alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Tipu Calon Dokter Spesialis, Oknum Dokter Dihukum 34 Bulan

DENPASAR,BALI EXPRESS – Irfana, 42 oknum dokter di Denpasar yang didakwa melakukan penipuan kepada calon dokter dokter spesialis divonis 2 tahun 10 bulan (34 bulan) di PN Denpasar, Kamis (25/3). Tuntutan tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Putu Agus Adnyana Putra berupa penjara selama 3,5 tahun.

Majelis hakim yang diketuai Sukranada sependapat dengan jaksa bahwa terdakwa terbukti melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan. “Menghukum terdakwa bersalah dan menjatuhkan hukuman kepada terdakwa pidana penjara selama 2 tahun 10 bulan penjara, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,” kata hakim Sukranada dalam sidang online di PN Denpasar.

Kasus yang membawa Irfana ke pengadilan itu berawal dari laporan korban dr. Elizabeth Lisa Ernalis (29). Korban mengaku awalnya dijanjikan dokter kelahiran Klungkung, 9 Oktober 1978 tersebut bisa melanjutkan studi spesialis di Unud. Janji terdakwa itu disampaikan usai istri terdakwa dr. AP melahirkan.

Saat bincang-bincang, dr.AP menawarkan Elizabeth sekolah dokter spesialis kulit di FK Unud. “Iis, gak mau melanjutin sekolah, dicoba saja. Kalau mau Si Koko (terdakwa) bisa bantuin tuh,” kata hakim dalam materi amar putusannya. Selai itu, terdakwa juga menjanjikan bisa memasukkan ke Unair, UI. Kemudian Pada 21 Juli 2018, terdakwa dr. Irfana menelepon korban dan juga kirim pesan WhatsApp mengatakan sudah positif dan itu hoky-nya korban karena Babe sudah bisa memastikan bisa membantu di Fakultas Kedokteran Unud.

Selanjutnya, pada 24 Juli, terdakwa kembali menelpon korban datang ke Bali bersama orangtuanya. Ketika bertemu  Irfana menjanjikan kepada korban bisa masuk dokter spesialis dari awal sampai persiapan akhir dengan biaya 2 miliar. Namun saat itu saksi korban hanya sanggup Rp 1,5 miliar. Pada 26 Juli 2018 korban kembali bertemu dan mentransfer Rp 50 juta sebagai tanda jadi ke rekening atas nama dr. Irfana di sebuah ATM BCA di dekat Kampus Unud Denpasar. Besoknya, 27 Juli kembali mentransfer Rp 450 juta ke rekening BCA atas nama dokter Irfana melalui teller bank BCA di Sudirman  Denpasar. Pada 14 September 2018, terdakwa datang ke rumah korban di Jakarta menagih kekurangan Rp 100 juta. Selanjutnya pada 15 September ditransfer 7 kali dengan nilai seratus juta dan puluhan juta dan 17 September kembali ditransfer ke rekenning atas nama terdakwa sebanyak lima kali.

Untuk meyakinkan korban dan ibunya, terdakwa awalnya menyerahkan satu cek pada korban senilai Rp 500 juta. Dan apabila tidak lulus, H+1 cek tersebut bisa dicairkan. Saat itu, terdakwa kembali menyodorkan dua cek pada korban masing-masing senilai Rp 500 juta. Pada 28 hingga 30 Oktober korban mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru Dokter Spesialis Kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Namun saat pengumuman 9 November 2018, nama korban tidak muncul alias tidak lulus seleksi dokter spesialis. Korban pun merasa tertipu, dan menelepon terdakwa, untuk mencairkan ketiga cek yang diberikan sebelumnya.

Sialnya cek itu tidak bisa dicairkan karena sudah kadaluarsa. Akibat ulah terdakwa, korban Elizabeth Lisa Ernalis mengalami kerugian Rp 1,5 miliar.


DENPASAR,BALI EXPRESS – Irfana, 42 oknum dokter di Denpasar yang didakwa melakukan penipuan kepada calon dokter dokter spesialis divonis 2 tahun 10 bulan (34 bulan) di PN Denpasar, Kamis (25/3). Tuntutan tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Putu Agus Adnyana Putra berupa penjara selama 3,5 tahun.

Majelis hakim yang diketuai Sukranada sependapat dengan jaksa bahwa terdakwa terbukti melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan. “Menghukum terdakwa bersalah dan menjatuhkan hukuman kepada terdakwa pidana penjara selama 2 tahun 10 bulan penjara, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,” kata hakim Sukranada dalam sidang online di PN Denpasar.

Kasus yang membawa Irfana ke pengadilan itu berawal dari laporan korban dr. Elizabeth Lisa Ernalis (29). Korban mengaku awalnya dijanjikan dokter kelahiran Klungkung, 9 Oktober 1978 tersebut bisa melanjutkan studi spesialis di Unud. Janji terdakwa itu disampaikan usai istri terdakwa dr. AP melahirkan.

Saat bincang-bincang, dr.AP menawarkan Elizabeth sekolah dokter spesialis kulit di FK Unud. “Iis, gak mau melanjutin sekolah, dicoba saja. Kalau mau Si Koko (terdakwa) bisa bantuin tuh,” kata hakim dalam materi amar putusannya. Selai itu, terdakwa juga menjanjikan bisa memasukkan ke Unair, UI. Kemudian Pada 21 Juli 2018, terdakwa dr. Irfana menelepon korban dan juga kirim pesan WhatsApp mengatakan sudah positif dan itu hoky-nya korban karena Babe sudah bisa memastikan bisa membantu di Fakultas Kedokteran Unud.

Selanjutnya, pada 24 Juli, terdakwa kembali menelpon korban datang ke Bali bersama orangtuanya. Ketika bertemu  Irfana menjanjikan kepada korban bisa masuk dokter spesialis dari awal sampai persiapan akhir dengan biaya 2 miliar. Namun saat itu saksi korban hanya sanggup Rp 1,5 miliar. Pada 26 Juli 2018 korban kembali bertemu dan mentransfer Rp 50 juta sebagai tanda jadi ke rekening atas nama dr. Irfana di sebuah ATM BCA di dekat Kampus Unud Denpasar. Besoknya, 27 Juli kembali mentransfer Rp 450 juta ke rekening BCA atas nama dokter Irfana melalui teller bank BCA di Sudirman  Denpasar. Pada 14 September 2018, terdakwa datang ke rumah korban di Jakarta menagih kekurangan Rp 100 juta. Selanjutnya pada 15 September ditransfer 7 kali dengan nilai seratus juta dan puluhan juta dan 17 September kembali ditransfer ke rekenning atas nama terdakwa sebanyak lima kali.

Untuk meyakinkan korban dan ibunya, terdakwa awalnya menyerahkan satu cek pada korban senilai Rp 500 juta. Dan apabila tidak lulus, H+1 cek tersebut bisa dicairkan. Saat itu, terdakwa kembali menyodorkan dua cek pada korban masing-masing senilai Rp 500 juta. Pada 28 hingga 30 Oktober korban mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru Dokter Spesialis Kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Namun saat pengumuman 9 November 2018, nama korban tidak muncul alias tidak lulus seleksi dokter spesialis. Korban pun merasa tertipu, dan menelepon terdakwa, untuk mencairkan ketiga cek yang diberikan sebelumnya.

Sialnya cek itu tidak bisa dicairkan karena sudah kadaluarsa. Akibat ulah terdakwa, korban Elizabeth Lisa Ernalis mengalami kerugian Rp 1,5 miliar.


Most Read

Artikel Terbaru

/