alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Wang Bali Mula Angugat, STI Angkat Kisah Rakyat Gugat Laku Pemimpin

DENPASAR, BALI EXPRESS- Sanggar seni STI Bali membawakan kesenian prembon tradisi semarakkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Selasa (21/6) malam. Mengangkat lakon Wang Bali Mula Angugat, Kucita Dewi dan rekan rekan sukses membuat penonton tertawa lewat lawakannya.

Koordinator pementasan yang juga Ketua Sanggar Seni STI Bali Ida Bagus Ketut Indra Darmawan memaparkan, Wang Bali Mula Angugat mengisahkan tentang zaman saat kepemimpinan Raja Dalem Ketut. Di mana masyarakat Bali Mula merasa tidak cocok dengan kepemimpinan kala itu.

Ketidakcocokan tersebut karena dalam kepemimpinannya, Raja Dalem Ketut dirasa tidak adil dan tidak tahu bagaimana keberadaan (dresta) yang ada di Bali. Sehingga masyarakat Bali Mula merasa tidak sejalan.

“Jadi masyarakat Bali Mula ini merasa dianaktirikan. Bahkan air yang ada di Desa Songan itu ditutup oleh masyarakat Bali Mula supaya tidak mengalir ke kota. Artinya masyarakat memrotes lewat danau ini. Bentuk protes lewat air ini kami angkat karena berkaitan dengan tema PKB, Danu Kerthi Huluning Amerta,” ungkap Indra Darmawan.

Melihat adanya perselisihan tersebut, lanjutnya, maka diutus salah satu senopati bernama Patih Ulung ke Songan untuk melakukan diskusi. Isi dari diskusi tersebut, masyarakat Bali Mula menginginkan agar raja Bali memperlakukan mereka sama seperti dengan masyarakat Majapahit.

Selain itu, Raja juga diminta menjaga dengan baik parahyangan dan Sad Kahyangan, serta menjaga danau yang ada di Desa Songan sebagai sumber kehidupan masyarakat Bali.

“Pada akhirnya kesepakatan tersebut disampaikan kepada Raja Dalem Ketut, dan beliau menyetujuinya. Dari kesepakatan tersebut, akhirnya semua bersatu, bisa akur, dan bisa saling berbaur. Jika kita tarik pesan yang disesuaikan dengan tema air, maka pesan dari pementasan adalah karena air adalah sumber kehidupan, jika saling memerlukan maka hendaklah saling bersikap baik,” katanya.

Sebanyak enam seniman STI tampil di panggung. Masing-masing merangkap dua karakter. Pada pertunjukan ini, Indra Darmawan mengakui lebih menonjolkan karakter bondresnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS- Sanggar seni STI Bali membawakan kesenian prembon tradisi semarakkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Selasa (21/6) malam. Mengangkat lakon Wang Bali Mula Angugat, Kucita Dewi dan rekan rekan sukses membuat penonton tertawa lewat lawakannya.

Koordinator pementasan yang juga Ketua Sanggar Seni STI Bali Ida Bagus Ketut Indra Darmawan memaparkan, Wang Bali Mula Angugat mengisahkan tentang zaman saat kepemimpinan Raja Dalem Ketut. Di mana masyarakat Bali Mula merasa tidak cocok dengan kepemimpinan kala itu.

Ketidakcocokan tersebut karena dalam kepemimpinannya, Raja Dalem Ketut dirasa tidak adil dan tidak tahu bagaimana keberadaan (dresta) yang ada di Bali. Sehingga masyarakat Bali Mula merasa tidak sejalan.

“Jadi masyarakat Bali Mula ini merasa dianaktirikan. Bahkan air yang ada di Desa Songan itu ditutup oleh masyarakat Bali Mula supaya tidak mengalir ke kota. Artinya masyarakat memrotes lewat danau ini. Bentuk protes lewat air ini kami angkat karena berkaitan dengan tema PKB, Danu Kerthi Huluning Amerta,” ungkap Indra Darmawan.

Melihat adanya perselisihan tersebut, lanjutnya, maka diutus salah satu senopati bernama Patih Ulung ke Songan untuk melakukan diskusi. Isi dari diskusi tersebut, masyarakat Bali Mula menginginkan agar raja Bali memperlakukan mereka sama seperti dengan masyarakat Majapahit.

Selain itu, Raja juga diminta menjaga dengan baik parahyangan dan Sad Kahyangan, serta menjaga danau yang ada di Desa Songan sebagai sumber kehidupan masyarakat Bali.

“Pada akhirnya kesepakatan tersebut disampaikan kepada Raja Dalem Ketut, dan beliau menyetujuinya. Dari kesepakatan tersebut, akhirnya semua bersatu, bisa akur, dan bisa saling berbaur. Jika kita tarik pesan yang disesuaikan dengan tema air, maka pesan dari pementasan adalah karena air adalah sumber kehidupan, jika saling memerlukan maka hendaklah saling bersikap baik,” katanya.

Sebanyak enam seniman STI tampil di panggung. Masing-masing merangkap dua karakter. Pada pertunjukan ini, Indra Darmawan mengakui lebih menonjolkan karakter bondresnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/