alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Pengeroyokan Berujung Bentrok Dipicu Berselisih saat Nagih Hutang

DENPASAR, BALI EXPRESS – Polresta Denpasar akhirnya membeberkan kasus bentrok yang terjadi di Simpang Jalan Pulau Roti-Jalan Batas Dukuh Sari, Banjar Dukuh Pesirahan, Pedungan, Denpasar Selatan. Ternyata, pertikaian terjadi hanya karena berselisih saat menagih hutang.

 

Para tersangka pun dihadirkan pada rilis yang berlangsung Kamis (23/6) itu. Untuk yang ditangani Polsek Denpasar Selatan, ada delapan tersangka yakni Yosafta Bania alias John Key, 36. Stefanus Pandan Gai, 24. Yandris Ngongo, 25. Marselinus Dangikasi, 20. Denisius Kereweea, 23. Andreas Bolu Jara, 22. Melkianus Deilo, 22, dan Sapribuka, 24. Sementara yang ditangani Polsek Benoa ada tiga, yaitu Daniel Kariam, 30. Atrono Riamba Lipeka, 24, dan juga John Key.

 

Kapolresta Denpasar AKBP Bambang Yugo Pamungkas yang memimpin kegiatan itu menjelaskan awal mula permasalahan adalah ketika pria bernama Elis menagih hutang kepada Anak Buah Kapal di Pelabuhan Benoa berinisial OD pada Senin (20/6) pukul 13.00. Kebetulan saat itu John Key juga datang untuk menagih hutang ke ABK tersebut. “Jadi awalnya sama-sama nagih hutang, John Key ngaku punya sebesar Rp 3,5 juta, kalau Elis sebesar Rp 2,5 juta,” tuturnya.

 

Namun terjadi ketersinggungan karena John Key justru membentak Elis. Elis lantas menghubungi kakaknya yaitu Naheson Niko, 37. Ternyata Niko dan John Key saling kenal. Sehingga pria yang diketahui asal Ambon, Maluku itu menelepon John Key agar bertemu di Warung Bu Ayu, Jalan Ikan Tuna II, Pelabuhan Benoa untuk membahas masalah ini. Ketika Niko tengah makan di warung tersebut, datanglah John Key.

 

Tanpa diduga, pria asal Sumba, Nusa Tenggara Timur ini membawa banyak teman. John berteriak-teriak memanggil Niko. Lalu bersama Daniel dan Atrono masuk ke dalam warung. Di sana mereka terlibat cekcok yang berujung Niko dikeroyok oleh ketiganya, hingga berlanjut ke luar warung. “Teman-temannya yang lain juga membantu melempari dengan batu,” tambahnya.

 

Bahkan teman Niko bernama Olop yang berada di depan Warung ikut dihajar menggunakan kursi plastik. Akibatnya Niko terluka di kepala dan dirawat ke RS AD. Setelah itu datanglah aparat dari Polsek Benoa dapat mengamankan Atrono dan Daniel. Sementara, John kembali ke kosnya di Gang Merpati, Jalan Batas Dukuh Sari bersama teman-temannya yang lain. Waktu itulah datang orang-diduga dari Ambon dan terjadi bentrokan saling lempar batu.

 

Di tengah-tengah bentrokan, pemuda bernama Fernando Ben Pattiwel, 20, yang baru pulang dari rumah temannya melintas di TKP. Tiba-tiba John Key dan kelompoknya (para tersangka) mencegat Fernando. KTP dan HP miliknya digeledah dan ditanyai asal mana. Korban pun mengakui dari Ambon. Tanpa diduga para tersangka ingin menahannya karena disebut sebagai mata-mata orang Ambon, mengingat berasal dari daerah yang sama dengan Niko.

 

Padahal korban tidak tahu apa-apa tentang masalah yang terjadi. Fernando sempat coba berontak, tapi langsung dipukuli oleh para pelaku, bahkan menggunakan kayu. Kemudian aparat dari Polsek Denpasar Selatan dan Satgas salah satu paguyuban bernama Marten dan Fredy tiba untuk melerai. Selanjutnya 14 orang asal Sumba diamankan ke Polsek Denpasar Selatan. John Key juga diantar oleh Marten ke Mapolsek Densel.

