alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

YKKS Ajak Difabel Bikin Sapu dari Botol Plastik 

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sampah botol plastik kini menjadi benda yang memiliki nilai ekonomis. Botol-botol plastik tersebut diolah menjadi berbagai benda yang memiliki fungsi yang lebih, bagi Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS), Kecamatan Sukasada, Buleleng.

YKKS mengolah botol plastik menjadi sapu. Pengerjaannya pun melibatkan para difabel. Mereka adalah mantan pasien Ganesa Care yang kehilangan organ kaki, akibat diamputasi karena penyakit Diabetes Militus. Kegiatan ini dilakukan di rumah masing-masing dengan bahan baku diberikan dari yayasan.

Ketua YKKS I Made Aditiasthana, menjelaskan, pembuatan sapu dengan melibatkan para difabel ini merupakan salah satu program kerja dari yayasan. Kegiatan ini menjadi unit usaha produksi yang benilai ekonomis. “Pemberdayaan merupakan salah satu program yang kami rancang. Ada tiga program pengobatan kaki luka Diabetes, pemberian kaki palsu dan pemberdayaan difabel, salah satunya bagi yang diamputasi karena Diabetes” ujar Aditiasthana, Kamis (23/7).

Dikatakannya, pembuatan sapu plastik ini, berawal dari bereksperimen untuk membuat kaki palsu berbahan baku sampah botol plastik, yang akhirnya berkembang menjadi papan plastik, baru akhirnya jadi sapu.

“Botol-botol plastik ini, kita pintal dulu, baru kita oven. Setelah oven, sudah menjadi lidi plastik, baru kita berikan ke para difabel, untuk dirakit jadi sapu. Semua bahan kita yang berikan, dan dibawakan langsung ke rumah mereka, hasilnya juga kita yang pasarkan,” tuturnya.

Pembuatan satu sapu plastic, lanjut Aditiasthana, membutuhkan empat puluh botol plastik minuman kemasan ukuran kecil. Proses pemintalan untuk sementara waktu masih dikerjakan oleh para pengurus dan voluntir yayasan. Kedepannya proses pemintalan dan oven akan diberikan kepada pengelola panti sosial, sehingga juga memberikan manfaat ekonomi bagi pengelola.

Bahan baku botol plastik yang akan diolah menjadi lidi plastik, didapatkan dari beberapa bank sampah yang ada di Buleleng. Selain itu, bahan baku juga didapat dari rumah-rumah warga yang telah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik.

Sementara itu, difabel bernama Made Sumanasa, 50, asal Banjar Kaje Kangin, Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, menjelaskan, dirinya berkenalan dengan YKKS saat kakinya mengalami luka yang tak kunjung sembuh karena Diabetes.

Kondisi luka pada kaki yang cukup parah membuatnya tak memiliki pilihan lain, hingga akhirnya diamputasi. Perawatan selanjutnya dilakukan oleh yayasan dan diberikan kaki palsu. Dari sinilah akhirnya Sumanasa terlibat ikut mengerjakan sapu plastik. “Tiang itu pasien Ganesha Care dulu, sekarang saya sudan pakai kaki palsu, dan diajaki untuk membuat sapu plastik ini. Saya bersyukur masih bisa ikut berkarya, ini juga model baru sapu plastik. Paling mudah untuk dikerjakan itu ya merakit lidi-lidi ini hingga jadi sapu. Nanti akan ada upah kerjanya juga per setiap sapu yang dikerjakan” pungkasnya. (dik)


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sampah botol plastik kini menjadi benda yang memiliki nilai ekonomis. Botol-botol plastik tersebut diolah menjadi berbagai benda yang memiliki fungsi yang lebih, bagi Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS), Kecamatan Sukasada, Buleleng.

YKKS mengolah botol plastik menjadi sapu. Pengerjaannya pun melibatkan para difabel. Mereka adalah mantan pasien Ganesa Care yang kehilangan organ kaki, akibat diamputasi karena penyakit Diabetes Militus. Kegiatan ini dilakukan di rumah masing-masing dengan bahan baku diberikan dari yayasan.

Ketua YKKS I Made Aditiasthana, menjelaskan, pembuatan sapu dengan melibatkan para difabel ini merupakan salah satu program kerja dari yayasan. Kegiatan ini menjadi unit usaha produksi yang benilai ekonomis. “Pemberdayaan merupakan salah satu program yang kami rancang. Ada tiga program pengobatan kaki luka Diabetes, pemberian kaki palsu dan pemberdayaan difabel, salah satunya bagi yang diamputasi karena Diabetes” ujar Aditiasthana, Kamis (23/7).

Dikatakannya, pembuatan sapu plastik ini, berawal dari bereksperimen untuk membuat kaki palsu berbahan baku sampah botol plastik, yang akhirnya berkembang menjadi papan plastik, baru akhirnya jadi sapu.

“Botol-botol plastik ini, kita pintal dulu, baru kita oven. Setelah oven, sudah menjadi lidi plastik, baru kita berikan ke para difabel, untuk dirakit jadi sapu. Semua bahan kita yang berikan, dan dibawakan langsung ke rumah mereka, hasilnya juga kita yang pasarkan,” tuturnya.

Pembuatan satu sapu plastic, lanjut Aditiasthana, membutuhkan empat puluh botol plastik minuman kemasan ukuran kecil. Proses pemintalan untuk sementara waktu masih dikerjakan oleh para pengurus dan voluntir yayasan. Kedepannya proses pemintalan dan oven akan diberikan kepada pengelola panti sosial, sehingga juga memberikan manfaat ekonomi bagi pengelola.

Bahan baku botol plastik yang akan diolah menjadi lidi plastik, didapatkan dari beberapa bank sampah yang ada di Buleleng. Selain itu, bahan baku juga didapat dari rumah-rumah warga yang telah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik.

Sementara itu, difabel bernama Made Sumanasa, 50, asal Banjar Kaje Kangin, Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, menjelaskan, dirinya berkenalan dengan YKKS saat kakinya mengalami luka yang tak kunjung sembuh karena Diabetes.

Kondisi luka pada kaki yang cukup parah membuatnya tak memiliki pilihan lain, hingga akhirnya diamputasi. Perawatan selanjutnya dilakukan oleh yayasan dan diberikan kaki palsu. Dari sinilah akhirnya Sumanasa terlibat ikut mengerjakan sapu plastik. “Tiang itu pasien Ganesha Care dulu, sekarang saya sudan pakai kaki palsu, dan diajaki untuk membuat sapu plastik ini. Saya bersyukur masih bisa ikut berkarya, ini juga model baru sapu plastik. Paling mudah untuk dikerjakan itu ya merakit lidi-lidi ini hingga jadi sapu. Nanti akan ada upah kerjanya juga per setiap sapu yang dikerjakan” pungkasnya. (dik)


Most Read

Artikel Terbaru

/