alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Tenggelam Sedalam 850 Meter, KRI Nanggala-402 Diduga Retak

BADUNG, BALI EXPRESS – Pencarian terhadap hilangnya kapal selam milik TNI AL KRI Nanggala-402 mulai menemui titik terang. Tim pencari berhasil menemukan beberapa serpihan yang diyakini berasal dari kapal tersebut. Hal itu dijadikan sebagai bukti autentik untuk menaikkan status Kasel (kapal selam) dari Submiss (hilang) menjadi Subsunk (tenggelam).

Perkembangan tersebut disampaiakan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, didampingi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, melalui konferensi pers di Baseops Lanud I Gusti Ngurah Rai yang menjadi media senter dalam pencarian KRI Nanggala-402, Sabtu (24/4). 

Dijelaskannya, dalam fase Submiss unsur-unsur TNI AL yang dikerahkan masih melakukan pendeteksian sampai saat ini, dibantu oleh empat kapal Polri, dua kapal Bakamla, dan juga bantuan dari negara sahabat, seperti dua kapal Australia yang sudah berpartisipasi dan kapal dari Singapura, juga Malaysia masih dalam perjalanan. 

“KRI Rigel telah bekerja dan sampai saat ini sedang melakukan pendeteksian lanjutan untuk meyakinkan kontak-kontak bawah air di sekitar posisi terakhir kapal selam terlihat,” tandas Yudo Margono.

Hasil pencarian hingga saat ini telah ditemukan beberapa kepingan atau serpihan dan barang-barang yang berada di sekitar lokasi terakhir KRI Nanggala-402 terlihat saat menyelam. 

Serpihan itu diyakini merupakan bagian atau komponen yang melekat di kapal selam. Barang tetsebut ditemukan mengapung bersama tumpahan minyak saat hari kedua dan ketiga. Posisi temuannya berjarak 2 mil di selatan dari posisi saat kapal menyelam karena diduga terkena arus. 

Dikatakannya, sebenarnya ditemukan beberapa sampah lain, namun hanya yang diyakini sebagai milik KRI Nanggala-402 saja yang diambil. Ditambahkan

Yudo Margono, serpihan tersebut tidak akan terangkat keluar kapal apabila tidak ada tekanan dari luar atau terjadi keretakan dari peluncur torpedo. 

“Bukti-bukti yang terapung bersama temuan lainnya, seperti tumpahan minyak dan oli diyakini adalah milik KRI Nanggala-402 dan barang ini tidak dimiliki oleh umum, juga di sekitar radius 10 mil tidak ada kapal lain yang melintas,” tuturnya.

Baca Juga :  Tragedi Jukung Terbalik, Sulihin Belum Ditemukan

Keyakinan tersebut juga berdasar dari para ahli dalam hal ini, adalah mantan ABK KRI Nanggala dan komunitas kapal selam. Serpihan-serpihan itu bahkan ditampilkan dalam konferensi pers tersebut. 

Terdapat benda berwarna hitam disebut sebagai pelurus tabung torpedo. Kemudian benda berbentuk memanjang berwarna abu adalah pembungkus pipa pendingin yang berisikan tulisan Korea. Diketahui KRI Nanggala pada 2012 pernah menjalani overhaul di Korea. Lalu ada botol warna oranye yang di dalamnya digunakan untuk pelumasan naik turunnya periskop kapal selam.

Benda lainnya adalah alas yang dipakai oleh ABK KRI Nanggala-402 untuk sholat yang diyakini oleh mantan awak kapal tersebut. Adapun benda seperti potongan spons adalah untuk penahan panas pada press room supaya tidak terjadi kondensasi. 

Kemudian ada temuan solar sudah terpantau dari udara. Radiusnya dikatakan telah meluas dari sebelumnya seluas 10 mil. “Dengan adanya bukti autentik ini, maka saat ini kami isyaratkan dari Submiss ditngkatkan menuju fase Subsunk,” tegasnya.

Tindak lanjut yang akan dilakukan dalam fase Subsunk, yakni mempersiapkan evakuasi medis terhadap abak buah kapal (ABK) yang kemungkinan selamat. 

Evakusi akan ditujukan, baik ke Surabaya atau Banyuwangi. Unsur-unsur pencarian dan bantuan negara sahabat yang berdatangan akan terus berusaha maksimal karena menurut deteksi terbaru, posisi kapal selam diduga ada di kedalaman laut 850 meter. 

“Ini sangat riskan dan memiliki kesulitan yang tinggi, baik untuk ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) dan pengangkatan nantinya,” ujarnya.

Disampaikan juga, dari temuan serpihan kemungkinan besar yang terjadi pada KRI Nanggala-402 adalah retakan pada bagian kapal pada fase-fase melewati kedalaman 300, 400 lalu  500 meter, dan bukanlah ledakan. Karena, jika terjadi ledakan pasti telah didengar oleh sonar dan bagian kapal akan hancur lebur. 

Namun, yang menjadi kekhawatiran adalah kedalaman posisi KRI Nanggala-402 diperkirakan pada 700 sampai 800 meter.  “Apalagi yang teplon yang untuk penahan atau pelurusnya torpedo suit sampai bisa keluar, berarti terjadi keretakan yang besar,” lanjutnya. 

Baca Juga :  Gianyar Tambah 4 Kasus, PNS hingga IRT

Dari keretakan itu, terdapat dua  kemungkinan, yakni air masuk ke dalam kapal dan kemungkinan bagian tertentu, seperti kabin tidak bisa dimasuki air, karena memiliki sistem sekat yang jika ditutup, air tidak bisa masuk.

Dalam pencarian telah dibagi menjadi beberapa sektor dalam radius 10 mil. Untuk kapal-kapal yang memiliki peralatan penyelamat seperti MV Swift Rescue berupa ROV yang dapat mencari di kedalaman 900 hingga 1000 meter, ditempatkan dekat dengan KRI Rigel. Sehingga jika hasil pendeteksian terbukti, kalau itu Nanggala-402 akan langsung ditindaklanjuti. Fregat HMAS Ballarat akan ditempatkan dekat juga, karena memiliki helikopter untuk melaksanakan deteksi bawah air.

Disinggung terkait proses evakuasi, pihaknya menjelaskan ada organisasi bernama Internasional Submarine Escape and Rescue Liaison Office (Ismerlo) yang sudah 2 tahun membicarakan bagaimana penyelamatan kapal selam. 

Mereka menerjunkan kapal dan akan melakukan langkah evakuasi. Prosesnya pun dikatakan dengan cara dihembus, yaitu selang dimasukkan ke dalam pipa-pipa yang ada di kapal selam, lalu dihembus dengan kecepatan tinggi sehingga posisi kasel dapat naik. Kemudian dengan cara diangkat oleh MV Swift Rescue menggunakan kapal selam mini, berikut robotik di bawah untuk memasang peralatan. 

Terkait batas oksigen 72 jam yang telah habis, lanjutnya, kemungkinan ABK selamat masih ada. Karena batas oksigen tiga hari itu adalah saat blackout (tanpa kelistrikan) dan ketika tidak blackout bisa sampai lima hari. 

“Kami belum bisa tentukan apakah benar blackout atau tidak, karena saat diikuti Kopaska saat kapal ini menyelam ke air, lampu kapal masih menyala dan isyarat untuk peran tempur masih terdengar oleh kapal penjejak Kopaska dari 50 meter,” ucapnya.

Sementara Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, semua merasa sangat kehilangan. Disampaikannya kepada seluruh awak yang onboard di KRI Nanggala-402 bahwa pihaknya merasa sangat prihatin. 

