Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Raka Dalem Bernat dan Sri Melanting Art Hadirkan Dekorasi Natal Berbasis Daun Kering

R
Penulis: Rika Riyanti❯

KOLABORASI: Karya kolaborasi dengan Raka Dalem Bernat, Sri Melanting Art memadukan seni ulat, eksplorasi warna, seni rupa, serta keberanian mengolah bahan alami
KOLABORASI: Karya kolaborasi dengan Raka Dalem Bernat, Sri Melanting Art memadukan seni ulat, eksplorasi warna, seni rupa, serta keberanian mengolah bahan alami


Advertisement

 

BALIEXPRESS.ID - Bagi masyarakat Bali, perjumpaan dengan budaya luar bukanlah sesuatu yang asing.

Sejak lama, pulau ini dikenal memiliki kemampuan unik dalam merespons pengaruh global—bukan dengan penolakan, tetapi melalui proses penyesuaian yang matang hingga melahirkan bentuk baru yang tetap berakar pada identitas lokal.

Advertisement

Semangat inilah yang tercermin dalam karya-karya Sri Melanting Art, sebuah studio seni berbasis di Banjar Pande, Sayan, Ubud.

Sri Melanting Art tumbuh dari proses yang perlahan dan penuh kesadaran.

Advertisement

Mereka memilih jalur yang tidak instan dengan mengandalkan teknik manual, ketelitian tangan, serta kedekatan dengan material alam.

Daun kering menjadi medium utama yang diolah dengan kesabaran, menyatu dalam komposisi yang lahir dari dialog antara seniman dan alam sekitarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan daun kering semakin populer di dunia dekorasi Bali.

Estetika yang natural, jujur, dan ramah lingkungan mulai mendominasi berbagai acara, mulai dari pernikahan hingga ruang publik.

Menariknya, geliat ini juga merambah ke tingkat komunitas.

Sekaa truna di banjar-banjar dan desa adat kini semakin aktif berkreasi, menandai bahwa seni dekorasi telah menjadi ruang ekspresi bersama, bukan lagi milik kalangan tertentu.

Di tengah perkembangan tersebut, Sri Melanting Art tampil bukan sebagai sekadar pengikut arus, melainkan sebagai pengolah ide.

Ketika perayaan Natal—yang berasal dari tradisi luar—hadir di Bali, mereka tidak berhenti pada peniruan simbol semata.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana menghadirkan Natal dengan sentuhan rasa Bali yang otentik.

Jawaban atas pertanyaan itu terwujud dalam rancangan pohon Natal yang berbeda dari kebanyakan.

Melalui kolaborasi dengan Raka Dalem Bernat, Sri Melanting Art memadukan seni ulat, eksplorasi warna, seni rupa, serta keberanian mengolah bahan alami menjadi sebuah karya dekorasi yang sederhana namun kuat secara visual.

Pohon Natal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi hadir sebagai karya seni yang memiliki jiwa.

Karya dekorasi Natal bergaya Bali ini kemudian menghiasi berbagai ruang strategis, mulai dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Waterbom Bali, sejumlah kafe di Ubud, hingga kolaborasi bersama Falala Artisan Chocolate Ubud.

Di setiap lokasi, nuansa Natal tampil lebih hangat dan membumi, menghadirkan suasana yang akrab dengan lanskap budaya Bali.

Peran seniman dekorator kerap bekerja dalam diam, namun pengaruhnya nyata.

Lewat tangan-tangan yang akrab dengan getah dan daun kering, mereka membentuk ingatan visual yang melekat di benak banyak orang.

Sri Melanting Art menjadi salah satu contoh bagaimana kreativitas yang dijalani dengan kesabaran mampu melahirkan karya yang berkesan.

Melalui pendekatan yang konsisten dan berakar pada tradisi, Sri Melanting Art menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus datang dengan meninggalkan warisan budaya.

Justru dengan merawat dan mengolahnya secara kontekstual, seni Bali dapat berjalan berdampingan dengan dunia modern.

 

Informasi serta dokumentasi karya Sri Melanting Art dapat diakses melalui akun Instagram resmi mereka di @srimelanting_art.(ika)

Advertisement

Artikel Terkait

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan anggota DPRD Badung Made Bima Nata meninjau lokasi longsor pada Senin (2/11).

Gelar Seminar, Women’s World Banking Ungkap 23 Persen Usaha Perempuan Bertahan Lebih dari 5 Tahun

Gelar Seminar, Women’s World Banking Ungkap 23 Persen Usaha Perempuan Bertahan Lebih dari 5 Tahun

Riset tersebut menemukan hanya 44 persen pengusaha perempuan yang mampu mempertahankan usahanya selama tiga hingga lima tahun. Sementara itu, hanya 23 persen yang dapat bertahan lebih dari lima tahun.

Bidik 64 Ribu Pekerja, Perlindungan Jaminan Sosial Diperluas Lewat Jaringan BPR

Bidik 64 Ribu Pekerja, Perlindungan Jaminan Sosial Diperluas Lewat Jaringan BPR

Pekerja sektor informal dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sasaran perluasan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan melalui kerja sama BPJS Ketenagakerjaan dengan PT BPR Bank Nusamba Bali Nus

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer