alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Budiarsana Pamitan Dekap Hangat Ibu Jelang Tragedi Berdarah

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Tangis Nyoman Srimini, 66, langsung pecah begitu menantunya Ni Made Irayanti, 32, yang merupakan istri almarhum Gede Budiarsana, 34, sampai di rumah duka, Banjar Dinas Kubuanyar, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Sabtu (24/7) siang. Srimini begitu sabar menunggu kedatangan jasad putra bungsunya yang hingga kini masih berada di RSUP Sanglah.

Suasana haru begitu terasa saat ketiga anak korban datang dari Denpasar. Srimini pun langsung memeluk menantunya dan ketiga cucunya. Ia menangis tiada henti lantaran tak percaya sang anak meninggal di usianya yang masih muda.

Mirisnya, Srimini selalu lari keluar rumahnya bila mendengar suara sirine ambulans yang terdengar di jalan raya. Ia mengira jika ambulans itulah yang mengangkut jenazah anaknya dari Denpasar. Namun beberapa kali pihak kerabat berusaha menenangkannya.

“Lacur tiange dadi jeleme. Ape pelih tiange, adi cara keukum tiang. (Kok seperti ini nasib saya, apa salah saya, seperti kena hukum),” ujarnya, sembari menangis di pelukan kerabatnya yang berusaha menenangkan.

Srimini mengaku sejak enam hari lalu, ia merasa sangat kangen dengan korban Budiarsana yang bekerja di Denpasar sebagai Security. Bahkan, Srimini berkali-kali sempat menghubungi sang anak untuk melepas kangen melalui sambungan video call.

“Karena Gede (korban) sibuk kerja, makanya tiang malam-malam telepon dia. Biar bisa aja ngomong sama Gede. Memang aneh, karena terus merasa kangen sama Gede sejak beberapa hari,” kenangnya.

Dalam video call itu, mendiang Budiarsana sempat beberapa kali melambaikan tangannya kepada Srimini, bahwa akan pulang lagi dua hari ke Kubutambahan untuk melayat. Pasalnya, ada keluarga di Taju yang meninggal dunia. Selain itu, ada juga kerabat di Kubutambahan yang memiliki hajatan tiga bulanan.

Benar saja, korban pun menyempatkan pulang kampung bersama sang kakak Ketut Widiada alias Jro Dolah pada hari Rabu (21/7) lalu. Firasat aneh kembali dialami Srimini. Saat melayat ke Tajun, beberapa kali ia dipeluk oleh sang anak.

“Sempat dipeluk sama dia (korban). Tumben begitu. Tiang sangat sayang sekali sama Gede. yen dadi baan silurin, baang je tiang malunan mati. Pedalem Gede nu ngelah panak cenik-cenik, (Kalau boleh diganti, biar saya saja yang lebih dulu meninggal, kasihan Gede, punya anak masih kecil),” kenangnya dengan suara lirih.

Sementara itu, kerabat korban, Kadek Benny Wandana, 31, menyebut setelah melayat, korban Budiarsana kemudian balik ke Denpasar untuk bekerja bersama sang kakak, Jro Dolah, Jumat (23/7) sekira pukul 06.00 Wita pagi. Namun, takdir berkata lain.

Korban tewas mengenaskan dan tergeletak di jalan setelah dibacok di kawasan Monang-Maning Denpasar Barat. Benny pun menyebut jika korban merupakan tulang punggung keluarga. Terlebih, korban juga menafkahi ibunya, lantaran sang ayah sudah meninggal setahun silam.

“Kami berharap agar kasus diproses hukum seadil-adilnya. Kami juga memintakan maaf, apabila almarhum selama hidupnya pernah berbuat yang kurang berkenan, agar beliau tenang dan diterima sesuai karma wasananya,” kata Benny.

Disinggung terkait upacara penguburan, hingga kini pihak keluarga belum bisa memutuskan. Sebab, jenazah korban hingga Sabtu siang masih berada di RSUP Sanglah. “Kapan upacaranya belum pasti,” imbuhnya.

Di sisi lain, Kadus Kubuanyar, Desa Kubutambahan, Gede Tulis Astawan memastikan pihaknya bersama pemerintah Desa Kubutambahan berusaha mencarikan bantuan bagi ketiga anak korban yang masih kecil, sehingga tetap mendapat pendidikan yang layak.

“Kami akan upayakan mencari bantuan. Biar terdata dulu masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Nanti bantuan sosial dari relawan juga diusahakan, sehingga tetap terjamin pendidikannya,” pungkasnya. 

Budiarsana bersama sang kakak, DH, jadi korban tragedi berdarah yang melibatkan kelompok debt collector Mata Elang di Simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Tegal Harum, Denpasar, Jumat (23/7).

Kakak adik ini datang ke kantor Mata Elang karena diminta datang, setelah sebelumnya dicegat di jalan di kawasan Kuta terkait soal kredit kendaraan yang dinilai macet. Namun di kantor Mata Elang yang berada di kawasan rumah di Jalan Gunung Patuha VII, dekat Banjar Sanga Agung, Denpasar Barat ini, sudah ada belasan anggota debt collector.

Akhirnya terjadi cekcok karena motor hendak disita yang akhirnya terjadi keributan. Kedua kakak adik kemudian melarikan diri karena ada yang bawa senjata juga batu. DH berhasil lari menumpang ojol, sedangkan Budiarsana yang lari hendak naik ke pikap berhasil disabet beberapa kali oleh anggota Kelompok Mata Elang yang mengubernya hingga ke jalanan. Budiarsana langsung roboh bersimbah darah dan meninggal di lokasi kejadian di kawasan simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Monang-Maning, Denpasar Barat.


