alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Polisi Tetapkan 6 Orang Prajuru Desa Adat Jadi Tersangka Kasus Cabut Penjor

GIANYAR, BALI EXPRESS – Setelah rekontruksi digelar, polisi akhirnya menetapkan enam orang Prajuru Desa Adat Taro  Kelod, Kecamatan Tegallalang, sebagai tersangka dalam kasus pencabutan penjor. Tak tanggung-tanggung mereka dijerat pasal berlapis, yakni tentang pengerusakan secara bersama-sama dan Penistaan Agama.

Keenam tersangkan selanjutnya dipanggil ke Mapolres Gianyar Senin (25/7) untuk melengkapi berkas acara pemeriksaan. Adapun keenam tersangka, masing-masing adalah I Wayan Wangun selaku Kelian Adat Taro Kelod,  I Made Arsa Nata alias Daging sebagai Bendahara, I Ketut Gede Adnyana selaku Wakil Kelian Adat Tempek Delod Sema, I Ketut Wardana Wakil Kelian Adat Tempek Kauh, I Ketut Suardana Pekaseh Subak Taro Kelod dan I Made Wardana yang menjabat Sekrataris Kelian Adat. Sedangkan Bendesa Adat Taro Kelod, I Ketut Subawa masih bersatatus saksi.

Kasat Reskrim Polres Gianyar, AKP Ario Seno Wimoko tidak menamfik perihal penetapan tersangka tersebut. Dirinya menjelaskan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah pihaknya melakukan sejumlah pemeriksaan keterangan saksi  serta meminta keterangan dari parah ahli serta hasil rekonstruksi.  “Iya keenam orang prajuru ini sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Dan hari ini, mereka kita periksa dalam status sebagau tersangka,” tegasnya.

Baca Juga :  Penerima Bantuan Ganda Diminta Mengembalikan, Warga Banyuseri Bingung

Ditambahkannya jika, dalam gelar penetapan,  apa yang dilakukan oleh keenam orang prajuru adat ini dinilai telah memenuhi unsur tindak pidana.

Hanya saja pihaknya tidak menutup kemungkinan mengenai bertambahnya tersangka. Sebab jika dalam pemeriksaan pengembangan ada saksi lainnya yang keterlibatannya memenuhi unsur  pidana dalam kasus pencabutan penjor ini, maka tersangka bisa saja bertambah. “Jadi kita tidak menutup kemungkinan para tersangkanya bertambah. Ini tergantung dari pemeriksaan kepada para tersangka,” paparnya.

Kata AKP Wimoko,  penyidik  juga menyiapkan pasal berlapis. Mulai dari dugaan tidak pidana tentang pengrusakan secara bersama-sama hingga tindak pidana penodaan atau penistaan agama. Adapun pasal yang disangkakan adalah Pasal 170 ayat I,  Pasal 156 A huruf a dan .Jo pasal 55 KUHP dengan ancaman selama-lamanya lima tahun.

Baca Juga :  Polres Gianyar Tak Henti Edukasi Prokes Melalui Bondres

Sebelumnya diberitakan bahwa penjor milik keluarga Jero Mangku I Ketut Warka dicabut pada Hari Penampahan Galungan. Penjor yang ditancapkan di depan pekarangannya di Banjar Taro Kelod, Taro,  Tegalalang, Gianyar itu diduga dicabut oleh sejumlah orang  dan  alat-alat penjor  yang telah dicabut digeletakkan tak jauh dari lokasi  penjor berdiri sebelumnya.

 

Keluarga Jero Mangku Ketut Warka sendiri saat ini tengah ‘kesepekang’  atau dikucilkan oleh Desa Adat Taro Kelod akibat sengketa lahan dengan krama setempat dan sampai ke meja hijau. Sebelumnya halaman rumah Jero Mangku Ketut Warka juga sempat dijadikan lokasi menaruh sisa-sisa upakara oleh warga setempat. Sayangnya hingga saat ini belum ada titik terang dalam persoalan tersebut bahkan cenderung semakin berlarut-larut meskipun pihak Pemkab Gianyar hingga saat ini masih terus berupaya untuk mendamaikan kedua belah pihak.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Setelah rekontruksi digelar, polisi akhirnya menetapkan enam orang Prajuru Desa Adat Taro  Kelod, Kecamatan Tegallalang, sebagai tersangka dalam kasus pencabutan penjor. Tak tanggung-tanggung mereka dijerat pasal berlapis, yakni tentang pengerusakan secara bersama-sama dan Penistaan Agama.

