Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fiskal Terjepit, SDM Diuji, Diskusi KJB Buka Peta Jalan Pembangunan Buleleng

D
Penulis: Dian Suryantini❯

Diskusi yang berlangsung bersama Bupati Buleleng, dr. Nyoman Sutjidra (tengah, Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, Ketut Ngurah Arya (kanan) dan Pemilik Krisna Oleh-oleh Bali, Cok Krisna (kiri).
Diskusi yang berlangsung bersama Bupati Buleleng, dr. Nyoman Sutjidra (tengah, Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, Ketut Ngurah Arya (kanan) dan Pemilik Krisna Oleh-oleh Bali, Cok Krisna (kiri).


Advertisement

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS  – Kabupaten Buleleng tengah berada dalam tekanan serius. Di satu sisi, kebutuhan pembangunan kian mendesak. Di sisi lain, kemampuan fiskal justru semakin menyempit. Ketergantungan pada dana transfer pusat, tingginya belanja pegawai, serta keterbatasan kualitas sumber daya manusia menjadi simpul persoalan yang tak bisa lagi ditunda penyelesaiannya.

Situasi inilah yang mengemuka dalam diskusi akhir tahun 2025 yang digelar Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB) di Krisna Beach Street, Singaraja, Selasa (16/12). Forum yang mempertemukan pemerintah daerah, insan pers, dan komponen masyarakat ini mengangkat tema Strategi Pembiayaan dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Percepatan Pembangunan Kabupaten Buleleng.

Advertisement

Presiden KJB, Putu Nova A. Putra, menegaskan bahwa diskusi ini bukan sekadar agenda seremonial penutup tahun, melainkan ruang refleksi dan tekanan publik terhadap arah kebijakan pembangunan daerah. Menurutnya, jurnalis memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penyalur aspirasi dan pengawal kepentingan masyarakat.

“KJB tidak hanya berbicara soal literasi informasi. Forum ini menjadi ruang bagi publik dan jurnalis untuk menyampaikan masukan strategis bagi kemajuan Buleleng,” ujar Putu Nova.

Ia secara terbuka menyoroti ketergantungan Buleleng terhadap dana transfer pemerintah pusat. Kondisi tersebut dinilai semakin berisiko seiring munculnya kebijakan efisiensi dan potensi pemangkasan dana transfer ke daerah. Jika tidak diantisipasi, pembangunan daerah dikhawatirkan berjalan di tempat. 

Advertisement

“Selama ini kita sangat bergantung pada pusat. Ke depan, pendapatan daerah tidak bisa hanya bertumpu di sana. Harus ada strategi pembiayaan alternatif, termasuk membuka ruang kerja sama dengan pihak swasta,” tegasnya.

Tekanan fiskal tersebut kemudian dijawab langsung oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra. Ia mengapresiasi peran KJB yang dinilainya konsisten berkolaborasi sekaligus menjalankan fungsi kontrol melalui kritik yang konstruktif. Sutjidra mengakui, tema diskusi yang diangkat sangat relevan dengan kondisi nyata fiskal Buleleng saat ini.

“Faktanya, fiskal Buleleng sangat rendah, bahkan terendah di Bali. Dengan wilayah terluas, jumlah penduduk besar, dan angka kemiskinan tertinggi, tantangan pembangunan kita jauh lebih berat,” ungkapnya.

Salah satu persoalan krusial, lanjut Sutjidra, adalah struktur belanja daerah yang belum ideal. Dari ketentuan mandatory spending, belanja pegawai maksimal 30 persen. Namun di Buleleng, angka tersebut sempat menembus 47 persen. Kondisi ini secara langsung memangkas ruang fiskal untuk pembangunan.

“Setelah evaluasi bersama TAPD, kami terpaksa mengambil langkah pemotongan TPP. Ini keputusan yang sangat berat, tetapi harus dilakukan agar ada celah fiskal,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan anggaran, peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi prioritas. Sutjidra mengakui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan rata-rata lama sekolah di Buleleng masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, sejumlah langkah konkret mulai dilakukan.

Pemkab Buleleng, kata dia, berhasil melobi pemerintah pusat hingga memperoleh program revitalisasi 59 sekolah dengan pembiayaan hampir 50 persen dari pusat. Selain itu, pengembangan pendidikan vokasi di Universitas Panji Sakti (Unipas) juga mulai dirintis untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja siap pakai.

“Pendidikan vokasi sangat penting, terutama di bidang kesehatan, agar lulusan bisa langsung terserap dunia kerja,” jelasnya.

Diskusi akhir tahun KJB ini diharapkan menjadi ruang dialog berkelanjutan antara pemerintah, jurnalis, dan masyarakat. Di tengah keterbatasan fiskal dan tantangan SDM, forum ini menegaskan satu hal: percepatan pembangunan Buleleng tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama, melainkan membutuhkan strategi baru yang lebih berani dan terukur. ***

Advertisement

Artikel Terkait

Dana Transfer Dipangkas, Anggaran Beasiswa Jembrana Turun Lebih dari Separuh

Dana Transfer Dipangkas, Anggaran Beasiswa Jembrana Turun Lebih dari Separuh

Pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat mulai memukul sektor pendidikan di Kabupaten Jembrana. Anggaran beasiswa dipangkas.

Ikhtiar Buleleng Menuju Kemandirian Energi

Ikhtiar Buleleng Menuju Kemandirian Energi

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali tengah menyiapkan tender dua proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar, yakni PLTS Gilimanuk berkapasitas sekitar 300 MWp dan PLTS Buleleng 118 MWp.

Lapas Singaraja Geledah Kamar Hunian, Sita Pisau Cutter hingga Botol Kaca

Lapas Singaraja Geledah Kamar Hunian, Sita Pisau Cutter hingga Botol Kaca

Tepat pukul 15.00 Wita, belasan petugas bergerak menuju Kamar Hunian 19 untuk menggelar penggeledahan mendadak terhadap badan dan kamar warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer