alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Benarkah Balita Juga Bisa Mengalami Stress ?

DENPASAR, BALI EXPRESS- Meskipun tidak memiliki tanggung jawab apapun dan tidak dituntut untuk belajar, ternyata anak usia balita ( usia dibawah 5 tahun), juga bisa mengalami stres. Dan bahkan efek dari stres ini, bisa membawa dampak pada prilakunya ketika remaja hingga dewasa.

 

Dokter ahli kesehatan jiwa, dr. Putu Asih Primatanti, SpKJ., menyebutkan kondisi stres di usia balita bisa disebabkan oleh berbagai hal. “Salah satunya faktor lingkungan dan kondisi psikis dari si ibu ketika mas kehamilan,” jelasnya.

 

Kondisi stres pad Balita ini, jika tidak ditangani dengan segera, bisa membawa dampak pada kehidupan anak di usia remaja hingga dewasa. Bahkan kasus bunuh diri yang melibatkan usia dewasa muda seringkali disebabkan oleh kondisi mental seseorang yang memang tidak stabil sejak usia balita-remaja. Sehingga berdampak pada tindakan bunuh diri yang dilakukan ketika menghadapi satu persoalan di usia dewasa muda.

 

Untuk mengetahui seorang anak mengidap gangguan jiwa atau tidak, dr. Asih mengatakan ada beberapa prilaku anak balita yang perlu diwaspadai sebagai gejala awal gangguan jiwa pada anak, mulai dari, anak menjadi pemarah, tantrum, cengeng, sering mengompol, sering mimpi buruk, sulit belajar, gangguan berkomunikasi, muncul tanda keterbelakangan mental, hingga dileksia atau kesulitan membaca pada usia belajar.

 

Jika sudah ada tanda seperti ini, dr. Asih berharap orang tua harus mulai peduli dengan kondisi anaknya. “Karena pada beberapa kasus, orang tua sering tidak menyadari jika gejaa tersebut adalah tanda awal gangguan kesehatan jiwa pada anak, sehingga baru membawa anak terapi setelah menunjukkan perilaku atau gejala yang mengganggu, misalnya, membanting benda, lebih mudah marah, hingga ringan tangan,” lanjutnya.

 

Terkait gangguan jiwa ini, ada beberapa jenis gangguan jiwa yang bisa menyerang anak, seperti gangguan kecemasan, gangguan prilaku biasanya anak dengan gangguan ini, lebih anak tersebut menjadi anak nakal.

 

Selanjutnya ada juga gangguan efektif, yang berkaitan dengan suasana hati. Gangguan ini melibatkan perasaan sedih berkelanjutan atau suasana hati yang berubah dengan cepat. Ini termasuk depresi dan bipolar.

 

Diagnosis yang lebih baru disebut gangguan disregulasi suasana hati, kondisi masa anak-anak dan remaja yang melibatkan iritabilitas kronis dan sering menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. “Tanpa adanya perawatan, banyak gangguan mental berlanjut hingga dewasa dan menyebabkan masalah di semua aspek kehidupan selanjutnya,”  tambahnya.






Reporter: IGA Kusuma Yoni

DENPASAR, BALI EXPRESS- Meskipun tidak memiliki tanggung jawab apapun dan tidak dituntut untuk belajar, ternyata anak usia balita ( usia dibawah 5 tahun), juga bisa mengalami stres. Dan bahkan efek dari stres ini, bisa membawa dampak pada prilakunya ketika remaja hingga dewasa.

 

Dokter ahli kesehatan jiwa, dr. Putu Asih Primatanti, SpKJ., menyebutkan kondisi stres di usia balita bisa disebabkan oleh berbagai hal. “Salah satunya faktor lingkungan dan kondisi psikis dari si ibu ketika mas kehamilan,” jelasnya.

 

Kondisi stres pad Balita ini, jika tidak ditangani dengan segera, bisa membawa dampak pada kehidupan anak di usia remaja hingga dewasa. Bahkan kasus bunuh diri yang melibatkan usia dewasa muda seringkali disebabkan oleh kondisi mental seseorang yang memang tidak stabil sejak usia balita-remaja. Sehingga berdampak pada tindakan bunuh diri yang dilakukan ketika menghadapi satu persoalan di usia dewasa muda.

 

Untuk mengetahui seorang anak mengidap gangguan jiwa atau tidak, dr. Asih mengatakan ada beberapa prilaku anak balita yang perlu diwaspadai sebagai gejala awal gangguan jiwa pada anak, mulai dari, anak menjadi pemarah, tantrum, cengeng, sering mengompol, sering mimpi buruk, sulit belajar, gangguan berkomunikasi, muncul tanda keterbelakangan mental, hingga dileksia atau kesulitan membaca pada usia belajar.

 

Jika sudah ada tanda seperti ini, dr. Asih berharap orang tua harus mulai peduli dengan kondisi anaknya. “Karena pada beberapa kasus, orang tua sering tidak menyadari jika gejaa tersebut adalah tanda awal gangguan kesehatan jiwa pada anak, sehingga baru membawa anak terapi setelah menunjukkan perilaku atau gejala yang mengganggu, misalnya, membanting benda, lebih mudah marah, hingga ringan tangan,” lanjutnya.

 

Terkait gangguan jiwa ini, ada beberapa jenis gangguan jiwa yang bisa menyerang anak, seperti gangguan kecemasan, gangguan prilaku biasanya anak dengan gangguan ini, lebih anak tersebut menjadi anak nakal.

 

Selanjutnya ada juga gangguan efektif, yang berkaitan dengan suasana hati. Gangguan ini melibatkan perasaan sedih berkelanjutan atau suasana hati yang berubah dengan cepat. Ini termasuk depresi dan bipolar.

 

Diagnosis yang lebih baru disebut gangguan disregulasi suasana hati, kondisi masa anak-anak dan remaja yang melibatkan iritabilitas kronis dan sering menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. “Tanpa adanya perawatan, banyak gangguan mental berlanjut hingga dewasa dan menyebabkan masalah di semua aspek kehidupan selanjutnya,”  tambahnya.






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/