alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Kagumi Jegog, Menparekraf RI Ingin Ditampilkan di Perhelatan G-20

NEGARA, BALI EXPRESS – Menteri Pariwisata dan ekonomi kreatif  Sandiaga Salahuddin Uno berencana menampilkan kesenian jegog Jembrana dalam ajang pertemuan G- 20. Saat kunjungan ke Jembrana , Jegog alat musik tradisional berbahan bambu sempat memukau Sandiaga.

 

Menurutnya  dengan alunan suaranya yang khas, Jegog memiliki keunikan sehingga sangat layak ditampilkan. Terlebih alunan nada yang dihasilkan terdengar lembut dan romantis namun bisa juga terdengar garang ketika tempo dipercepat.

 

“Saya ingin Jegog jembrana ini tampil di G-20 di Bali. Jadi menghibur tamu-tamu negara sekaligus untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada negara luar,”  ujar sandi usai menghadiri pengukuhan 12 Desa Kreatif Kabupaten Jembrana di Dusun Moding, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Rabu (23/2).

 

Terkait pengembangan desa kreatif menurut Sandi sejalan dengan Keputusan Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif tentang Pedoman Pengembangan Desa Kreatif. Tujuannya  mengembangkan produk unggulan di satu atau lebih dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi desa.

 

Saat ini pihaknya disebut Sandiaga sudah membuat proyek percontohan didua desa di Indonesia. Salah satunya di Kabupaten Tanah Bumbu. Berikutnya Ia ingin merancang Dusun Moding di Desa Candikusuma sebagai program prioritas desa kreatif Indonesia.

 

Kepada pelaku ekonomi kreatif, Sandi berpesan agar mengembangkan  inovasi produk. Karena perlu dikolaborasikan dengan berbagai lini seperti contoh soal kemasan. Ia juga berharap pelaku ekonomi kreatif tetap bersemangat ditengah tantangan pandemi.

 

Menurutnya saat ini adalah waktu yang tepat membangkitkan ekonomi dan membuka peluang kerja. Salah satunya melalui pengembangan desa kreatif.

“Saya ingin mengutip pernyataan Pak Jokowi. Jika kita membangun desa, berati kita juga membangun negara. Karena itu prgram ini harus memberi manfaat dan tepat waktu bagi masyarakat yang ingin bangkit dan pulih,” paparnya.

 

Disisi lain Bupati Jembrana I Nengah Tamba membenarkan Jegog jembrana sebagai kekayaan daerah yang wajib dilestarikan. Karena itu Ia mengaku gembira Jegog jembrana diapresiasi Menparekraf bahkan ditampilkan dalam ajang sebesar G-20.

“Tentu kami berbangga sekali karena ini masukan langsung dari pak menteri (jegog) bukan usulan dari kami,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut Tamba menjelaskan salah satu kendala pelestarian jegog adalah ketersediaan bahan baku bahan. Jegog  sendiri juga perlu diremajakan agar kualitas suaranya terjaga. Salah satunya pergantian bilah bambu bahan instrumen jegog. Sementara untuk bambu yang kualitasnya layak sebagai bahan gamelan   hanya bisa disuply dari kabupaten tetangga . 

 

“Jegog ini susah bahannya karena bahannya dari luar Jembrana. Sedangkan kondisi alat seiring usia perlu peremajaan. Karena itu awal menjabat lalu, kami sudah menanam bambu, mudah-mudahan  hasilnya bisa terlihat 3-4 tahun lagi guna pelestarian seniman Jembrana,” jelasnya.

 

Sebanyak 12 desa di Jembrana dikukuhkan sebagai desa kreatif dan kampung kreatif berdasarkan keputusan bupati Jembrana nomor 119/Disparbud/2022 tentang penerapan desa kreatif. Desa – desa itu antara lain. Desa Candiksuma, Ekasari, Desa Kalialah, Desa Pengambengan, Kelurahan Loloan Timur, Kelurahan Sangkaragung, Desa Batuagung, Kelurahan Tegalcangkring

Desa Yehembang Kangin, Desa Yehembang Kauh, Desa Medewi, Desa Pengeragoan.

 

Hadir dalam kunjungan Menparekraf itu, Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna (Ipat), Ketua Asosiasi Desa Kreatif Indonesia Fikri El Aziz, forkopimda Jembrana serta perbekel dan tokoh masyarakat se- Kecamatan Melaya.






