alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Residivis Pencurian Sarangkan 15 Tusukan di Tubuh Dokter Hewan

TABANAN, BALI EXPRESS – Penyidik Polres Tabanan telah menetapkan Ida Bagus Ketut Alit Surya Ambara alias Surya Brasco,41, sebagai tersangka pembunuhan, Selasa (23/3) petang di Banjar Riang Darma Kelod, Tabanan.

Korbannya masih terhitung satu desa, yakni Drh. I Made Kompyang Artawan alias Pak Dipa, 47, yang setiap harinya menjalankan bisnis material bangunan.

Sekalipun telah ditetapkan sebagai tersangka, motif pelaku menusuk korban dengan pisau lipat sekaligus gantungan kunci motornya, masih belum gamblang. Pasalnya, dari hasil pemeriksaan sementara, motif yang terungkap adalah pelaku tersinggung karena didatangi korban.

Di sisi lain, informasinya dalam setahun terakhir ini, pelaku dan korban, sudah ada bibit-bibit perselisihan. Tiap papasan selalu saling adu pandang. Sampai puncaknya, Selasa (23/3) petang.

Dalam kronologis yang disampaikan secara resmi oleh pihak Kepolisian melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Tabanan, AKP Aji Yoga Sekar, insiden berdarah itu terjadi di jalan desa yang masuk lingkungan Banjar Riang Darma Kelod, Tabanan. Persis di depan rumah pelaku sekitar pukul 18.30 Wita.

“Pada saat itu, pelaku berada di depan rumahnya. Duduk di atas motor. Tiba-tiba korban menghampiri pelaku dengan menggunakan sepeda motor. Pelaku seketika terpancing emosinya lalu melakukan penusukan kepada korban,” jelas Aji Yoga, Rabu (24/3).

Dari pengakuan pelaku, sambungnya, penusukan itu dilakukan secara spontanitas setelah tersulut emosinya. Kebetulan di saat yang sama pelaku masih memegang kunci motor yang hendak diparkirnya. Gantungan kunci motor itu berupa pisau lipat.

Tanpa ada komunikasi, pelaku langsung menusuk bagian pinggang sisi kiri sampai leher korban. “Spontanitas. Sedangkan kepentingan korban lewat ke situ masih kami dalami,” jelasnya.

Tusukan itu dilakukan dalam posisi pelaku duduk di atas motor. Begitu juga dengan korban, masih dalam posisi duduk di atas motor.

“Jumlah tusukannya sampai saat ini masih kami pastikan melalui hasil otopsi. Tapi sampai detik ini, informasi dari rumah sakit menyatakan 15 luka tusuk dan dua luka baret,” imbuhnya.

Kendati mendapatkan tusukan bertubi-tubi secara mendadak, korban sempat melakukan perlawanan. Korban turun dari motornya. Begitu juga dengan pelaku.

Dalam posisi saling berhadap, korban berusaha mendaratkan pukulan ke arah wajah pelaku sebanyak dua kali. Hanya saja, dua pukulan tersebut meleset. Hingga korban akhirnya diduga mencari pertolongan dengan berjalan ke arah selatan.

Menurut Aji Yoga, sudah sepuluh orang saksi yang diperiksa terkait peristiwa yang berujung maut itu. Baik saksi di dekat lokasi kejadian, saksi yang membawa korban ke rumah sakit, sampai dengan keluarga korban.

“Pada saat itu mayoritas saksi tidak melihat (kejadian), karena pelaku dan korban ini berpisah. Pelaku ke rumahnya dan korban pergi (meninggalkan motornya) minta tolong, berjalan, sampai ambruk,” jelasnya.

Apa sebatas emosi lalu spontan melakukan penusukan? Dipertegas dengan pertanyaan itu, Aji Yoga tidak banyak menerangkan. Dia hanya menyebutkan, kemungkinan lain mengenai motif, termasuk yang mengarah pada kemungkinan adanya konflik antar pelaku dan korban masih didalami. “Kami masih mendalami koflik antar pelaku dan korban,” katanya.