“Saya sebagai panglima mewakili seluruh prajurit keluarga besar TNI, saya sampaikan rasa prihatain yang mendalam, kita sama sama doakan agar proses pencarian bisa dilaksanakan dengan lancar,” harapnya. (ges)


BADUNG, BALI EXPRESS – Pencarian terhadap hilangnya kapal selam milik TNI AL KRI Nanggala-402 mulai menemui titik terang. Tim pencari berhasil menemukan beberapa serpihan yang diyakini berasal dari kapal tersebut. Hal itu dijadikan sebagai bukti autentik untuk menaikkan status Kasel (kapal selam) dari Submiss (hilang) menjadi Subsunk (tenggelam).

Perkembangan tersebut disampaiakan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, didampingi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, melalui konferensi pers di Baseops Lanud I Gusti Ngurah Rai yang menjadi media senter dalam pencarian KRI Nanggala-402, Sabtu (24/4). 

Dijelaskannya, dalam fase Submiss unsur-unsur TNI AL yang dikerahkan masih melakukan pendeteksian sampai saat ini, dibantu oleh empat kapal Polri, dua kapal Bakamla, dan juga bantuan dari negara sahabat, seperti dua kapal Australia yang sudah berpartisipasi dan kapal dari Singapura, juga Malaysia masih dalam perjalanan. 

“KRI Rigel telah bekerja dan sampai saat ini sedang melakukan pendeteksian lanjutan untuk meyakinkan kontak-kontak bawah air di sekitar posisi terakhir kapal selam terlihat,” tandas Yudo Margono.

Hasil pencarian hingga saat ini telah ditemukan beberapa kepingan atau serpihan dan barang-barang yang berada di sekitar lokasi terakhir KRI Nanggala-402 terlihat saat menyelam. 

Serpihan itu diyakini merupakan bagian atau komponen yang melekat di kapal selam. Barang tetsebut ditemukan mengapung bersama tumpahan minyak saat hari kedua dan ketiga. Posisi temuannya berjarak 2 mil di selatan dari posisi saat kapal menyelam karena diduga terkena arus. 

Dikatakannya, sebenarnya ditemukan beberapa sampah lain, namun hanya yang diyakini sebagai milik KRI Nanggala-402 saja yang diambil. Ditambahkan

Yudo Margono, serpihan tersebut tidak akan terangkat keluar kapal apabila tidak ada tekanan dari luar atau terjadi keretakan dari peluncur torpedo. 

“Bukti-bukti yang terapung bersama temuan lainnya, seperti tumpahan minyak dan oli diyakini adalah milik KRI Nanggala-402 dan barang ini tidak dimiliki oleh umum, juga di sekitar radius 10 mil tidak ada kapal lain yang melintas,” tuturnya.

Baca Juga :  Iuran BPJS Batal Naik, Diharapkan Biayai PBI Lebih Banyak

Keyakinan tersebut juga berdasar dari para ahli dalam hal ini, adalah mantan ABK KRI Nanggala dan komunitas kapal selam. Serpihan-serpihan itu bahkan ditampilkan dalam konferensi pers tersebut. 

Terdapat benda berwarna hitam disebut sebagai pelurus tabung torpedo. Kemudian benda berbentuk memanjang berwarna abu adalah pembungkus pipa pendingin yang berisikan tulisan Korea. Diketahui KRI Nanggala pada 2012 pernah menjalani overhaul di Korea. Lalu ada botol warna oranye yang di dalamnya digunakan untuk pelumasan naik turunnya periskop kapal selam.

Benda lainnya adalah alas yang dipakai oleh ABK KRI Nanggala-402 untuk sholat yang diyakini oleh mantan awak kapal tersebut. Adapun benda seperti potongan spons adalah untuk penahan panas pada press room supaya tidak terjadi kondensasi. 

Kemudian ada temuan solar sudah terpantau dari udara. Radiusnya dikatakan telah meluas dari sebelumnya seluas 10 mil. “Dengan adanya bukti autentik ini, maka saat ini kami isyaratkan dari Submiss ditngkatkan menuju fase Subsunk,” tegasnya.

