alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Disparbud Jembrana Perlahan Bangkitkan Kesenian yang Mati Suri

NEGARA, BALI EXPRESS – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana (Disparbud) melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali, menggali seni-seni yang pernah ada atau yang sudah mati suri di Jembrana. 

Kepala Disparbud Jembrana Nengah Alit, Selasa (23/3) mengatakan, kesenian yang mati suri, seperti kesenian Berko, Leko, Bungbung Gebyog, serta kesenian lain yang memang memiliki nilai history tersendiri. 

Ia mencontohkan kesenian Berko yang merupakan kesenian lokal dan cukup tenar di Jembrana, khususnya di wilayah Pancardawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana. Dimana kesenian Berko merupakan perpaduan seni gambelan bambu, tari dan karawitan (nyanyian). 

Sepintas kesenian Berko sama dengan Tari Palegongan, namun yang membedakannya adalah perangkat gambelan yang mengiringinya. Dimana perangkat gambelan Berko terbuat dari bambu.

“Berko sendiri sama dengan kesenian Joged Bumbung. Selain perangkat yang digunakan sebagai pengiring gambelan sama-sama terbuat dari bambu, Berko dan Joged Bumbung juga sama-sama menggunakan tetabuhan yang terdiri dari panabuh patus, pangabih patus, kendang, kenong, kecek, undir, gem, dan suling,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, lanjut Nengah Alit, hanya kecek saja yang terbuat dari bahan perunggu. Meski demikian, bahan tetabuhan  tetap didominasi menggunakan bahan bambu. 

“Saat ini Kami menggali dengan lebih banyak kesenian yang menggunakan alat-alat dari alam bukan dari metal. Karena dari historis, perlengkapan kesenian di Jembrana lebih banyak terinspirasi dari bahan yang mudah didapat di alam Jembrana itu sendiri pada zamannya,” terangnya.

Untuk kesenian Berko, dijelaskannya konon berawal pada tahun 1925, saat hutan belantaran penuh dengan semak-semak memenuhi daerah Pancardawa, Kelurahan Pendem. Saat itu panglingsir (tetua) yang ada, membuka lahan hutan tersebut. 

Para panglingsir kemudian mebuat lahan dengan pencarian palabungkah (umbi-umbian) palagantung (buah-buhan) seperti menanam padi gago, jagung, ketela pohon, dan lain-lain. 

Pada siang hari para panglingsir membuat kubu (gubuk) sebagai tempat untuk masayuban (beristirahat). Pada saat istirahat muncul keinginan para tetua disana (Pancardawa) membuat satu perangkat gambelan, untuk menghibur saat-saat istirahat. “Mereka saat itu membuat perangkat gambelan dari bahan bambu karena mudah didapat serta banyak tersedia di alam,” terangnya.

Dengan adanya potensi seni yang sudah lama ada di Jembrana, pihaknya berusaha untuk mengembalikannya. Pihaknya akan menggali kembali kesenian-kesenian yang pernah ada ini untuk selanjutnya akan diperhatikan dan diberikan pembinaan serta kesempatan pada mereka untuk tampil atau membuatkan mereka event.

 “Nanti para pelaku seni ini akan Kami berikan ruang untuk tampil dalam momen-momen yang diselenggarakan oleh pemerintah. Paling tidak dengan menghidupkan kesenian yang sudah tenggelam itu, dapat memberikan edukasi pada generasi berikutnya. Setelah mereka mengenal,  diharapkan bisa melanjutkan tradisi atau kesenian yang pernah ada itu,” pungkasnya. 


NEGARA, BALI EXPRESS – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana (Disparbud) melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali, menggali seni-seni yang pernah ada atau yang sudah mati suri di Jembrana. 

Kepala Disparbud Jembrana Nengah Alit, Selasa (23/3) mengatakan, kesenian yang mati suri, seperti kesenian Berko, Leko, Bungbung Gebyog, serta kesenian lain yang memang memiliki nilai history tersendiri. 

Ia mencontohkan kesenian Berko yang merupakan kesenian lokal dan cukup tenar di Jembrana, khususnya di wilayah Pancardawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana. Dimana kesenian Berko merupakan perpaduan seni gambelan bambu, tari dan karawitan (nyanyian). 

Sepintas kesenian Berko sama dengan Tari Palegongan, namun yang membedakannya adalah perangkat gambelan yang mengiringinya. Dimana perangkat gambelan Berko terbuat dari bambu.

“Berko sendiri sama dengan kesenian Joged Bumbung. Selain perangkat yang digunakan sebagai pengiring gambelan sama-sama terbuat dari bambu, Berko dan Joged Bumbung juga sama-sama menggunakan tetabuhan yang terdiri dari panabuh patus, pangabih patus, kendang, kenong, kecek, undir, gem, dan suling,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, lanjut Nengah Alit, hanya kecek saja yang terbuat dari bahan perunggu. Meski demikian, bahan tetabuhan  tetap didominasi menggunakan bahan bambu. 

“Saat ini Kami menggali dengan lebih banyak kesenian yang menggunakan alat-alat dari alam bukan dari metal. Karena dari historis, perlengkapan kesenian di Jembrana lebih banyak terinspirasi dari bahan yang mudah didapat di alam Jembrana itu sendiri pada zamannya,” terangnya.

Untuk kesenian Berko, dijelaskannya konon berawal pada tahun 1925, saat hutan belantaran penuh dengan semak-semak memenuhi daerah Pancardawa, Kelurahan Pendem. Saat itu panglingsir (tetua) yang ada, membuka lahan hutan tersebut. 

Para panglingsir kemudian mebuat lahan dengan pencarian palabungkah (umbi-umbian) palagantung (buah-buhan) seperti menanam padi gago, jagung, ketela pohon, dan lain-lain. 

Pada siang hari para panglingsir membuat kubu (gubuk) sebagai tempat untuk masayuban (beristirahat). Pada saat istirahat muncul keinginan para tetua disana (Pancardawa) membuat satu perangkat gambelan, untuk menghibur saat-saat istirahat. “Mereka saat itu membuat perangkat gambelan dari bahan bambu karena mudah didapat serta banyak tersedia di alam,” terangnya.

Dengan adanya potensi seni yang sudah lama ada di Jembrana, pihaknya berusaha untuk mengembalikannya. Pihaknya akan menggali kembali kesenian-kesenian yang pernah ada ini untuk selanjutnya akan diperhatikan dan diberikan pembinaan serta kesempatan pada mereka untuk tampil atau membuatkan mereka event.

 “Nanti para pelaku seni ini akan Kami berikan ruang untuk tampil dalam momen-momen yang diselenggarakan oleh pemerintah. Paling tidak dengan menghidupkan kesenian yang sudah tenggelam itu, dapat memberikan edukasi pada generasi berikutnya. Setelah mereka mengenal,  diharapkan bisa melanjutkan tradisi atau kesenian yang pernah ada itu,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/