlah di tahun sebelumnya yakni 1.291.

 

“Dimana data tersebut mengacu pada data di Dinas Kesehatan Pemkab Gianyar. Karena Pemkab Gianyar melalui Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan terus berupaya memberikan penanganan dan pelayanan medis terhadap para penderita, sehingga kita tetap lakukan pendataan rutin,” paparnya Kamis (23/6).

 

Ditambahkannya jika penanganan dan pelayanan medis yang diberikan oleh pemerintah tetap harus didukung oleh keluarga dan lingkungan penderita. Sebab kesembuahn penderita juga bergantung kepada keluarga yang bersangkutan, mengingat ODGJ tidak boleh putus dalam menkonsumsi obat. “Kalau keluarga dan lingkungan tidak mendukung dan obatnya putus ya akan kambuh lagi,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika pada tahun 2021 lalu, ketaatan berobat atau yang dengan sadar mendapatkan penanganan medis bagi penderita sebesar 62,5 persen atau sejumlah 807 penderita. Sedangkan di tahun 2022 tingkat kesadaran ketaatan berobat dan mendapat penanganan menurun menjadi 47,8 persen atau 649 penderita. “Menurunnya ketaatan berobat ini ya diduga karena pihak keluarga tidak memiliki waktu pendampingan atau mengingatkan minum obat atau karena hal lain,” sebutnya.

 

Secara umum, kasus ODGJ yang ditemukan di Gianyar didominasi persoalan keluarga, faktor ekonomi dan trauma masa kecil. Kendatipun demikian, hingga saat ini tidak ada ODGJ yang terlantar atau tidak mendapat penanganan medis di Gianyar. Hanya saja memang Dinas Sosial belum bisa memberikan bantuan seperti sembako atau sejenisnya kepada keluarga ODGJ karena terbatasnya anggaran yang dimiliki. “Sampai saat ini belum ada yang terlantar, karena begitu kira temukan di jalanan, secepatnya dirujuk ke RSJ dan mendapat perawatan. Obatnya gratis dan rujukannya ada di seluruh Puskesmas yang ada di Gianyar. Tapi memang untuk bantuan sembako atau sejenisnya kita belum bisa berikan,” pungkas Nurwidyaswanto.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Gianyar mengalami peningkatan. Bahkan per bulan Mei 2022 jumlah penduduk Gianyar yang masuk kategori ODGJ berat sebanyak 1.396 orang. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah di tahun sebelumnya yakni 1.291 orang.

 

Sekretaris Dinas Sosial, Nurwidyaswanto, menjelaskan bahwa dari jumlah penderita di tahun 2021, penderita terbanyak ada di Kecamatan Gianyar dengan 283 penderita, kemudian Kecamatan Sukawati dengan 219 kasus dan Kecamatan Blahbatuh 195 kasus. Sedangkan per bulan Mei 2022, jumlah ODGJ yang terdata sebanyak 1.396 dan memang eningkat dari jumlah di tahun sebelumnya yakni 1.291.

 

“Dimana data tersebut mengacu pada data di Dinas Kesehatan Pemkab Gianyar. Karena Pemkab Gianyar melalui Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan terus berupaya memberikan penanganan dan pelayanan medis terhadap para penderita, sehingga kita tetap lakukan pendataan rutin,” paparnya Kamis (23/6).

 

Ditambahkannya jika penanganan dan pelayanan medis yang diberikan oleh pemerintah tetap harus didukung oleh keluarga dan lingkungan penderita. Sebab kesembuahn penderita juga bergantung kepada keluarga yang bersangkutan, mengingat ODGJ tidak boleh putus dalam menkonsumsi obat. “Kalau keluarga dan lingkungan tidak mendukung dan obatnya putus ya akan kambuh lagi,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika pada tahun 2021 lalu, ketaatan berobat atau yang dengan sadar mendapatkan penanganan medis bagi penderita sebesar 62,5 persen atau sejumlah 807 penderita. Sedangkan di tahun 2022 tingkat kesadaran ketaatan berobat dan mendapat penanganan menurun menjadi 47,8 persen atau 649 penderita. “Menurunnya ketaatan berobat ini ya diduga karena pihak keluarga tidak memiliki waktu pendampingan atau mengingatkan minum obat atau karena hal lain,” sebutnya.

 

Secara umum, kasus ODGJ yang ditemukan di Gianyar didominasi persoalan keluarga, faktor ekonomi dan trauma masa kecil. Kendatipun demikian, hingga saat ini tidak ada ODGJ yang terlantar atau tidak mendapat penanganan medis di Gianyar. Hanya saja memang Dinas Sosial belum bisa memberikan bantuan seperti sembako atau sejenisnya kepada keluarga ODGJ karena terbatasnya anggaran yang dimiliki. “Sampai saat ini belum ada yang terlantar, karena begitu kira temukan di jalanan, secepatnya dirujuk ke RSJ dan mendapat perawatan. Obatnya gratis dan rujukannya ada di seluruh Puskesmas yang ada di Gianyar. Tapi memang untuk bantuan sembako atau sejenisnya kita belum bisa berikan,” pungkas Nurwidyaswanto.


Most Read

Artikel Terbaru

/