Tindak lanjut yang akan dilakukan dalam fase Subsunk, yakni mempersiapkan evakuasi medis terhadap abak buah kapal (ABK) yang kemungkinan selamat. 

Evakusi akan ditujukan, baik ke Surabaya atau Banyuwangi. Unsur-unsur pencarian dan bantuan negara sahabat yang berdatangan akan terus berusaha maksimal karena menurut deteksi terbaru, posisi kapal selam diduga ada di kedalaman laut 850 meter. 

“Ini sangat riskan dan memiliki kesulitan yang tinggi, baik untuk ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) dan pengangkatan nantinya,” ujarnya.

Disampaikan juga, dari temuan serpihan kemungkinan besar yang terjadi pada KRI Nanggala-402 adalah retakan pada bagian kapal pada fase-fase melewati kedalaman 300, 400 lalu  500 meter, dan bukanlah ledakan. Karena, jika terjadi ledakan pasti telah didengar oleh sonar dan bagian kapal akan hancur lebur. 

Namun, yang menjadi kekhawatiran adalah kedalaman posisi KRI Nanggala-402 diperkirakan pada 700 sampai 800 meter.  “Apalagi yang teplon yang untuk penahan atau pelurusnya torpedo suit sampai bisa keluar, berarti terjadi keretakan yang besar,” lanjutnya. 

Baca Juga :  Gianyar Tambah 4 Kasus, PNS hingga IRT

Dari keretakan itu, terdapat dua  kemungkinan, yakni air masuk ke dalam kapal dan kemungkinan bagian tertentu, seperti kabin tidak bisa dimasuki air, karena memiliki sistem sekat yang jika ditutup, air tidak bisa masuk.

Dalam pencarian telah dibagi menjadi beberapa sektor dalam radius 10 mil. Untuk kapal-kapal yang memiliki peralatan penyelamat seperti MV Swift Rescue berupa ROV yang dapat mencari di kedalaman 900 hingga 1000 meter, ditempatkan dekat dengan KRI Rigel. Sehingga jika hasil pendeteksian terbukti, kalau itu Nanggala-402 akan langsung ditindaklanjuti. Fregat HMAS Ballarat akan ditempatkan dekat juga, karena memiliki helikopter untuk melaksanakan deteksi bawah air.

Disinggung terkait proses evakuasi, pihaknya menjelaskan ada organisasi bernama Internasional Submarine Escape and Rescue Liaison Office (Ismerlo) yang sudah 2 tahun membicarakan bagaimana penyelamatan kapal selam. 

Mereka menerjunkan kapal dan akan melakukan langkah evakuasi. Prosesnya pun dikatakan dengan cara dihembus, yaitu selang dimasukkan ke dalam pipa-pipa yang ada di kapal selam, lalu dihembus dengan kecepatan tinggi sehingga posisi kasel dapat naik. Kemudian dengan cara diangkat oleh MV Swift Rescue menggunakan kapal selam mini, berikut robotik di bawah untuk memasang peralatan. 

Terkait batas oksigen 72 jam yang telah habis, lanjutnya, kemungkinan ABK selamat masih ada. Karena batas oksigen tiga hari itu adalah saat blackout (tanpa kelistrikan) dan ketika tidak blackout bisa sampai lima hari. 

“Kami belum bisa tentukan apakah benar blackout atau tidak, karena saat diikuti Kopaska saat kapal ini menyelam ke air, lampu kapal masih menyala dan isyarat untuk peran tempur masih terdengar oleh kapal penjejak Kopaska dari 50 meter,” ucapnya.

Sementara Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, semua merasa sangat kehilangan. Disampaikannya kepada seluruh awak yang onboard di KRI Nanggala-402 bahwa pihaknya merasa sangat prihatin. 

“Saya sebagai panglima mewakili seluruh prajurit keluarga besar TNI, saya sampaikan rasa prihatain yang mendalam, kita sama sama doakan agar proses pencarian bisa dilaksanakan dengan lancar,” harapnya. (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/