alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Pemulung TPA Suwung Menjerit, Alumni Akpol 93 Beri Sembako

DENPASAR, BALI EXPRESS – Dampak pandemi Covid-19 dirasakan semua sektor dan lapisan masyarakat, bahkan hingga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Tak terkecuali para pemulung yang penghasilannya berkurang karena harga jual rongsokannya terjun bebas.

Kesulitan masyarakat itulah yang melandasi Bataliyon Pesat Gatra Alumni Akpol 1993, untuk menyalurkan bantuan berupa paket sembako kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19. Kali ini, 100 paket sembako disalurkan untuk warga yang berprofesi sebagai pemulung, sopir dan pengepul sampah di TPA Suwung Denpasar Selatan, Senin (23/8).

Salah satu perwakilan Alumni Akpol 93 yang bertugas di Bali, yakni Ditpolairud Polda Bali, Kombespol Toni Ariadi Efendi didampingi jajarannya mengatakan kegiatan tersebut adalah wujud tali kasih dari Bataliyon Pesat Gatra Alumni Akpol 93. “Semoga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang kesulitan dalam musim pandemi,” ujarnya saat memimpin acara itu di TPA Suwung.

Sementara itu, salah seorang warga penerima sembako bernama Agus Salim, 42, menyampaikan keluh kesahnya bekerja sebagai pemulung di masa pandemi ini. “Pandemi Covid-19 ini membuat kami pemulung ini susah. Harga barang rongsokan turun, sehingga penghasilan juga turun,” bebernya.

Dirinya sampai dilema lantaran hidup di Bali susah, namun ingin pulang ke kampung halamannya di Bojonegoro, Jawa Timur juga akan kesusahan karena tak ada pekerjaan lagi. “Penghasilan bersih saya kalau irit bisa sampai Rp dua juta sebulan. Saya hidup sendiri sebulan saja tak cukup dengan uang Rp 500 ribu, belum untuk keluarga di kampung,” tandasnya.

Sehingga ketika mendapatkan bantuan berupa sembako, dirinya sangat bersyukur. Agus mengaku sebetulnya bantuan semacam ini sudah tiga kali ia terima, dengan didata melalui ketua pemulung di area tersebut. “Saya berterima kasih dengan bantuan ini setidaknya beban kebutuhan hidup dapat diringankan, Uang hasil mulung bisa disisihkan lebih untuk keluarga di kampung,” tutupnya.

Setelah di TPA Suwung, Dirpolair melanjutkan acara bagi-bagi ratusan paket sembako di tiga tempat lainnya yakni di Panti Asuhan Orphanage Ebenhaezer Jalan Palapa 4 Nomor D2D4, Denpasar Selatan dan Yayasan Dharma Jati II Tembau. Terakhir sembako diberikan kepada warga di enam Dusun dari Desa Lemongan, bertempat di  Balai Desa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, dengan diwakili Wadirpolair Polda Bali, AKBP Wahyudi Wicaksana.

Untuk diketahui, sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di kawasan Kampung Bugis, Serangan, Denpasar Selatan, Sabtu (21/8). Pembagian sembako tersebut merupakan bagian dari 15 ribu paket sembako yang dibagikan di seluruh Indonesia, dan Bali khusunya sebanyak dua ribu. (ges)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Dampak pandemi Covid-19 dirasakan semua sektor dan lapisan masyarakat, bahkan hingga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Tak terkecuali para pemulung yang penghasilannya berkurang karena harga jual rongsokannya terjun bebas.

Kesulitan masyarakat itulah yang melandasi Bataliyon Pesat Gatra Alumni Akpol 1993, untuk menyalurkan bantuan berupa paket sembako kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19. Kali ini, 100 paket sembako disalurkan untuk warga yang berprofesi sebagai pemulung, sopir dan pengepul sampah di TPA Suwung Denpasar Selatan, Senin (23/8).

Salah satu perwakilan Alumni Akpol 93 yang bertugas di Bali, yakni Ditpolairud Polda Bali, Kombespol Toni Ariadi Efendi didampingi jajarannya mengatakan kegiatan tersebut adalah wujud tali kasih dari Bataliyon Pesat Gatra Alumni Akpol 93. “Semoga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang kesulitan dalam musim pandemi,” ujarnya saat memimpin acara itu di TPA Suwung.

Sementara itu, salah seorang warga penerima sembako bernama Agus Salim, 42, menyampaikan keluh kesahnya bekerja sebagai pemulung di masa pandemi ini. “Pandemi Covid-19 ini membuat kami pemulung ini susah. Harga barang rongsokan turun, sehingga penghasilan juga turun,” bebernya.

Dirinya sampai dilema lantaran hidup di Bali susah, namun ingin pulang ke kampung halamannya di Bojonegoro, Jawa Timur juga akan kesusahan karena tak ada pekerjaan lagi. “Penghasilan bersih saya kalau irit bisa sampai Rp dua juta sebulan. Saya hidup sendiri sebulan saja tak cukup dengan uang Rp 500 ribu, belum untuk keluarga di kampung,” tandasnya.

Sehingga ketika mendapatkan bantuan berupa sembako, dirinya sangat bersyukur. Agus mengaku sebetulnya bantuan semacam ini sudah tiga kali ia terima, dengan didata melalui ketua pemulung di area tersebut. “Saya berterima kasih dengan bantuan ini setidaknya beban kebutuhan hidup dapat diringankan, Uang hasil mulung bisa disisihkan lebih untuk keluarga di kampung,” tutupnya.

Setelah di TPA Suwung, Dirpolair melanjutkan acara bagi-bagi ratusan paket sembako di tiga tempat lainnya yakni di Panti Asuhan Orphanage Ebenhaezer Jalan Palapa 4 Nomor D2D4, Denpasar Selatan dan Yayasan Dharma Jati II Tembau. Terakhir sembako diberikan kepada warga di enam Dusun dari Desa Lemongan, bertempat di  Balai Desa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, dengan diwakili Wadirpolair Polda Bali, AKBP Wahyudi Wicaksana.

Untuk diketahui, sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di kawasan Kampung Bugis, Serangan, Denpasar Selatan, Sabtu (21/8). Pembagian sembako tersebut merupakan bagian dari 15 ribu paket sembako yang dibagikan di seluruh Indonesia, dan Bali khusunya sebanyak dua ribu. (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/