alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Polres Tabanan Sita 30 Ribu Butir Pil Gedek-gedek

TABANAN, BALI EXPRESS – Satuan Narkoba Polres Tabanan kembali berhasil membongkar jaringan peredaran gelap narkotika lintas provinsi. Bahkan kali ini jenis dan jumlah barang buktinya terhitung cukup besar. Sebab, selain menyita narkotika jenis sabu-sabu, pengungkapan ini juga mengamankan 30 ribu butir lebih pil gedek-gedek atau yang lazim dikenal pil koplo.

 

Satu orang ditangkap dan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam proses pengungkapan kasus ini. Selain itu, dua orang terduga yang ikut terlibat dalam praktik bisnis gelap ini tengah diburu.

 

Satu tersangka yang kini masih dikorek keterangannya itu adalah Bagus Imam Aidin,19. Dia ditangkap pada Kamis (19/8) lalu di depan sebuah kamar hotel di Jalan Raya Denpasar Gilimanuk, Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri.

 

Itupun setelah petugas menguntit informasi dari masyarakat perihal kecurigaan adanya transaksi narkotika. Usut punya usut ternyata pelakunya mengarah pada tersangka.

 

Saat ditangkap, tersangka tidak hanya membawa sabu-sabu, tetapi barang bukti jenis lainnya yakni pil koplo. Polisi kemudian melakukan pengembangan sampai ke Denpasar. Yakni di sebuah kos-kosan di Jalan Karangsari 3, Desa Padangsambian, Denpasar Barat.

 

“Ini termasuk jaringan lintas provinsi. Karena barang-barangnya dari luar Bali,” sebut Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra saat memberikan keterangan perihal pengungkapkan kasus yang tengah disidik jajarannya, Senin (23/8).

 

Saat ini, sambungnya, pihaknya masih melakukan pengembangan. Mengingat masih ada dua terduga lainnya yang dicurigai kuat ikut terlibat dalam jaringan ini. Dua terduga itu menjadi pemasok dari sabu-sabu dan pil koplo tersebut.

 

“Menurut pengakuan tersangka, untuk sabu-sabu dia dapat dari Saudara berinisial T. Dia mengaku belum pernah bertemu. Selama ini komunikasinya lewat HP. Transaksinya juga jarak jauh,” imbuhnya.

 

Demikian juga dengan pil koplo. Tersangka mengaku dia bekerja sama dengan terduga lainnya yang berinisial A. Hanya saja saat penggerebekan, A sempat berkomunikasi dengan tersangka. Diduga saat itu A sudah curiga bahwa rekannya sudah diringkus.

 

“Tersangka ini mengakunya tinggal bersama dengan A. Tapi saya sudah instruksikan untuk melakukan pengembangan lagi dan mengejar kedua orang terduga lainnya itu,” imbuh Ranefli.

 

Secara rinci, barang bukti yang berhasil diamankan dalam proses pengungkapan kasus ini terdiri dari sabu-sabu seberat 0,24 gram yang dikemas ke dalam beberapa paket kecil. Sabu-sabu ini disitas di lokasi pertama atau tempat tersangka ditangkap.

 

Kemudian 30.430 butir pil koplo yang terbagi ke dalam dua warna. Kuning dan putih. Untuk yang kuning berlogo DMP. Jumlahnya 12 ribu butir. Sementara yang putih berlogo Y jumlahnya 18.430 butir.

 

Di luar itu, barang bukti lainnya seperti sejumlah botol plastik yang menjadi wadah dari ribuan butir pil koplo tersebut. Seluruh botol itu disimpan di dalam sebuah tas gendong hitam. Kemudian unit ponsel yang dipakai untuk transaksi. Serta satu unit motor matik dengan dua plat berbeda yang dipakai agar tidak dicurigai siapapun.

 

“Kalau diuangkan nilai barang bukti ini lumayan banyak. Obat ini sebenarnya untuk anjing gila. Jadi efeknya bagi pemakainya gedek-gedek. Happy segala macam,” jelas Ranefli seraya menunjuk deretan paket besar pil koplo yang disita dari tersangka.

 

Dari pengakuan tersangka saja, satu paket kecil pil koplo saja dihargai Rp 30 sampai Rp 35 ribu. Itu setelah obat-obatan tersebut yang diterima dalam bentuk beberapa paket besar dibagi lagi menjadi paket-paket kecil.

 

“Dijualnya ketengan. Satu plastik (kecil) bisa dijual Rp 35 ribuan. Untuk sabu-sabunya lain lagi harganya,” pungkasnya.

 

Sementara itu, dari pengakuan singkat Bagus, barang-barang tersebut diperoleh dari luar Bali. Untuk sabu saja dia peroleh dari T. Hanya saja dia mengaku belum pernah bertemu sama sekali.

 

Selama ini transaksi dia lakukan dari jarak jauh. Komunikasi lewat aplikasi pesan singkat dan pembayaran dilakukan melalui transfer antarekening.

 

Sedangkan untuk pil koplo, dia mengaku kalau barang tersebut dia jual bekerja sama dengan A.

 

Menariknya lagi, Bagus mengaku kalau dirinya belum lama terjun ke bisnis haram ini. Baru enam bulanan. Itupun karena dirinya sudah tidak ada pilihan pekerjaan selepas dirumahkan dari sebuah restoran di wilayah Kuta akibat pandemi Covid-19. “Baru enam bulanan,” katanya singkat.

 

Untuk sementara, penyidik menjerat Bagus dengan dua pasal. Pertama Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang ancaman pidananya paling singkat empat tahun, paling lama 12 tahun, dan denda paling sedikit Rp 800 juta hingga yang terbanyak Rp 8 miliar.

 

Sedangkan untuk barang bukti pil koplo, tersangka diancam dengan Pasal 196 dan 197 Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancamannya pidana penjaranya paling lama 15 tahun dan denda palng banyak Rp 1,5 miliar.


TABANAN, BALI EXPRESS – Satuan Narkoba Polres Tabanan kembali berhasil membongkar jaringan peredaran gelap narkotika lintas provinsi. Bahkan kali ini jenis dan jumlah barang buktinya terhitung cukup besar. Sebab, selain menyita narkotika jenis sabu-sabu, pengungkapan ini juga mengamankan 30 ribu butir lebih pil gedek-gedek atau yang lazim dikenal pil koplo.

 

Satu orang ditangkap dan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam proses pengungkapan kasus ini. Selain itu, dua orang terduga yang ikut terlibat dalam praktik bisnis gelap ini tengah diburu.

 

Satu tersangka yang kini masih dikorek keterangannya itu adalah Bagus Imam Aidin,19. Dia ditangkap pada Kamis (19/8) lalu di depan sebuah kamar hotel di Jalan Raya Denpasar Gilimanuk, Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri.

 

Itupun setelah petugas menguntit informasi dari masyarakat perihal kecurigaan adanya transaksi narkotika. Usut punya usut ternyata pelakunya mengarah pada tersangka.

 

Saat ditangkap, tersangka tidak hanya membawa sabu-sabu, tetapi barang bukti jenis lainnya yakni pil koplo. Polisi kemudian melakukan pengembangan sampai ke Denpasar. Yakni di sebuah kos-kosan di Jalan Karangsari 3, Desa Padangsambian, Denpasar Barat.

 

“Ini termasuk jaringan lintas provinsi. Karena barang-barangnya dari luar Bali,” sebut Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra saat memberikan keterangan perihal pengungkapkan kasus yang tengah disidik jajarannya, Senin (23/8).

 

Saat ini, sambungnya, pihaknya masih melakukan pengembangan. Mengingat masih ada dua terduga lainnya yang dicurigai kuat ikut terlibat dalam jaringan ini. Dua terduga itu menjadi pemasok dari sabu-sabu dan pil koplo tersebut.

