Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jalan Bijak Moderasi Beragama untuk Bali yang Harmonis

I
Penulis: I Putu Mardika❯

Dosen Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Duwi Oktaviana, M.Pd
Dosen Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Duwi Oktaviana, M.Pd
BALIEXPRESS.ID-Bali selama ini dikenal sebagai pulau yang damai, ramah, dan sarat nilai toleransi. Di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang masyarakatnya, Bali mampu menjaga harmoni sosial yang menjadi fondasi utama pariwisata dan kehidupan bermasyarakat.


Advertisement

Namun, di era digital dan arus informasi tanpa batas, harmoni tersebut tidak boleh dianggap sesuatu yang sudah mapan dan aman selamanya. Di sinilah pentingnya moderasi beragama sebagai jalan tengah menjaga Bali tetap ajeg dan damai.

Moderasi beragama bukanlah upaya mengaburkan ajaran agama, apalagi melemahkan keyakinan umat. Moderasi justru menekankan cara beragama yang adil, seimbang, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Sikap ini menolak ekstremisme, fanatisme sempit, serta praktik keberagamaan yang mengabaikan nilai toleransi dan kebersamaan. Dalam konteks Bali yang multikultural, moderasi beragama menjadi kunci utama agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik.

Advertisement

Nilai moderasi sejatinya telah lama hidup dalam kearifan lokal Bali. Konsep Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam (palemahan).

Nilai ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang menempatkan keharmonisan sebagai tujuan utama kehidupan beragama. Sayangnya, nilai luhur ini kerap diuji oleh narasi provokatif di media sosial yang mudah memicu kesalahpahaman antarumat.

Belakangan ini, kita sering menjumpai komentar bernada intoleran, hoaks keagamaan, hingga sikap saling curiga yang beredar di ruang digital. Jika tidak disikapi secara bijak, kondisi ini berpotensi menggerus toleransi yang selama ini menjadi identitas Bali.

Advertisement

Moderasi beragama menjadi penawar penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tetap mengedepankan dialog, empati, serta sikap saling menghormati.

Peran generasi muda sangat strategis dalam menguatkan moderasi beragama. Anak muda Bali, yang aktif di media sosial dan ruang publik, perlu dibekali literasi keagamaan dan literasi digital yang memadai.

Kampus, sekolah, dan lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan pemahaman bahwa beragama tidak hanya soal ritual, tetapi juga soal etika sosial, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama.

Selain itu, tokoh agama dan adat juga memiliki peran sentral sebagai teladan. Keteladanan dalam bersikap inklusif, bijaksana, dan menyejukkan akan lebih efektif daripada sekadar ceramah normatif. Moderasi beragama harus tampak dalam tindakan nyata, mulai dari cara bertutur di ruang publik hingga sikap dalam menyikapi perbedaan.

Menjaga Bali tetap damai bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama semata, tetapi tugas kolektif seluruh masyarakat. Moderasi beragama adalah komitmen bersama untuk merawat kebhinekaan, memperkuat persaudaraan, dan memastikan bahwa perbedaan menjadi kekuatan, bukan ancaman.

Dengan menjadikan moderasi beragama sebagai cara hidup, Bali tidak hanya menjaga warisan toleransi leluhur, tetapi juga mewariskan masa depan yang harmonis bagi generasi mendatang. Bali yang damai adalah Bali yang mampu merawat perbedaan dengan kebijaksanaan.

Oleh: Duwi Oktaviana, M.Pd

Dosen Pendidikan Budi Pekerti Hindu, Institut Mpu Kuturan

 

Advertisement

Artikel Terkait

Siap Dukung MBG, Koster Persilakan Aset Pemprov Bali Dimanfaatkan

Siap Dukung MBG, Koster Persilakan Aset Pemprov Bali Dimanfaatkan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menyatakan kesiapan mendukung pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG).

35 Pakar Medis dari 11 Negara Bahas Perkembangan Toksin Botulinum di Bali

35 Pakar Medis dari 11 Negara Bahas Perkembangan Toksin Botulinum di Bali

Sebanyak 35 pakar medis dari 11 negara berkumpul di Bali dalam forum NMC EXCLUSIVE Global KOL Summit Bali 2026 yang berlangsung pada 29–31 Oktober 2026.

Akui Salah Ikut Marahi Petugas SPBU, Koster: Sampai Rumah Saya Kepikiran

Akui Salah Ikut Marahi Petugas SPBU, Koster: Sampai Rumah Saya Kepikiran

Gubernur Bali Wayan Koster mengakui dirinya bersalah karena ikut terpancing emosi saat menegur petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di tengah antrean panjang BBM beberapa waktu lalu.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer