alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Mola-mola 150 Tahun Terdampar di Pantai Penarukan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Seekor ikan Mola-mola Selasa (23/11) berukuran panjang 196 sentimeter ditemukan terdampar di Pantai Penarukan. Ikan yang hidup di laut dalam ini ditemukan oleh nelayan mengapung di tengah laut. Kemudian digiring ke pinggir laut dan dilaporkan ke Polairud Buleleng. Tim pun langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan identifikasi terhadap ikan raksasa itu. Dari hasil pemeriksaan, Mola-mola yang terdampar di Pantai Penarukan itu memiliki panjang 196 sentimeter, lebar 130 sentimeter, sirip bawah 90 sentimeter, sirip ata 92 sentimeter, sirip belakang selebar 1 meter dan panjang sirip 40 sentimeter. Kemudian dari perhitungan tim diketahui pula sirip pectoral berukuran 39 sentimeter, operculum 14 sentimeter, lebar mata 9 sentimeter dan lebar mulut 15 sentimeter. Setelah dilakukan nekropsi terhadap bangkai mola-mola yang ditemukan, selanjutnya bangkai ikan besar itu ditenggelamkan ke laut.

Dikonfirmasi via telepon Rabu (24/11), Kasat Polairud Buleleng AKP I Wayan Parta menjelaskan, terdamparnya ikan mola-mola itu dilaporkan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir pantai dalam kondisi mati. Diduga ikan berukuran besar itu mati karena keracunan. “Setelah di cek penyebab kematiannya karena keracunan. Begitu hasil pemeriksaannya,” ungkapnya.

Parta menambahkan, saat ditemukan ikan tersebut hendak dipotong dan dikonsumsi oleh masyarakat. Namun karena telah dilaporkan dan masyarakat mengetahui informasi terkait ikan mola-mola itu, maka niat untuk dikonsumsi pun diurungkan. “Sebelumnya mau dipotong oleh masyarakat, namun dengan pengetahuan masyarakat lainnya yang cepat menginformasikan ikan itu ikan yang langka. Itu kemarin ditemukan. Ditemukan oleh nelayan dalam posisi mengambang di laut. Baru dibawa ke pinggir,” tambahnya.

Ikan yang hidup di perairan dalam sekitar 200-500 meter di bawah permukaan laut tersebut tergolong ikan langka. Sebab, ikan ini jarang ditemukan di perairan Bali Utara mau pun Bali Selatan. Kemunculan ikan mola-mola ini pun hanya dalam waktu tertentu saja. Biasanya ikan ini muncul di kawasan perairan Nusa Penida. Untuk ikan yang ditemukan di Pantai Penarukan ini diperkirakan berusia 150 tahun. “Kemunculan ikan ini juga jarang di Nusa Penida. Biasanya akan muncul di bulan-bulan tertentu. Dan itu akan menjadi objek wisata tersendiri bagi para penyelam,” kata Dr. Gede Iwan Setiabudi, Kaprodi Akuakultur, Undiksha.

Di kawasan perairan Buleleng, mola-mola sempat ditemukan di Pelabuhan Buleleng tepatnya di depan Klenteng. Kedua di Anturan, lalu di Pengastulan, kemudian di Pejarakan dan terakhir di pantai Penarukan. Mola-mola ini termasuk hewan langka karena keterbatasan data dan keterbatasan refrensi tentang ikan ini. Kemudian berdasarkan peraturan yang ada memang ikan ini belum termasuk ikan yang dilindungi. “Kalau langka iya. Yang paling terkenal ada ikan mola-mola ini di Nusa Penida, dan itu di Nusa Penida sekarang sudah jadi objek wisata untuk para penyelam. Yang menarik itu, ukurannya besar dan bentuknya unik. Bentuknya membulat dengan sirip yang tidak umum baik atas, bawah dan sirip belakang. Ikan ini perenang yang cukup lambat,” tambahnya.

