alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Efek PPKM, Pembuat Katik Sate Ikut Merana

GIANYAR, BALI EXPRESS – Diberlakukannya PPKM yang terus diperpanjang ternyata membuat penyuplai katik atau tusuk sate merana. Bagaimana tidak, orderan katik sate yang biasa diterima oleh pembuat katik sate terhenti selama PPKM. 

Seperti halnya yang dialami oleh Made Sumerta, salah seorang pembuat ketik sate di Banjar/Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Ia menuturkan jika orderan katik sate yang biasa ia buat menurun selama PPKM. Hal itu terjadi karena pembelian terhadap sate menurun. “Daya beli masyarakat turun, saya yang jual katik sate ikut kena dampak. Pembeli dulu biasanya makan ditempat, sekarang kan lebih banyak diam dirumah,” ujarnya Senin (23/8).

Lebih lanjut dirinya menuturkan jika sudah 10 tahun terakhir ini dirinya menjadi penyuplai katik sate ke sejumlah rumah makan atau warung yang menjual olahan sate dari ikan. “Selama pandemi Covid-19, baru kali ini usaha saya ikut kena dampak. Karena sebelumnya orderan masih tetap ada,” sambungnya.

Padahal kata dia, katik sate buatannya sangat diminati pelanggan karena memiliki kualitas yang baik. “Pekerjaan saya bisa diadu. Halus dan rapi,” ujarnya.

Selain daya beli masyarakat yang menurun, pasokan ikan dari Pasar Kedonganan juga menipis sehingga warung dan rumah makan tidak begitu banyak mengolah ikan. Kondisi itu pun membuat dirinya merana. Terlebih katik sate dari bambu yang ia buat tidak bisa didiamkan dalam waktu lama. “Kalau dibiarkan, ini bisa jamuran kayunya, dari bambu. Kalau sudah jamuran, pedagang tahu ini bekas jamur dari baunya yang apek, lembab dan mudah keropos, ya tidak mau dibeli,” jelasnya. 

Maka dari itu ia berencana akan mengobral katik sate buatannya agar tidak mubazir, mengingat PPKM tidak bisa diprediksi kapan berakhir. Biasanya ia menjual katik sate Rp 7.000 untuk 100 batang katik sate. “Mungkin saya akan coba bawa ke Lodtunduh., daripada diam begini, tidak ada hasil. Yang penting terjual saja,” tandas Sumerta. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Diberlakukannya PPKM yang terus diperpanjang ternyata membuat penyuplai katik atau tusuk sate merana. Bagaimana tidak, orderan katik sate yang biasa diterima oleh pembuat katik sate terhenti selama PPKM. 

Seperti halnya yang dialami oleh Made Sumerta, salah seorang pembuat ketik sate di Banjar/Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Ia menuturkan jika orderan katik sate yang biasa ia buat menurun selama PPKM. Hal itu terjadi karena pembelian terhadap sate menurun. “Daya beli masyarakat turun, saya yang jual katik sate ikut kena dampak. Pembeli dulu biasanya makan ditempat, sekarang kan lebih banyak diam dirumah,” ujarnya Senin (23/8).

Lebih lanjut dirinya menuturkan jika sudah 10 tahun terakhir ini dirinya menjadi penyuplai katik sate ke sejumlah rumah makan atau warung yang menjual olahan sate dari ikan. “Selama pandemi Covid-19, baru kali ini usaha saya ikut kena dampak. Karena sebelumnya orderan masih tetap ada,” sambungnya.

Padahal kata dia, katik sate buatannya sangat diminati pelanggan karena memiliki kualitas yang baik. “Pekerjaan saya bisa diadu. Halus dan rapi,” ujarnya.

Selain daya beli masyarakat yang menurun, pasokan ikan dari Pasar Kedonganan juga menipis sehingga warung dan rumah makan tidak begitu banyak mengolah ikan. Kondisi itu pun membuat dirinya merana. Terlebih katik sate dari bambu yang ia buat tidak bisa didiamkan dalam waktu lama. “Kalau dibiarkan, ini bisa jamuran kayunya, dari bambu. Kalau sudah jamuran, pedagang tahu ini bekas jamur dari baunya yang apek, lembab dan mudah keropos, ya tidak mau dibeli,” jelasnya. 

Maka dari itu ia berencana akan mengobral katik sate buatannya agar tidak mubazir, mengingat PPKM tidak bisa diprediksi kapan berakhir. Biasanya ia menjual katik sate Rp 7.000 untuk 100 batang katik sate. “Mungkin saya akan coba bawa ke Lodtunduh., daripada diam begini, tidak ada hasil. Yang penting terjual saja,” tandas Sumerta. 


Most Read

Artikel Terbaru

/