alexametrics
30.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Angka Kematian Masih Tinggi Karena Efek Vaksinasi Belum Maksimal

DENPASAR, BALI EXPRESS – Hingga 22 Agustus 2021, vaksinasi covid-19 yang dilakukan di Bali, sudah melampaui target yang ditentukan. Adapun target penduduk yang menjadi sasaran vaksinasi yang ditetapkan Pemprov Bali untuk sebanyak 2.99.060. 

Untuk realisasinya, tahap pertama sudah mencapai sebanyak 3.130.615 penduduk atau sebesar 104.49 persen. Sedangkan untuk tahap kedua jumlah penduduk yang sudah di vaksinasi sebanyak 1.606.322 atau sebesar 53,61 persen. 

Jika dilihat dari total jumlah penduduk di Provinsi Bali per tahun 2020 yang mencapai 4.362.000 (data BPS provinsi Bali per tahun 2020), maka total jumlah penduduk di Bali yang belum menerima vaksinasi sebesar 28,23 persen, atau sebanyak 1.231.385. 

Namun dengan klaim angka vaksinasi sudah melampaui target, namun jumlah angka kematian dan kasus masih tetap tinggi menurut Ahli Virologi FKH Universitas Udayana, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, disebabkan oleh efektivitas vaksin yang belum optimal. “Efektivitas vaksin ini baru bisa dirasakan setelah tiga pekan pasca vaksinasi dosis kedua,” jelasnya. 

Sedangkan kondisi yang terjadi di Bali, aktivitas vaksinasi dilakukan ketika trend kasus penyebaran virus covid-19 di tingkat Nasional sangat tinggi yang diikuti dengan masih tingginya mobilitas manusia dari Pulau Jawa ke Bali selama periode bulan April-awal Juni 2021. Sehingga ledakan kasus covid-19 yang mulai terjadi sejak 17 Juni 2021 sampai saat ini adalah efek dari aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sebelum bulan Juni 2021.

Sehingga aktivitas vaksinasi yang seharusnya menjadi solusi untuk pencegahan penularan covid-19 dan menekan angka fatalitas, diakuinya justru menjadi cluster penularan baru sehingga kasus positif covid-19  dan angkan kematian masih tinggi sampai saat ini. 

Kenapa aktivitas vaksinasi disebut cluster baru? “Karena vaksinasi yang dilakukan oleh Pemprov Bali pada periode April-awal Juni menciptakan kerumunan baru, sedangkan pada periode tersebut angka kasus di tingkat Nasional dengan tinggi, sehingga potensi penularan pada cluster vaksin ini sangat tinggi,” paparnya.

Selain kerumunan akibat vaksinasi ini, selama periode Akhir Juni-Pertengahan Agustus, aktivitas upacara keagamaan di Bali juga sangat tinggi, sehingga cluster upacara juga menjafi penyumbang utama tingginya kasus covid-19 di Bali selama tiga bulan terakhir ini. 

Penyebab lainnya adalah faktor cuaca, selama periode Juli-Agustus cuaca di Bali dan di Indonesia pada khususnya cenderung lebih dingin. “Sehingga terjadi anomali yang menyebabkan virus lebih kuat dan daya sebarnya lebih cepat,” ungkapnya. 

Prof. Mahardika menyebutkan angka kematian pasien covid-19 di Bali menurun pada minggu pertama bulan September 2021. Ini disebabkan karena efektivitas vaksin sudah mulai dirasakan oleh masyarakat yang menerima vaksinasi. 

Sehingga kalaupun ada yang terpapar virus covid-19 selama periode September -seterusnya tidak menimbulkan kondisi yang parah dan secara langsung membuat angka fatalitas menurun. “Ini karena cara kerja vaksin seperti itu, pada minggu ketiga antibodi sudah terbentuk sehingga Jika ada yang terpapar, gejalanya tidak sampai fatal,” tambahnya. 

Terkait kekebalan komunal yang ingin dicapai Pemprov Bali melalui upaya vaksinasi ini, Prof. Mahardika mengakui hal tersebut bisa dilakukan, bahkan angka pencapaian hingga 104 persen di tahap pertama dan 53 persen di tahap kedua secara teori diakuinya sudah bisa membetuk kekebalan komunal. 