Selebihnya, dia menyebutkan pelaku yang sudah dua kali residivis dalam kasus pencurian dan perjudian tersebut dijerat dengan Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.

Sedangkan barang bukti dari insiden berdarah itu antara lain satu bilah pisau lipat yang juga gantungan kunci motor pelaku. Sepeda unit motor Yamaha Aerox DK 6346 FAL milik pelaku.

Kemudian satu unit motor Honda Beat hitam DK 2036 GAF milik korban. Selanjutnya selembar baju kaos hitam, selembar baju merah gelap berisi darah, dan selembar celana jeans pendek warna biru berisi darah.

Sampai dengan kemarin jenazah korban masih dalam proses otopsi di Rumah Sakit Sanglah. Sementara itu, pihak keluarga masih shock dengan kejadian tersebut dan enggan berkomentar.

Di sisi lain, desa adat setempat rencananya akan melakukan upacara prascita di lokasi kejadian. Ini sebagaimana yang diungkapkan Bendesa Adat Riang Gede, Ida Bagus Garga. “Kapan itu, kami perlu paruman dulu dengan para prajuru. Sedangkan untuk upacara di rumah duka, itu tentunya keputusan dari keluarga,” ujarnya, saat dijumpai di rumah duka.

Selaku tokoh adat, dia juga kaget dengan kejadian tersebut. Terlebih, dia tidak asing dengan korban. Karena sekitar dua tahun lalu baru saja selesai sebagai penyatusan.

“Beliau yang mengkooridinir tiga banjar adat dari sembilan banjar adat di sini. Kebetulan Banjar Adat Riang, Darma, dan Kelod dalam satu Pura Dalem. Kalau tidak salah dua tahun lalu dia (korban) selesai sebagai penyatusan. Selama menjalankan tugas itu, orangnya rajin,” tukasnya. 

 


TABANAN, BALI EXPRESS – Penyidik Polres Tabanan telah menetapkan Ida Bagus Ketut Alit Surya Ambara alias Surya Brasco,41, sebagai tersangka pembunuhan, Selasa (23/3) petang di Banjar Riang Darma Kelod, Tabanan.

Korbannya masih terhitung satu desa, yakni Drh. I Made Kompyang Artawan alias Pak Dipa, 47, yang setiap harinya menjalankan bisnis material bangunan.

Sekalipun telah ditetapkan sebagai tersangka, motif pelaku menusuk korban dengan pisau lipat sekaligus gantungan kunci motornya, masih belum gamblang. Pasalnya, dari hasil pemeriksaan sementara, motif yang terungkap adalah pelaku tersinggung karena didatangi korban.

Di sisi lain, informasinya dalam setahun terakhir ini, pelaku dan korban, sudah ada bibit-bibit perselisihan. Tiap papasan selalu saling adu pandang. Sampai puncaknya, Selasa (23/3) petang.

Dalam kronologis yang disampaikan secara resmi oleh pihak Kepolisian melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Tabanan, AKP Aji Yoga Sekar, insiden berdarah itu terjadi di jalan desa yang masuk lingkungan Banjar Riang Darma Kelod, Tabanan. Persis di depan rumah pelaku sekitar pukul 18.30 Wita.

“Pada saat itu, pelaku berada di depan rumahnya. Duduk di atas motor. Tiba-tiba korban menghampiri pelaku dengan menggunakan sepeda motor. Pelaku seketika terpancing emosinya lalu melakukan penusukan kepada korban,” jelas Aji Yoga, Rabu (24/3).

Dari pengakuan pelaku, sambungnya, penusukan itu dilakukan secara spontanitas setelah tersulut emosinya. Kebetulan di saat yang sama pelaku masih memegang kunci motor yang hendak diparkirnya. Gantungan kunci motor itu berupa pisau lipat.