Perihal boleh tidaknya ikan tersebut dikonsumsi, dokter Iwan tidak merekomendasikan. Sebab, ikan ini diperkirakan telah hidup sangat lama dan tidak diketahui hal apa saja yang dikonsumsi oleh ikan tersebut. “Kalau dikonsumsi boleh saja, tapi tidak direkomendasikan. Sah-sah saja kalau dikonsumsi, namun jika ditemukan dengan ukuran yang besar itu kemungkinan ikan ini sudah hidup cukup lama, bisa ratusan tahun. Dan bisa jadi yang dikonsumsi oleh ikan itu kan tidak diketahui dari hari ke hari. Jadi itu tidak menjamin untuk keamanan saat dikonsumsi. Belum ada catatan berapa lama umur mola-mola. Karena memang jarang bisa ditemukan. Di Nusa Penida yang termasuk habitatnya pun dia munculnya di bulan-bulan tertentu,” terangnya. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Seekor ikan Mola-mola Selasa (23/11) berukuran panjang 196 sentimeter ditemukan terdampar di Pantai Penarukan. Ikan yang hidup di laut dalam ini ditemukan oleh nelayan mengapung di tengah laut. Kemudian digiring ke pinggir laut dan dilaporkan ke Polairud Buleleng. Tim pun langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan identifikasi terhadap ikan raksasa itu. Dari hasil pemeriksaan, Mola-mola yang terdampar di Pantai Penarukan itu memiliki panjang 196 sentimeter, lebar 130 sentimeter, sirip bawah 90 sentimeter, sirip ata 92 sentimeter, sirip belakang selebar 1 meter dan panjang sirip 40 sentimeter. Kemudian dari perhitungan tim diketahui pula sirip pectoral berukuran 39 sentimeter, operculum 14 sentimeter, lebar mata 9 sentimeter dan lebar mulut 15 sentimeter. Setelah dilakukan nekropsi terhadap bangkai mola-mola yang ditemukan, selanjutnya bangkai ikan besar itu ditenggelamkan ke laut.

Dikonfirmasi via telepon Rabu (24/11), Kasat Polairud Buleleng AKP I Wayan Parta menjelaskan, terdamparnya ikan mola-mola itu dilaporkan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir pantai dalam kondisi mati. Diduga ikan berukuran besar itu mati karena keracunan. “Setelah di cek penyebab kematiannya karena keracunan. Begitu hasil pemeriksaannya,” ungkapnya.

Parta menambahkan, saat ditemukan ikan tersebut hendak dipotong dan dikonsumsi oleh masyarakat. Namun karena telah dilaporkan dan masyarakat mengetahui informasi terkait ikan mola-mola itu, maka niat untuk dikonsumsi pun diurungkan. “Sebelumnya mau dipotong oleh masyarakat, namun dengan pengetahuan masyarakat lainnya yang cepat menginformasikan ikan itu ikan yang langka. Itu kemarin ditemukan. Ditemukan oleh nelayan dalam posisi mengambang di laut. Baru dibawa ke pinggir,” tambahnya.

Ikan yang hidup di perairan dalam sekitar 200-500 meter di bawah permukaan laut tersebut tergolong ikan langka. Sebab, ikan ini jarang ditemukan di perairan Bali Utara mau pun Bali Selatan. Kemunculan ikan mola-mola ini pun hanya dalam waktu tertentu saja. Biasanya ikan ini muncul di kawasan perairan Nusa Penida. Untuk ikan yang ditemukan di Pantai Penarukan ini diperkirakan berusia 150 tahun. “Kemunculan ikan ini juga jarang di Nusa Penida. Biasanya akan muncul di bulan-bulan tertentu. Dan itu akan menjadi objek wisata tersendiri bagi para penyelam,” kata Dr. Gede Iwan Setiabudi, Kaprodi Akuakultur, Undiksha.

Di kawasan perairan Buleleng, mola-mola sempat ditemukan di Pelabuhan Buleleng tepatnya di depan Klenteng. Kedua di Anturan, lalu di Pengastulan, kemudian di Pejarakan dan terakhir di pantai Penarukan. Mola-mola ini termasuk hewan langka karena keterbatasan data dan keterbatasan refrensi tentang ikan ini. Kemudian berdasarkan peraturan yang ada memang ikan ini belum termasuk ikan yang dilindungi. “Kalau langka iya. Yang paling terkenal ada ikan mola-mola ini di Nusa Penida, dan itu di Nusa Penida sekarang sudah jadi objek wisata untuk para penyelam. Yang menarik itu, ukurannya besar dan bentuknya unik. Bentuknya membulat dengan sirip yang tidak umum baik atas, bawah dan sirip belakang. Ikan ini perenang yang cukup lambat,” tambahnya.

Perihal boleh tidaknya ikan tersebut dikonsumsi, dokter Iwan tidak merekomendasikan. Sebab, ikan ini diperkirakan telah hidup sangat lama dan tidak diketahui hal apa saja yang dikonsumsi oleh ikan tersebut. “Kalau dikonsumsi boleh saja, tapi tidak direkomendasikan. Sah-sah saja kalau dikonsumsi, namun jika ditemukan dengan ukuran yang besar itu kemungkinan ikan ini sudah hidup cukup lama, bisa ratusan tahun. Dan bisa jadi yang dikonsumsi oleh ikan itu kan tidak diketahui dari hari ke hari. Jadi itu tidak menjamin untuk keamanan saat dikonsumsi. Belum ada catatan berapa lama umur mola-mola. Karena memang jarang bisa ditemukan. Di Nusa Penida yang termasuk habitatnya pun dia munculnya di bulan-bulan tertentu,” terangnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/