Reporter: Gede Riantory Warmadewa

NEGARA, BALI EXPRESS – Menteri Pariwisata dan ekonomi kreatif  Sandiaga Salahuddin Uno berencana menampilkan kesenian jegog Jembrana dalam ajang pertemuan G- 20. Saat kunjungan ke Jembrana , Jegog alat musik tradisional berbahan bambu sempat memukau Sandiaga.

 

Menurutnya  dengan alunan suaranya yang khas, Jegog memiliki keunikan sehingga sangat layak ditampilkan. Terlebih alunan nada yang dihasilkan terdengar lembut dan romantis namun bisa juga terdengar garang ketika tempo dipercepat.

 

“Saya ingin Jegog jembrana ini tampil di G-20 di Bali. Jadi menghibur tamu-tamu negara sekaligus untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada negara luar,”  ujar sandi usai menghadiri pengukuhan 12 Desa Kreatif Kabupaten Jembrana di Dusun Moding, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Rabu (23/2).

 

Terkait pengembangan desa kreatif menurut Sandi sejalan dengan Keputusan Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif tentang Pedoman Pengembangan Desa Kreatif. Tujuannya  mengembangkan produk unggulan di satu atau lebih dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi desa.

 

Saat ini pihaknya disebut Sandiaga sudah membuat proyek percontohan didua desa di Indonesia. Salah satunya di Kabupaten Tanah Bumbu. Berikutnya Ia ingin merancang Dusun Moding di Desa Candikusuma sebagai program prioritas desa kreatif Indonesia.

 

Kepada pelaku ekonomi kreatif, Sandi berpesan agar mengembangkan  inovasi produk. Karena perlu dikolaborasikan dengan berbagai lini seperti contoh soal kemasan. Ia juga berharap pelaku ekonomi kreatif tetap bersemangat ditengah tantangan pandemi.

 

Menurutnya saat ini adalah waktu yang tepat membangkitkan ekonomi dan membuka peluang kerja. Salah satunya melalui pengembangan desa kreatif.

“Saya ingin mengutip pernyataan Pak Jokowi. Jika kita membangun desa, berati kita juga membangun negara. Karena itu prgram ini harus memberi manfaat dan tepat waktu bagi masyarakat yang ingin bangkit dan pulih,” paparnya.

 

Disisi lain Bupati Jembrana I Nengah Tamba membenarkan Jegog jembrana sebagai kekayaan daerah yang wajib dilestarikan. Karena itu Ia mengaku gembira Jegog jembrana diapresiasi Menparekraf bahkan ditampilkan dalam ajang sebesar G-20.

“Tentu kami berbangga sekali karena ini masukan langsung dari pak menteri (jegog) bukan usulan dari kami,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut Tamba menjelaskan salah satu kendala pelestarian jegog adalah ketersediaan bahan baku bahan. Jegog  sendiri juga perlu diremajakan agar kualitas suaranya terjaga. Salah satunya pergantian bilah bambu bahan instrumen jegog. Sementara untuk bambu yang kualitasnya layak sebagai bahan gamelan   hanya bisa disuply dari kabupaten tetangga . 

 

“Jegog ini susah bahannya karena bahannya dari luar Jembrana. Sedangkan kondisi alat seiring usia perlu peremajaan. Karena itu awal menjabat lalu, kami sudah menanam bambu, mudah-mudahan  hasilnya bisa terlihat 3-4 tahun lagi guna pelestarian seniman Jembrana,” jelasnya.

 

Sebanyak 12 desa di Jembrana dikukuhkan sebagai desa kreatif dan kampung kreatif berdasarkan keputusan bupati Jembrana nomor 119/Disparbud/2022 tentang penerapan desa kreatif. Desa – desa itu antara lain. Desa Candiksuma, Ekasari, Desa Kalialah, Desa Pengambengan, Kelurahan Loloan Timur, Kelurahan Sangkaragung, Desa Batuagung, Kelurahan Tegalcangkring

Desa Yehembang Kangin, Desa Yehembang Kauh, Desa Medewi, Desa Pengeragoan.

 

Hadir dalam kunjungan Menparekraf itu, Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna (Ipat), Ketua Asosiasi Desa Kreatif Indonesia Fikri El Aziz, forkopimda Jembrana serta perbekel dan tokoh masyarakat se- Kecamatan Melaya.






Reporter: Gede Riantory Warmadewa

Most Read

Artikel Terbaru

/