Namun pihaknya mengingatkan proses vaksinasi seharusnya dilakukan dengan lebih tertib, sehingga efektivitas vaksinasi bisa dirasakan tepat pada waktunya dan angka penularan tidak meningkat drastis. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Hingga 22 Agustus 2021, vaksinasi covid-19 yang dilakukan di Bali, sudah melampaui target yang ditentukan. Adapun target penduduk yang menjadi sasaran vaksinasi yang ditetapkan Pemprov Bali untuk sebanyak 2.99.060. 

Untuk realisasinya, tahap pertama sudah mencapai sebanyak 3.130.615 penduduk atau sebesar 104.49 persen. Sedangkan untuk tahap kedua jumlah penduduk yang sudah di vaksinasi sebanyak 1.606.322 atau sebesar 53,61 persen. 

Jika dilihat dari total jumlah penduduk di Provinsi Bali per tahun 2020 yang mencapai 4.362.000 (data BPS provinsi Bali per tahun 2020), maka total jumlah penduduk di Bali yang belum menerima vaksinasi sebesar 28,23 persen, atau sebanyak 1.231.385. 

Namun dengan klaim angka vaksinasi sudah melampaui target, namun jumlah angka kematian dan kasus masih tetap tinggi menurut Ahli Virologi FKH Universitas Udayana, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, disebabkan oleh efektivitas vaksin yang belum optimal. “Efektivitas vaksin ini baru bisa dirasakan setelah tiga pekan pasca vaksinasi dosis kedua,” jelasnya. 

Sedangkan kondisi yang terjadi di Bali, aktivitas vaksinasi dilakukan ketika trend kasus penyebaran virus covid-19 di tingkat Nasional sangat tinggi yang diikuti dengan masih tingginya mobilitas manusia dari Pulau Jawa ke Bali selama periode bulan April-awal Juni 2021. Sehingga ledakan kasus covid-19 yang mulai terjadi sejak 17 Juni 2021 sampai saat ini adalah efek dari aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sebelum bulan Juni 2021.

Sehingga aktivitas vaksinasi yang seharusnya menjadi solusi untuk pencegahan penularan covid-19 dan menekan angka fatalitas, diakuinya justru menjadi cluster penularan baru sehingga kasus positif covid-19  dan angkan kematian masih tinggi sampai saat ini. 

Kenapa aktivitas vaksinasi disebut cluster baru? “Karena vaksinasi yang dilakukan oleh Pemprov Bali pada periode April-awal Juni menciptakan kerumunan baru, sedangkan pada periode tersebut angka kasus di tingkat Nasional dengan tinggi, sehingga potensi penularan pada cluster vaksin ini sangat tinggi,” paparnya.

Selain kerumunan akibat vaksinasi ini, selama periode Akhir Juni-Pertengahan Agustus, aktivitas upacara keagamaan di Bali juga sangat tinggi, sehingga cluster upacara juga menjafi penyumbang utama tingginya kasus covid-19 di Bali selama tiga bulan terakhir ini. 

Penyebab lainnya adalah faktor cuaca, selama periode Juli-Agustus cuaca di Bali dan di Indonesia pada khususnya cenderung lebih dingin. “Sehingga terjadi anomali yang menyebabkan virus lebih kuat dan daya sebarnya lebih cepat,” ungkapnya. 

Prof. Mahardika menyebutkan angka kematian pasien covid-19 di Bali menurun pada minggu pertama bulan September 2021. Ini disebabkan karena efektivitas vaksin sudah mulai dirasakan oleh masyarakat yang menerima vaksinasi. 

Sehingga kalaupun ada yang terpapar virus covid-19 selama periode September -seterusnya tidak menimbulkan kondisi yang parah dan secara langsung membuat angka fatalitas menurun. “Ini karena cara kerja vaksin seperti itu, pada minggu ketiga antibodi sudah terbentuk sehingga Jika ada yang terpapar, gejalanya tidak sampai fatal,” tambahnya. 

Terkait kekebalan komunal yang ingin dicapai Pemprov Bali melalui upaya vaksinasi ini, Prof. Mahardika mengakui hal tersebut bisa dilakukan, bahkan angka pencapaian hingga 104 persen di tahap pertama dan 53 persen di tahap kedua secara teori diakuinya sudah bisa membetuk kekebalan komunal. 

Namun pihaknya mengingatkan proses vaksinasi seharusnya dilakukan dengan lebih tertib, sehingga efektivitas vaksinasi bisa dirasakan tepat pada waktunya dan angka penularan tidak meningkat drastis. 


Most Read

Artikel Terbaru

/