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Tangis Nyoman Srimini, 66, langsung pecah begitu menantunya Ni Made Irayanti, 32, yang merupakan istri almarhum Gede Budiarsana, 34, sampai di rumah duka, Banjar Dinas Kubuanyar, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Sabtu (24/7) siang. Srimini begitu sabar menunggu kedatangan jasad putra bungsunya yang hingga kini masih berada di RSUP Sanglah.

Suasana haru begitu terasa saat ketiga anak korban datang dari Denpasar. Srimini pun langsung memeluk menantunya dan ketiga cucunya. Ia menangis tiada henti lantaran tak percaya sang anak meninggal di usianya yang masih muda.

Mirisnya, Srimini selalu lari keluar rumahnya bila mendengar suara sirine ambulans yang terdengar di jalan raya. Ia mengira jika ambulans itulah yang mengangkut jenazah anaknya dari Denpasar. Namun beberapa kali pihak kerabat berusaha menenangkannya.

“Lacur tiange dadi jeleme. Ape pelih tiange, adi cara keukum tiang. (Kok seperti ini nasib saya, apa salah saya, seperti kena hukum),” ujarnya, sembari menangis di pelukan kerabatnya yang berusaha menenangkan.

Srimini mengaku sejak enam hari lalu, ia merasa sangat kangen dengan korban Budiarsana yang bekerja di Denpasar sebagai Security. Bahkan, Srimini berkali-kali sempat menghubungi sang anak untuk melepas kangen melalui sambungan video call.

“Karena Gede (korban) sibuk kerja, makanya tiang malam-malam telepon dia. Biar bisa aja ngomong sama Gede. Memang aneh, karena terus merasa kangen sama Gede sejak beberapa hari,” kenangnya.

Dalam video call itu, mendiang Budiarsana sempat beberapa kali melambaikan tangannya kepada Srimini, bahwa akan pulang lagi dua hari ke Kubutambahan untuk melayat. Pasalnya, ada keluarga di Taju yang meninggal dunia. Selain itu, ada juga kerabat di Kubutambahan yang memiliki hajatan tiga bulanan.

Benar saja, korban pun menyempatkan pulang kampung bersama sang kakak Ketut Widiada alias Jro Dolah pada hari Rabu (21/7) lalu. Firasat aneh kembali dialami Srimini. Saat melayat ke Tajun, beberapa kali ia dipeluk oleh sang anak.

“Sempat dipeluk sama dia (korban). Tumben begitu. Tiang sangat sayang sekali sama Gede. yen dadi baan silurin, baang je tiang malunan mati. Pedalem Gede nu ngelah panak cenik-cenik, (Kalau boleh diganti, biar saya saja yang lebih dulu meninggal, kasihan Gede, punya anak masih kecil),” kenangnya dengan suara lirih.

Sementara itu, kerabat korban, Kadek Benny Wandana, 31, menyebut setelah melayat, korban Budiarsana kemudian balik ke Denpasar untuk bekerja bersama sang kakak, Jro Dolah, Jumat (23/7) sekira pukul 06.00 Wita pagi. Namun, takdir berkata lain.

Korban tewas mengenaskan dan tergeletak di jalan setelah dibacok di kawasan Monang-Maning Denpasar Barat. Benny pun menyebut jika korban merupakan tulang punggung keluarga. Terlebih, korban juga menafkahi ibunya, lantaran sang ayah sudah meninggal setahun silam.

“Kami berharap agar kasus diproses hukum seadil-adilnya. Kami juga memintakan maaf, apabila almarhum selama hidupnya pernah berbuat yang kurang berkenan, agar beliau tenang dan diterima sesuai karma wasananya,” kata Benny.

Disinggung terkait upacara penguburan, hingga kini pihak keluarga belum bisa memutuskan. Sebab, jenazah korban hingga Sabtu siang masih berada di RSUP Sanglah. “Kapan upacaranya belum pasti,” imbuhnya.

Di sisi lain, Kadus Kubuanyar, Desa Kubutambahan, Gede Tulis Astawan memastikan pihaknya bersama pemerintah Desa Kubutambahan berusaha mencarikan bantuan bagi ketiga anak korban yang masih kecil, sehingga tetap mendapat pendidikan yang layak.

“Kami akan upayakan mencari bantuan. Biar terdata dulu masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Nanti bantuan sosial dari relawan juga diusahakan, sehingga tetap terjamin pendidikannya,” pungkasnya. 

Budiarsana bersama sang kakak, DH, jadi korban tragedi berdarah yang melibatkan kelompok debt collector Mata Elang di Simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Tegal Harum, Denpasar, Jumat (23/7).

Kakak adik ini datang ke kantor Mata Elang karena diminta datang, setelah sebelumnya dicegat di jalan di kawasan Kuta terkait soal kredit kendaraan yang dinilai macet. Namun di kantor Mata Elang yang berada di kawasan rumah di Jalan Gunung Patuha VII, dekat Banjar Sanga Agung, Denpasar Barat ini, sudah ada belasan anggota debt collector.

Akhirnya terjadi cekcok karena motor hendak disita yang akhirnya terjadi keributan. Kedua kakak adik kemudian melarikan diri karena ada yang bawa senjata juga batu. DH berhasil lari menumpang ojol, sedangkan Budiarsana yang lari hendak naik ke pikap berhasil disabet beberapa kali oleh anggota Kelompok Mata Elang yang mengubernya hingga ke jalanan. Budiarsana langsung roboh bersimbah darah dan meninggal di lokasi kejadian di kawasan simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Monang-Maning, Denpasar Barat.


Most Read

Artikel Terbaru

/