alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Kasus Kematian Meningkat, RSUD Buleleng Bantah Karena Krisis Oksigen

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Meningkatnya Bed Occupancy Rate (BOR) di RSUD Buleleng menjadi salah satu faktor krisisnya stok oksigen di rumah sakit tersebut. Tidak tanggung-tanggung, BOR di RSUD Buleleng mencapai 110 persen. Informasi yang beredar, tipisnya persediaan oksigen di RSUD Buleleng menyebabkan beberapa pasien covid-19 meninggal. Namun hal tersebut dibantah Direktur RSUD Buleleng.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Direktur RSUD Buleleng, Dokter Putu Arya Nugraha menjelaskan, meninggalnya pasien covid-19 di RSUD Buleleng bukan dikarenakan kekurangan oksigen. Melainkan adanya komorbid atau penyakit bawaan dari pasien itu sendiri. “Bukan karena tidak dapat oksigen. Tapi mereka memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Tapi kami persediaannya memang sempat krisis. Krisis sekali,” ungkapnya, Jumat (23/7) pagi.

Dari data Satgas Covid-19 Buleleng, hingga Kamis (22/7) sebanyak 7 orang pasien dinyatakan meninggal. 6 diantaranya adalah pasien yang dirawat di RSUD Buleleng.

Berbagai upaya pun dilakukan pihak RSUD Buleleng untuk mendapatkan persediaan oksigen untuk pasien. Menurut dokter Arya, suplay dari produsen di Jawa Timur menurun. Sehingga RSUD Buleleng terpaksa mencari bantuan di luar rekanan. “Ini persoalannya pasokan tetap. Kebutuhan meningkat. Karena penurunan suplay jadi kami mencari upaya di luar. Saya pinjam ke Girimas dapat 10. Saya pinjam ke RS Negara saya dapat 40. Kemudian mengisi sendri ke Banyuwangi dapat 50 tabung dengan upaya sendiri,” terangnya.

Untungnya, pada Jumat (23/7) RSUD Buleleng juga mendapat supply dari rekanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen bagi pasien. “. Tadi pagi kita dapat dari rekanan baik tabung maupun liquid. 30 tabung dan 3 ton. Informasi kedua dari Satgas Propinsi, siang ini dari bantuan CSR Singapure masuk. Mungkin antara 4 sampai 6 ton. Dengan kondisi begitu kita bisa pulih kembali berangsur-angsur. Seperti misalnya operasi kita bisa lakukan. Yang dari Singapure itu cair. Mudah-mudahan bisa berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengatakan hal serupa. Ia menegaskan kematian pasien buka disebabkan oleh faktor kekurangan oksigen. Melainkan karena penyakit bawaan. “Krisis oksigen sebelumnya bukan salah satu penyebab meningakatnya kasus kematian akibat covid-19. Kasus kematian tinggi di Buleleng sebagian besar dari komorbid. Untuk krisis oksigen, satgas terus berupaya untuk ketersediaan oksigen tetap ada,” tegasnya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Meningkatnya Bed Occupancy Rate (BOR) di RSUD Buleleng menjadi salah satu faktor krisisnya stok oksigen di rumah sakit tersebut. Tidak tanggung-tanggung, BOR di RSUD Buleleng mencapai 110 persen. Informasi yang beredar, tipisnya persediaan oksigen di RSUD Buleleng menyebabkan beberapa pasien covid-19 meninggal. Namun hal tersebut dibantah Direktur RSUD Buleleng.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Direktur RSUD Buleleng, Dokter Putu Arya Nugraha menjelaskan, meninggalnya pasien covid-19 di RSUD Buleleng bukan dikarenakan kekurangan oksigen. Melainkan adanya komorbid atau penyakit bawaan dari pasien itu sendiri. “Bukan karena tidak dapat oksigen. Tapi mereka memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Tapi kami persediaannya memang sempat krisis. Krisis sekali,” ungkapnya, Jumat (23/7) pagi.

Dari data Satgas Covid-19 Buleleng, hingga Kamis (22/7) sebanyak 7 orang pasien dinyatakan meninggal. 6 diantaranya adalah pasien yang dirawat di RSUD Buleleng.

Berbagai upaya pun dilakukan pihak RSUD Buleleng untuk mendapatkan persediaan oksigen untuk pasien. Menurut dokter Arya, suplay dari produsen di Jawa Timur menurun. Sehingga RSUD Buleleng terpaksa mencari bantuan di luar rekanan. “Ini persoalannya pasokan tetap. Kebutuhan meningkat. Karena penurunan suplay jadi kami mencari upaya di luar. Saya pinjam ke Girimas dapat 10. Saya pinjam ke RS Negara saya dapat 40. Kemudian mengisi sendri ke Banyuwangi dapat 50 tabung dengan upaya sendiri,” terangnya.

Untungnya, pada Jumat (23/7) RSUD Buleleng juga mendapat supply dari rekanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen bagi pasien. “. Tadi pagi kita dapat dari rekanan baik tabung maupun liquid. 30 tabung dan 3 ton. Informasi kedua dari Satgas Propinsi, siang ini dari bantuan CSR Singapure masuk. Mungkin antara 4 sampai 6 ton. Dengan kondisi begitu kita bisa pulih kembali berangsur-angsur. Seperti misalnya operasi kita bisa lakukan. Yang dari Singapure itu cair. Mudah-mudahan bisa berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengatakan hal serupa. Ia menegaskan kematian pasien buka disebabkan oleh faktor kekurangan oksigen. Melainkan karena penyakit bawaan. “Krisis oksigen sebelumnya bukan salah satu penyebab meningakatnya kasus kematian akibat covid-19. Kasus kematian tinggi di Buleleng sebagian besar dari komorbid. Untuk krisis oksigen, satgas terus berupaya untuk ketersediaan oksigen tetap ada,” tegasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/