 

Hingga dia ditetapkan sebagai tersangka bersama tujuh temannya. Dengan ancaman Pasal 368 atau Pasal 170 atau Pasal 351 KUHP tentang melakukan pemerasan atau pengeroyokan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Khusus Atrono dan Daniel hanya disangkakan Pasal 170 atau Pasal 351 KUHP. “Jadi John Key ditetapkan tersangka oleh dua Polsek,” tutupnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Polresta Denpasar akhirnya membeberkan kasus bentrok yang terjadi di Simpang Jalan Pulau Roti-Jalan Batas Dukuh Sari, Banjar Dukuh Pesirahan, Pedungan, Denpasar Selatan. Ternyata, pertikaian terjadi hanya karena berselisih saat menagih hutang.

 

Para tersangka pun dihadirkan pada rilis yang berlangsung Kamis (23/6) itu. Untuk yang ditangani Polsek Denpasar Selatan, ada delapan tersangka yakni Yosafta Bania alias John Key, 36. Stefanus Pandan Gai, 24. Yandris Ngongo, 25. Marselinus Dangikasi, 20. Denisius Kereweea, 23. Andreas Bolu Jara, 22. Melkianus Deilo, 22, dan Sapribuka, 24. Sementara yang ditangani Polsek Benoa ada tiga, yaitu Daniel Kariam, 30. Atrono Riamba Lipeka, 24, dan juga John Key.

 

Kapolresta Denpasar AKBP Bambang Yugo Pamungkas yang memimpin kegiatan itu menjelaskan awal mula permasalahan adalah ketika pria bernama Elis menagih hutang kepada Anak Buah Kapal di Pelabuhan Benoa berinisial OD pada Senin (20/6) pukul 13.00. Kebetulan saat itu John Key juga datang untuk menagih hutang ke ABK tersebut. “Jadi awalnya sama-sama nagih hutang, John Key ngaku punya sebesar Rp 3,5 juta, kalau Elis sebesar Rp 2,5 juta,” tuturnya.

 

Namun terjadi ketersinggungan karena John Key justru membentak Elis. Elis lantas menghubungi kakaknya yaitu Naheson Niko, 37. Ternyata Niko dan John Key saling kenal. Sehingga pria yang diketahui asal Ambon, Maluku itu menelepon John Key agar bertemu di Warung Bu Ayu, Jalan Ikan Tuna II, Pelabuhan Benoa untuk membahas masalah ini. Ketika Niko tengah makan di warung tersebut, datanglah John Key.

 

Tanpa diduga, pria asal Sumba, Nusa Tenggara Timur ini membawa banyak teman. John berteriak-teriak memanggil Niko. Lalu bersama Daniel dan Atrono masuk ke dalam warung. Di sana mereka terlibat cekcok yang berujung Niko dikeroyok oleh ketiganya, hingga berlanjut ke luar warung. “Teman-temannya yang lain juga membantu melempari dengan batu,” tambahnya.

 

Bahkan teman Niko bernama Olop yang berada di depan Warung ikut dihajar menggunakan kursi plastik. Akibatnya Niko terluka di kepala dan dirawat ke RS AD. Setelah itu datanglah aparat dari Polsek Benoa dapat mengamankan Atrono dan Daniel. Sementara, John kembali ke kosnya di Gang Merpati, Jalan Batas Dukuh Sari bersama teman-temannya yang lain. Waktu itulah datang orang-diduga dari Ambon dan terjadi bentrokan saling lempar batu.

 

Di tengah-tengah bentrokan, pemuda bernama Fernando Ben Pattiwel, 20, yang baru pulang dari rumah temannya melintas di TKP. Tiba-tiba John Key dan kelompoknya (para tersangka) mencegat Fernando. KTP dan HP miliknya digeledah dan ditanyai asal mana. Korban pun mengakui dari Ambon. Tanpa diduga para tersangka ingin menahannya karena disebut sebagai mata-mata orang Ambon, mengingat berasal dari daerah yang sama dengan Niko.

 

Padahal korban tidak tahu apa-apa tentang masalah yang terjadi. Fernando sempat coba berontak, tapi langsung dipukuli oleh para pelaku, bahkan menggunakan kayu. Kemudian aparat dari Polsek Denpasar Selatan dan Satgas salah satu paguyuban bernama Marten dan Fredy tiba untuk melerai. Selanjutnya 14 orang asal Sumba diamankan ke Polsek Denpasar Selatan. John Key juga diantar oleh Marten ke Mapolsek Densel.

 

Hingga dia ditetapkan sebagai tersangka bersama tujuh temannya. Dengan ancaman Pasal 368 atau Pasal 170 atau Pasal 351 KUHP tentang melakukan pemerasan atau pengeroyokan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Khusus Atrono dan Daniel hanya disangkakan Pasal 170 atau Pasal 351 KUHP. “Jadi John Key ditetapkan tersangka oleh dua Polsek,” tutupnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/