alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Pengoplos Mikol Dituntut 2 Tahun Penjara dan Denda Rp 71 Miliar

DENPASAR, BALI EXPRESS – Terdakwa Gede Artha Wijaya dituntut jaksa penuntut umum (JPU) Agus Sastrawan dengan hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 71.138.811.467,-. Kata jaksa Sastrawan pada majelis hakim pimpinan Putu Gede Novyarta di sidang online, tuntutan itu setimpal dengan perbuatan terdakwa yakni mengoplos minuman beralkohol (mikol) berbagai merk tanpa cukai.  “Bila denda tidak dibayar maka akan diganti dengan penjara 6 bulan,” tegas jaksa. JPU menyatakan perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur sebagaimana tertuang dalam  undang-undang tentang cukai Pasal 54 nomor 39 tahun 2007, tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 1995.

Terdakwa diadili atas perbuatannya meracik minuman mikol  Mengandung Etil Alkohol (MMEA). Minuman tersebut dilabeli dengan cukai palsu, label palsu, merek palsu, dan bahan baku palsu.  “Ada jenis Red Label, Black Label, Jack Daniels, Absolut Vodka, Bacardi, Jose Cuervo, Chivas Regal, Gordon London Dry Gin, dan Smirnoff Vodka,” sebut Jaksa Agus. Dalam sidang itu juga terungkap harganya jauh di bawah dari harga di pasaran. “Dijual hanya dengan Rp 150 ribu sebotol,” ucap salah satu saksi. Saat ditanya harga normal, saksi mengatakan biasanya yang asli bisa mencapai Rp 450-500 ribu.

Kasus ini terungkap ketika terdakwa I Gede Artha Wijaya alias Dede alias Okaya bertemu dengan Akiong (DPO) di Jakarta 2017 lalu. Saat obrolan masalah MMEA, Akiong menawarkan pada terdakwa mengedarkan minuman mengandung MMEA di Bali. Awalnya dikirim 10 karton melalui jasa expedisi Pahala Kencana. Komunikasi antara terdakwa dan Akiong terus berlanjut, hibgga pada 2019, terdakwa Dede alias Okaya berinisiatif memproduksi sendiri miras MMEA. Untuk bahannya didatangkan dari luar Bali. Mesin penutup botol dan stiker dikirim dari Jakarta, Pekanbaru dan Surabaya. Kotak kemasan, pita cukai palsu dikirim dari Jakarta. Botol kosong dikirim dari Jakarta dan Surabaya dan alkohol dikirim dari Jakarta, Solo dan Semarang.

Setelah semuanya siap, terdakwa kemudian meracik air yang bercampur alkohol, garam, perasa, pewarna, sesuai kadar yang telah ditentukan. Setelah sesuai dengan rasa, lalu dimasukan ke dalam botol sesuai merek yang sesuai.  Adapun pengakuannya, jenis merk yang selama ini telah diracik dan laku dipasarkan adalah Red Label, Black Label, Jack Daniels, Absolut Vodka, Bacardi, Jose Cuervo, Chivas Regal, Gordon London Dry Gin, dan Smirnoff Vodka.  Terdakwa dalam menjalankan pabrik dan memproduksi barang kena cukai MMEA mempekerjakan sejumlah orang, di antaranya Samsul Arifin. Dia juga bertugas meracik dan mengolah minuman MMEA, mengisi botol, termasuk menemel pita cukai palsu dan logo.

Samsul Arifin diberikan gaji Rp 5 juta perbulan. Dan sejak pandemi Covid-19, gaji Samsul dikurangi menjadi Rp 2,5 juta. Karyawan lainya Komang Cahyadi, Made Jumawan alias Kolor Hijau. November 2020, terdakwa menawarkan miras tersebut pada seseorang di Renon, Denpasar.   Bahkan pesanan hingga seratusan botol hingga akhirnya kasus miras palsu ini terungkap.

 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Terdakwa Gede Artha Wijaya dituntut jaksa penuntut umum (JPU) Agus Sastrawan dengan hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 71.138.811.467,-. Kata jaksa Sastrawan pada majelis hakim pimpinan Putu Gede Novyarta di sidang online, tuntutan itu setimpal dengan perbuatan terdakwa yakni mengoplos minuman beralkohol (mikol) berbagai merk tanpa cukai.  “Bila denda tidak dibayar maka akan diganti dengan penjara 6 bulan,” tegas jaksa. JPU menyatakan perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur sebagaimana tertuang dalam  undang-undang tentang cukai Pasal 54 nomor 39 tahun 2007, tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 1995.

Terdakwa diadili atas perbuatannya meracik minuman mikol  Mengandung Etil Alkohol (MMEA). Minuman tersebut dilabeli dengan cukai palsu, label palsu, merek palsu, dan bahan baku palsu.  “Ada jenis Red Label, Black Label, Jack Daniels, Absolut Vodka, Bacardi, Jose Cuervo, Chivas Regal, Gordon London Dry Gin, dan Smirnoff Vodka,” sebut Jaksa Agus. Dalam sidang itu juga terungkap harganya jauh di bawah dari harga di pasaran. “Dijual hanya dengan Rp 150 ribu sebotol,” ucap salah satu saksi. Saat ditanya harga normal, saksi mengatakan biasanya yang asli bisa mencapai Rp 450-500 ribu.

Kasus ini terungkap ketika terdakwa I Gede Artha Wijaya alias Dede alias Okaya bertemu dengan Akiong (DPO) di Jakarta 2017 lalu. Saat obrolan masalah MMEA, Akiong menawarkan pada terdakwa mengedarkan minuman mengandung MMEA di Bali. Awalnya dikirim 10 karton melalui jasa expedisi Pahala Kencana. Komunikasi antara terdakwa dan Akiong terus berlanjut, hibgga pada 2019, terdakwa Dede alias Okaya berinisiatif memproduksi sendiri miras MMEA. Untuk bahannya didatangkan dari luar Bali. Mesin penutup botol dan stiker dikirim dari Jakarta, Pekanbaru dan Surabaya. Kotak kemasan, pita cukai palsu dikirim dari Jakarta. Botol kosong dikirim dari Jakarta dan Surabaya dan alkohol dikirim dari Jakarta, Solo dan Semarang.

Setelah semuanya siap, terdakwa kemudian meracik air yang bercampur alkohol, garam, perasa, pewarna, sesuai kadar yang telah ditentukan. Setelah sesuai dengan rasa, lalu dimasukan ke dalam botol sesuai merek yang sesuai.  Adapun pengakuannya, jenis merk yang selama ini telah diracik dan laku dipasarkan adalah Red Label, Black Label, Jack Daniels, Absolut Vodka, Bacardi, Jose Cuervo, Chivas Regal, Gordon London Dry Gin, dan Smirnoff Vodka.  Terdakwa dalam menjalankan pabrik dan memproduksi barang kena cukai MMEA mempekerjakan sejumlah orang, di antaranya Samsul Arifin. Dia juga bertugas meracik dan mengolah minuman MMEA, mengisi botol, termasuk menemel pita cukai palsu dan logo.

Samsul Arifin diberikan gaji Rp 5 juta perbulan. Dan sejak pandemi Covid-19, gaji Samsul dikurangi menjadi Rp 2,5 juta. Karyawan lainya Komang Cahyadi, Made Jumawan alias Kolor Hijau. November 2020, terdakwa menawarkan miras tersebut pada seseorang di Renon, Denpasar.   Bahkan pesanan hingga seratusan botol hingga akhirnya kasus miras palsu ini terungkap.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/