 

“Menurut pengakuan tersangka, untuk sabu-sabu dia dapat dari Saudara berinisial T. Dia mengaku belum pernah bertemu. Selama ini komunikasinya lewat HP. Transaksinya juga jarak jauh,” imbuhnya.

 

Demikian juga dengan pil koplo. Tersangka mengaku dia bekerja sama dengan terduga lainnya yang berinisial A. Hanya saja saat penggerebekan, A sempat berkomunikasi dengan tersangka. Diduga saat itu A sudah curiga bahwa rekannya sudah diringkus.

 

“Tersangka ini mengakunya tinggal bersama dengan A. Tapi saya sudah instruksikan untuk melakukan pengembangan lagi dan mengejar kedua orang terduga lainnya itu,” imbuh Ranefli.

 

Secara rinci, barang bukti yang berhasil diamankan dalam proses pengungkapan kasus ini terdiri dari sabu-sabu seberat 0,24 gram yang dikemas ke dalam beberapa paket kecil. Sabu-sabu ini disitas di lokasi pertama atau tempat tersangka ditangkap.

 

Kemudian 30.430 butir pil koplo yang terbagi ke dalam dua warna. Kuning dan putih. Untuk yang kuning berlogo DMP. Jumlahnya 12 ribu butir. Sementara yang putih berlogo Y jumlahnya 18.430 butir.

 

Di luar itu, barang bukti lainnya seperti sejumlah botol plastik yang menjadi wadah dari ribuan butir pil koplo tersebut. Seluruh botol itu disimpan di dalam sebuah tas gendong hitam. Kemudian unit ponsel yang dipakai untuk transaksi. Serta satu unit motor matik dengan dua plat berbeda yang dipakai agar tidak dicurigai siapapun.

 

“Kalau diuangkan nilai barang bukti ini lumayan banyak. Obat ini sebenarnya untuk anjing gila. Jadi efeknya bagi pemakainya gedek-gedek. Happy segala macam,” jelas Ranefli seraya menunjuk deretan paket besar pil koplo yang disita dari tersangka.

 

Dari pengakuan tersangka saja, satu paket kecil pil koplo saja dihargai Rp 30 sampai Rp 35 ribu. Itu setelah obat-obatan tersebut yang diterima dalam bentuk beberapa paket besar dibagi lagi menjadi paket-paket kecil.

 

“Dijualnya ketengan. Satu plastik (kecil) bisa dijual Rp 35 ribuan. Untuk sabu-sabunya lain lagi harganya,” pungkasnya.

 

Sementara itu, dari pengakuan singkat Bagus, barang-barang tersebut diperoleh dari luar Bali. Untuk sabu saja dia peroleh dari T. Hanya saja dia mengaku belum pernah bertemu sama sekali.

 

Selama ini transaksi dia lakukan dari jarak jauh. Komunikasi lewat aplikasi pesan singkat dan pembayaran dilakukan melalui transfer antarekening.

 

Sedangkan untuk pil koplo, dia mengaku kalau barang tersebut dia jual bekerja sama dengan A.

 

Menariknya lagi, Bagus mengaku kalau dirinya belum lama terjun ke bisnis haram ini. Baru enam bulanan. Itupun karena dirinya sudah tidak ada pilihan pekerjaan selepas dirumahkan dari sebuah restoran di wilayah Kuta akibat pandemi Covid-19. “Baru enam bulanan,” katanya singkat.

 

Untuk sementara, penyidik menjerat Bagus dengan dua pasal. Pertama Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang ancaman pidananya paling singkat empat tahun, paling lama 12 tahun, dan denda paling sedikit Rp 800 juta hingga yang terbanyak Rp 8 miliar.

 

Sedangkan untuk barang bukti pil koplo, tersangka diancam dengan Pasal 196 dan 197 Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancamannya pidana penjaranya paling lama 15 tahun dan denda palng banyak Rp 1,5 miliar.


Most Read

Artikel Terbaru

/