26.5 C
Denpasar
Monday, May 29, 2023

Kembali Ditertibkan, Peneduh Diatas Trotoar Pasar Tumpah Sukawati Dibongkar

GIANYAR, BALI EXPRESS – Sesuai dengan instruksi Bupati Gianyar bahwa setelah hari suci Nyepi, atap atau peneduh yang dipasang pedagang di atas trotoar harus dibongkar, maka lapak-lapak pedagang pasar tumpah di Desa/Kecamatan Sukawati pun kembali ditertibkan Jumat (24/3). Penertiban melibatkan tim gabungan dari Satpol PP Kabupaten Gianyar, Prajuru Adat Sukawati, Pemerintahan Desa Sukawati, dan aparat TNI/Polri.

Sebelumnya, Bupati Gianyar Made Mahayastra mengatakan bahwa penertiban pasar tumpah di Sukawati harus konsisten dilakukan sesuai dengan Perda 15 Tahun 2015. Dimana sesuai skenario pemerintah, eks pedagang Pasar Umum Sukawati harusnya pindah berjualan di relokasi Pasar di Banjar Gelumpang.

Namun memang setelah diuji coba, pasar itu sepi pembeli karena jauh dari pusat kota kecamatan. Padahal menurut Mahayastra, jika pedagang kompak pindah maka pembeli akan mengikuti.

Baca Juga :  Fraksi PDIP Sebut Realisasi Pendapatan dan Belanja Sangat Realistis  

Terkait hal tersebut, Bendesa Adat Sukawati Made Sarwa menjelaskan bahwa desa adat terus berupaya mengedukasi pedagang untuk mau berjualan di Pasar Relokasi Gelumpang. “Kami Desa Adat tetap berupaya mengedukasi pedagang untuk mau berjualan di pasar relokasi Gelumpang. Demi ketertiban dan kenyamanan desa Sukawati,” ungkapnya.

Sedangkan mengenai informasi dibatasinya ambal-ambal untuk tempat berjualan, Sarwa menyebutkan jika desa adat tidak ada melarang. “Kami Desa adat tidak ada melarang tidak boleh berjualan di ambal-ambal. Boleh, tetapi tetap menjaga ketertiban dan tidak melanggar perda 15 tahun 2015. Dengan catatan juga, harus melaporkan kepada Kelian atau Desa Adat,” pungkasnya.

Salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa pemerintah semestinya memiliki win win solutions terkait kondisi tersebut. Jangan sampai pemerintah hanya bisa membangun (Pasar Relokasi) tanpa melakukan kajian terlebih dahulu. “Menurut saya itu kurang kajian, mungkin pemerintah malu kalau programnya gagal, sehingga kita yang dibawah dibenturkan,” ujar pedagang tersebut.

Baca Juga :  Command Center Badung Ditarget Berfungsi Pertengahan Tahun

Namun ia mengaku pasrah atas kondisi tersebut. “Susah kalau diceritakan, kira pedagang hidup dari pembeli. Zaman sekarang pembeli pasti mencari pedagang yang mudah dijangkau biar efisien. Kalau di Gelumpang (Pasar Relokasi) benar-benar tidak ada yang belanja, mau bagaimana lagi sekarang,” tandasnya. (ras)


GIANYAR, BALI EXPRESS – Sesuai dengan instruksi Bupati Gianyar bahwa setelah hari suci Nyepi, atap atau peneduh yang dipasang pedagang di atas trotoar harus dibongkar, maka lapak-lapak pedagang pasar tumpah di Desa/Kecamatan Sukawati pun kembali ditertibkan Jumat (24/3). Penertiban melibatkan tim gabungan dari Satpol PP Kabupaten Gianyar, Prajuru Adat Sukawati, Pemerintahan Desa Sukawati, dan aparat TNI/Polri.

Sebelumnya, Bupati Gianyar Made Mahayastra mengatakan bahwa penertiban pasar tumpah di Sukawati harus konsisten dilakukan sesuai dengan Perda 15 Tahun 2015. Dimana sesuai skenario pemerintah, eks pedagang Pasar Umum Sukawati harusnya pindah berjualan di relokasi Pasar di Banjar Gelumpang.

Namun memang setelah diuji coba, pasar itu sepi pembeli karena jauh dari pusat kota kecamatan. Padahal menurut Mahayastra, jika pedagang kompak pindah maka pembeli akan mengikuti.

Baca Juga :  Stroke, Seniman Lawak Legendaris Dadap Meninggal

Terkait hal tersebut, Bendesa Adat Sukawati Made Sarwa menjelaskan bahwa desa adat terus berupaya mengedukasi pedagang untuk mau berjualan di Pasar Relokasi Gelumpang. “Kami Desa Adat tetap berupaya mengedukasi pedagang untuk mau berjualan di pasar relokasi Gelumpang. Demi ketertiban dan kenyamanan desa Sukawati,” ungkapnya.

Sedangkan mengenai informasi dibatasinya ambal-ambal untuk tempat berjualan, Sarwa menyebutkan jika desa adat tidak ada melarang. “Kami Desa adat tidak ada melarang tidak boleh berjualan di ambal-ambal. Boleh, tetapi tetap menjaga ketertiban dan tidak melanggar perda 15 tahun 2015. Dengan catatan juga, harus melaporkan kepada Kelian atau Desa Adat,” pungkasnya.

Salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa pemerintah semestinya memiliki win win solutions terkait kondisi tersebut. Jangan sampai pemerintah hanya bisa membangun (Pasar Relokasi) tanpa melakukan kajian terlebih dahulu. “Menurut saya itu kurang kajian, mungkin pemerintah malu kalau programnya gagal, sehingga kita yang dibawah dibenturkan,” ujar pedagang tersebut.

Baca Juga :  Fraksi PDIP Sebut Realisasi Pendapatan dan Belanja Sangat Realistis  

Namun ia mengaku pasrah atas kondisi tersebut. “Susah kalau diceritakan, kira pedagang hidup dari pembeli. Zaman sekarang pembeli pasti mencari pedagang yang mudah dijangkau biar efisien. Kalau di Gelumpang (Pasar Relokasi) benar-benar tidak ada yang belanja, mau bagaimana lagi sekarang,” tandasnya. (ras)


Most Read

Artikel Terbaru