alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Mengenal Penyakit Dekompresi Yang Biasa Dialami Penyelam

DENPASAR, BALI EXPRESS- Bagi seorang penyelam yang terlalu lama melakukan aktivitas menyelam ataupun terlalu lama berada di dalam kapal selam, penyelam ini sering kali mengalami dekompresi yakni dampak yang dialami penyelam akibat perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat. 

Dokter Hiperbarik, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, dr. Anita Devi, M.si, mengatakan gejala dari penyakit dekompresi ini antara lain, pusing, tubuh terasa lemas, hingga sesak napas, bahkan yang paling parah adalah kelumpuhan. “Kondisi ini muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ,” jelasnya.

Baca Juga :  Dicueki Pemerintah, Warga Tutup Paksa Pintu Masuk TPA Peh

Penyakit dekompresi ini, dilanjutkan dr. Devi, penyakit dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap, atau tanpa menerapkan safety stop (berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu) sesuai aturan dasar keselamatan menyelam.

Hal ini karena pada dasarnya, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan yang ada. Jika perubahan tekanan terjadi terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung-gelembung yang bisa menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. “Lalu, pembuluh darah atau jaringan organ yang tersumbat dapat menimbulkan rasa sakit dan gejala lain,” lanjutnya.

Selain memang sering menyerang para penyelam, dekompresi ini akan lebih rentan menyerang seorang penyelam dengan usia diatas 30 tahun, memiliki riwayat penyakit jantung dan menderita obesitas dengan tingkat dehidrasi yang tinggi.

Baca Juga :  Kata Jokowi, Kutuh Jadi Percontohan Pengelolaan Dana Desa

Lantas apa pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita dekompresi ini? Terapi oksigen hiperbarik dijelaskan dr. Devi adalah metode yang digunakan untuk menangani penyakit dekompresi. Terapi ini menggunakan alat berupa tabung atau kamar khusus yang berfungsi mensimulasi tekanan. 

Tekanan yang ada pada tabung mencegah nitrogen membentuk gelembung dalam darah, dan mengubah kembali gelembung tersebut menjadi gas yang larut dalam darah.  “Sehingga gelembung nitrogen yang ada di organ vital pasien seperti jantung, otak dan pembuluh darah bisa mengecil dan bisa dikeluarkan melalui proses pernapasan,” lanjutnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS- Bagi seorang penyelam yang terlalu lama melakukan aktivitas menyelam ataupun terlalu lama berada di dalam kapal selam, penyelam ini sering kali mengalami dekompresi yakni dampak yang dialami penyelam akibat perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat. 

Dokter Hiperbarik, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, dr. Anita Devi, M.si, mengatakan gejala dari penyakit dekompresi ini antara lain, pusing, tubuh terasa lemas, hingga sesak napas, bahkan yang paling parah adalah kelumpuhan. “Kondisi ini muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ,” jelasnya.

Baca Juga :  Progress Jembatan Shortcut Capai 68 Persen

Penyakit dekompresi ini, dilanjutkan dr. Devi, penyakit dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap, atau tanpa menerapkan safety stop (berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu) sesuai aturan dasar keselamatan menyelam.

Hal ini karena pada dasarnya, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan yang ada. Jika perubahan tekanan terjadi terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung-gelembung yang bisa menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. “Lalu, pembuluh darah atau jaringan organ yang tersumbat dapat menimbulkan rasa sakit dan gejala lain,” lanjutnya.

Selain memang sering menyerang para penyelam, dekompresi ini akan lebih rentan menyerang seorang penyelam dengan usia diatas 30 tahun, memiliki riwayat penyakit jantung dan menderita obesitas dengan tingkat dehidrasi yang tinggi.

Baca Juga :  Api di Lereng Gunung Agung Belum Bisa Dipadamkan, Petugas Tunggu Hujan

Lantas apa pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita dekompresi ini? Terapi oksigen hiperbarik dijelaskan dr. Devi adalah metode yang digunakan untuk menangani penyakit dekompresi. Terapi ini menggunakan alat berupa tabung atau kamar khusus yang berfungsi mensimulasi tekanan. 

Tekanan yang ada pada tabung mencegah nitrogen membentuk gelembung dalam darah, dan mengubah kembali gelembung tersebut menjadi gas yang larut dalam darah.  “Sehingga gelembung nitrogen yang ada di organ vital pasien seperti jantung, otak dan pembuluh darah bisa mengecil dan bisa dikeluarkan melalui proses pernapasan,” lanjutnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/