Tanpa ada komunikasi, pelaku langsung menusuk bagian pinggang sisi kiri sampai leher korban. “Spontanitas. Sedangkan kepentingan korban lewat ke situ masih kami dalami,” jelasnya.

Tusukan itu dilakukan dalam posisi pelaku duduk di atas motor. Begitu juga dengan korban, masih dalam posisi duduk di atas motor.

“Jumlah tusukannya sampai saat ini masih kami pastikan melalui hasil otopsi. Tapi sampai detik ini, informasi dari rumah sakit menyatakan 15 luka tusuk dan dua luka baret,” imbuhnya.

Kendati mendapatkan tusukan bertubi-tubi secara mendadak, korban sempat melakukan perlawanan. Korban turun dari motornya. Begitu juga dengan pelaku.

Dalam posisi saling berhadap, korban berusaha mendaratkan pukulan ke arah wajah pelaku sebanyak dua kali. Hanya saja, dua pukulan tersebut meleset. Hingga korban akhirnya diduga mencari pertolongan dengan berjalan ke arah selatan.

Menurut Aji Yoga, sudah sepuluh orang saksi yang diperiksa terkait peristiwa yang berujung maut itu. Baik saksi di dekat lokasi kejadian, saksi yang membawa korban ke rumah sakit, sampai dengan keluarga korban.

“Pada saat itu mayoritas saksi tidak melihat (kejadian), karena pelaku dan korban ini berpisah. Pelaku ke rumahnya dan korban pergi (meninggalkan motornya) minta tolong, berjalan, sampai ambruk,” jelasnya.

Apa sebatas emosi lalu spontan melakukan penusukan? Dipertegas dengan pertanyaan itu, Aji Yoga tidak banyak menerangkan. Dia hanya menyebutkan, kemungkinan lain mengenai motif, termasuk yang mengarah pada kemungkinan adanya konflik antar pelaku dan korban masih didalami. “Kami masih mendalami koflik antar pelaku dan korban,” katanya.

Selebihnya, dia menyebutkan pelaku yang sudah dua kali residivis dalam kasus pencurian dan perjudian tersebut dijerat dengan Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.

Sedangkan barang bukti dari insiden berdarah itu antara lain satu bilah pisau lipat yang juga gantungan kunci motor pelaku. Sepeda unit motor Yamaha Aerox DK 6346 FAL milik pelaku.

Kemudian satu unit motor Honda Beat hitam DK 2036 GAF milik korban. Selanjutnya selembar baju kaos hitam, selembar baju merah gelap berisi darah, dan selembar celana jeans pendek warna biru berisi darah.

Sampai dengan kemarin jenazah korban masih dalam proses otopsi di Rumah Sakit Sanglah. Sementara itu, pihak keluarga masih shock dengan kejadian tersebut dan enggan berkomentar.

Di sisi lain, desa adat setempat rencananya akan melakukan upacara prascita di lokasi kejadian. Ini sebagaimana yang diungkapkan Bendesa Adat Riang Gede, Ida Bagus Garga. “Kapan itu, kami perlu paruman dulu dengan para prajuru. Sedangkan untuk upacara di rumah duka, itu tentunya keputusan dari keluarga,” ujarnya, saat dijumpai di rumah duka.

Selaku tokoh adat, dia juga kaget dengan kejadian tersebut. Terlebih, dia tidak asing dengan korban. Karena sekitar dua tahun lalu baru saja selesai sebagai penyatusan.

“Beliau yang mengkooridinir tiga banjar adat dari sembilan banjar adat di sini. Kebetulan Banjar Adat Riang, Darma, dan Kelod dalam satu Pura Dalem. Kalau tidak salah dua tahun lalu dia (korban) selesai sebagai penyatusan. Selama menjalankan tugas itu, orangnya rajin,” tukasnya. 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/