28.7 C
Denpasar
Friday, December 9, 2022

DP2KBP3A Buleleng Catat 33 Kasus Anak, Didominasi Kasus Persetubuhan Anak

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Buleleng, hingga Oktober 2022 mencatat sebanyak 33 kasus anak. Mirisnya dari puluhan kasus itu, didominasi kasus persetubuhan anak. Kemudian disusul dengan kasus kekerasan seksual.

Kepla Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Putu Agustini Kamis (24/11) mengatakan, DP2KBP3A Buleleng telah melakukan upaya pendampingan terhadap anak yang terlibat dalam kasus hukum. Rata-rata pendampingan yang dilakukan dengan melibatka psikolog mampu mengungkap motif serta alasan yang jelas dari perbuatan yang dilakukan. Kendati tergolong lancar, pengakuan di luar dugaan juga kerap didapatkan saat pendampingan. “Pendampingan semuanya lancar. Tapi kadang ada hal-hal yang mengejutkan yang kami terima, seperti misalnya ada anak yang terlibat kasus persetubuhan dan menganggap hl itu adalah hal yang wajar dalam pergaulan,” ujarnya.

Baca Juga :  Tari Sakral Ditarikan Selama 42 Hari Tiap Tiga Tahun di Sidatapa

Agustini pun menyayangkan sikap tersebut. Namun ia sadar melakukan pendampingan terhadap anak-anak tak bisa dilakukan dengn cepat. Diperlukan kehati-hatian agar anak dapat berbicara dan mengatakan yang sebenarnya peristiwa yang dialami. “Tidak bisa langsung mendesak begitu saja. Meskipun terlihat baik-baik saja, tapi hatinya tidak baik. Jadi harus pelan-pelan, harus masuk sebaai teman dekat lalu mulai pendekatan lainnya agar dia merasa nyaman,” ungkapnya.

Anggapan serta alasan-alasan yang terkadang terlontar dari hasil pendampingan itu membuat Putu Agustini miris. Menurutnya, generasi muda saat ini mengalami krisis pengetahuan. Terutama edukasi seksual. Agustini beranggapan, edukasi seksual yang ditayangkan lewat perkembangan teknologi saat ini ditangkap dengan penerjemahan yang berbeda sehingga mewajarkan hal itu untuk dilakukan. “Saat ini mereka krisis pengetahuan. Seperti edukasi seksual. Pergaulan bebas dan pengawasan orangtua. Jadi tidak hanya anak-anak yang harus memahami. Orangtua juga. Karena pengetahuan yang terbatas, jadi hal yang salah yang mereka tonton itu jadi dibenarkan dan diwajarkan. Sayang sekali,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Eka bersama Wabup Sanjaya Nyaksi Prosesi Melasti

 






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Buleleng, hingga Oktober 2022 mencatat sebanyak 33 kasus anak. Mirisnya dari puluhan kasus itu, didominasi kasus persetubuhan anak. Kemudian disusul dengan kasus kekerasan seksual.

Kepla Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Putu Agustini Kamis (24/11) mengatakan, DP2KBP3A Buleleng telah melakukan upaya pendampingan terhadap anak yang terlibat dalam kasus hukum. Rata-rata pendampingan yang dilakukan dengan melibatka psikolog mampu mengungkap motif serta alasan yang jelas dari perbuatan yang dilakukan. Kendati tergolong lancar, pengakuan di luar dugaan juga kerap didapatkan saat pendampingan. “Pendampingan semuanya lancar. Tapi kadang ada hal-hal yang mengejutkan yang kami terima, seperti misalnya ada anak yang terlibat kasus persetubuhan dan menganggap hl itu adalah hal yang wajar dalam pergaulan,” ujarnya.

Baca Juga :  Butuh 70 Orang, Buleleng Genjot Sosialisasi PBJ

Agustini pun menyayangkan sikap tersebut. Namun ia sadar melakukan pendampingan terhadap anak-anak tak bisa dilakukan dengn cepat. Diperlukan kehati-hatian agar anak dapat berbicara dan mengatakan yang sebenarnya peristiwa yang dialami. “Tidak bisa langsung mendesak begitu saja. Meskipun terlihat baik-baik saja, tapi hatinya tidak baik. Jadi harus pelan-pelan, harus masuk sebaai teman dekat lalu mulai pendekatan lainnya agar dia merasa nyaman,” ungkapnya.

Anggapan serta alasan-alasan yang terkadang terlontar dari hasil pendampingan itu membuat Putu Agustini miris. Menurutnya, generasi muda saat ini mengalami krisis pengetahuan. Terutama edukasi seksual. Agustini beranggapan, edukasi seksual yang ditayangkan lewat perkembangan teknologi saat ini ditangkap dengan penerjemahan yang berbeda sehingga mewajarkan hal itu untuk dilakukan. “Saat ini mereka krisis pengetahuan. Seperti edukasi seksual. Pergaulan bebas dan pengawasan orangtua. Jadi tidak hanya anak-anak yang harus memahami. Orangtua juga. Karena pengetahuan yang terbatas, jadi hal yang salah yang mereka tonton itu jadi dibenarkan dan diwajarkan. Sayang sekali,” terangnya.

Baca Juga :  Tari Sakral Ditarikan Selama 42 Hari Tiap Tiga Tahun di Sidatapa

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/