Keenam tersangkan selanjutnya dipanggil ke Mapolres Gianyar Senin (25/7) untuk melengkapi berkas acara pemeriksaan. Adapun keenam tersangka, masing-masing adalah I Wayan Wangun selaku Kelian Adat Taro Kelod,  I Made Arsa Nata alias Daging sebagai Bendahara, I Ketut Gede Adnyana selaku Wakil Kelian Adat Tempek Delod Sema, I Ketut Wardana Wakil Kelian Adat Tempek Kauh, I Ketut Suardana Pekaseh Subak Taro Kelod dan I Made Wardana yang menjabat Sekrataris Kelian Adat. Sedangkan Bendesa Adat Taro Kelod, I Ketut Subawa masih bersatatus saksi.

Kasat Reskrim Polres Gianyar, AKP Ario Seno Wimoko tidak menamfik perihal penetapan tersangka tersebut. Dirinya menjelaskan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah pihaknya melakukan sejumlah pemeriksaan keterangan saksi  serta meminta keterangan dari parah ahli serta hasil rekonstruksi.  “Iya keenam orang prajuru ini sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Dan hari ini, mereka kita periksa dalam status sebagau tersangka,” tegasnya.

Baca Juga :  Curi HP, Dijual ke Singaraja, Pemuda asal Jawa Timur Ditangkap

Ditambahkannya jika, dalam gelar penetapan,  apa yang dilakukan oleh keenam orang prajuru adat ini dinilai telah memenuhi unsur tindak pidana.

Hanya saja pihaknya tidak menutup kemungkinan mengenai bertambahnya tersangka. Sebab jika dalam pemeriksaan pengembangan ada saksi lainnya yang keterlibatannya memenuhi unsur  pidana dalam kasus pencabutan penjor ini, maka tersangka bisa saja bertambah. “Jadi kita tidak menutup kemungkinan para tersangkanya bertambah. Ini tergantung dari pemeriksaan kepada para tersangka,” paparnya.

Kata AKP Wimoko,  penyidik  juga menyiapkan pasal berlapis. Mulai dari dugaan tidak pidana tentang pengrusakan secara bersama-sama hingga tindak pidana penodaan atau penistaan agama. Adapun pasal yang disangkakan adalah Pasal 170 ayat I,  Pasal 156 A huruf a dan .Jo pasal 55 KUHP dengan ancaman selama-lamanya lima tahun.

Baca Juga :  Hampir Sebulan, Pengungkapan Kasus Limbah Medis di Gianyar Masih Gelap

Sebelumnya diberitakan bahwa penjor milik keluarga Jero Mangku I Ketut Warka dicabut pada Hari Penampahan Galungan. Penjor yang ditancapkan di depan pekarangannya di Banjar Taro Kelod, Taro,  Tegalalang, Gianyar itu diduga dicabut oleh sejumlah orang  dan  alat-alat penjor  yang telah dicabut digeletakkan tak jauh dari lokasi  penjor berdiri sebelumnya.

 

Keluarga Jero Mangku Ketut Warka sendiri saat ini tengah ‘kesepekang’  atau dikucilkan oleh Desa Adat Taro Kelod akibat sengketa lahan dengan krama setempat dan sampai ke meja hijau. Sebelumnya halaman rumah Jero Mangku Ketut Warka juga sempat dijadikan lokasi menaruh sisa-sisa upakara oleh warga setempat. Sayangnya hingga saat ini belum ada titik terang dalam persoalan tersebut bahkan cenderung semakin berlarut-larut meskipun pihak Pemkab Gianyar hingga saat ini masih terus berupaya untuk mendamaikan kedua belah pihak.


Most Read

Artikel Terbaru

/