alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

KTT G20 Diperkirakan Tingkatkan PDB Bali Sebesar 0,14 Persen

DENPASAR, BALI EXPRESS – Mulai 1 Desember 2021 lalu, sampai 30 November 2022 mendatang, Indonesia sudah memegang Presidensi G20. Ada sebanyak 157 pertemuan, baik di jalur Sherpa, jalur keuangan, maupun di engagement. Tetapi dari 157 pertemuan ini, tidak semua akan berlangsung di Bali.

Kendati demikian, perhelatan yang diikuti oleh 19 negara utama dan Uni Eropa (EU) dikatakan memberi dampak yang cukup positif bagi Bali. Yakni dari segi pemulihan ekonomi dan pariwisata. Yang mana, dari sisi ekonomi, perhelatan skala internasional ini diperkirakan menyumbangkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,14 persen.

“Penyelenggaraan event G20 ini, hitungannya Bali-Nusra dan Bali sendiri) untuk skenario optimis, di Bali akan menyumbang PDB sebesar 0,14 persen. Dari sisi nilai tambah bruto (NTB) di Bali akan meningkat Rp 209 miliar, income Rp 94,6 miliar dan tenaga kerjanya akan meningkat 1,68 persen. ini berdasarkan study Bank Indonesia,” beber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda pada acara Capacity Building (CapBul) bersama Media, bertema Presidensi G20 Indonesia, di Denpasar, Rabu (26/1).

Sementara untuk sisi pariwisata, Rizki memberi contoh kecilnya, pada penyelenggaraan First G20 Finance Minister and Central Bank Governors Meeting pada Desember 2021 lalu, telah menyumbangkan keterisian tingkat okupansi sampai 40,6 persen di Hotel ITDC Nusa Dua. “Occupancy rate di Hotel ITDC Nusa Dua, kalau tahun 2020 lalu, itu tidak ada kegiatan apa-apa, occupancy rate-nya di bulan Desember 23,6 persen, periode yang sama Desember 2021, ada penyelenggaraan First G20 Finance Minister and Central Bank Governors Meeting itu naik dari 23,6 persen jadi 40,6 persen. Jadi occupancy rate-nya dari situ saja sudah meningkat,” ungkapnya.

Dari angka tersebut, ada peningkatan wisawatan nusantara (wisnus), wisatawan mancanegara (wisman) serta panitia dari G20 itu sendiri. Dampaknya pun, mengalir ke industri perdagangan, transportasi, akomodasi makan dan minum, jasa perusahaan, dan jasa lainnya.
Untuk itu, ia menuturkan, masyarakat Bali harus optimis untuk bangkit. Sebab, meskipun Bali sudah dua tahun terseok-seok, tetapi perhatian pemerintah kepada Bali sudah luar biasa. “Meski hanya 0,14 persen, tidak apa-apa, disyukuri. Please be optimistic,” katanya.

Sebagai informasi, G20 dibentuk pada 1999, diinisiasi oleh kelompok negara-negara maju, G7. Pada periode awal pembentukan, G20 merupakan forum bagi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral untuk mendiskusikan respons kebijakan dan memperkuat perekonomian dunia dalam menghadapi berbagai krisis yang berdampak global (Mexican Peso crisis 1994, Asian Financial Crisis 1997/1998, dan Russian financial crisis 1998).

Adapun 20 negara yang tergabung dalam G20 yakni negara maju (Amerika Serikat, Australia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, Prancis dan Uni Eropa) dan negara berkembang (Afrika Selatan, Argentina, Arab Saudi, Brazil, India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Tiongkok, dan Turki). G20 mempresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan global, serta 80 persen PDB dunia.

 






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Mulai 1 Desember 2021 lalu, sampai 30 November 2022 mendatang, Indonesia sudah memegang Presidensi G20. Ada sebanyak 157 pertemuan, baik di jalur Sherpa, jalur keuangan, maupun di engagement. Tetapi dari 157 pertemuan ini, tidak semua akan berlangsung di Bali.

Kendati demikian, perhelatan yang diikuti oleh 19 negara utama dan Uni Eropa (EU) dikatakan memberi dampak yang cukup positif bagi Bali. Yakni dari segi pemulihan ekonomi dan pariwisata. Yang mana, dari sisi ekonomi, perhelatan skala internasional ini diperkirakan menyumbangkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,14 persen.

“Penyelenggaraan event G20 ini, hitungannya Bali-Nusra dan Bali sendiri) untuk skenario optimis, di Bali akan menyumbang PDB sebesar 0,14 persen. Dari sisi nilai tambah bruto (NTB) di Bali akan meningkat Rp 209 miliar, income Rp 94,6 miliar dan tenaga kerjanya akan meningkat 1,68 persen. ini berdasarkan study Bank Indonesia,” beber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda pada acara Capacity Building (CapBul) bersama Media, bertema Presidensi G20 Indonesia, di Denpasar, Rabu (26/1).

Sementara untuk sisi pariwisata, Rizki memberi contoh kecilnya, pada penyelenggaraan First G20 Finance Minister and Central Bank Governors Meeting pada Desember 2021 lalu, telah menyumbangkan keterisian tingkat okupansi sampai 40,6 persen di Hotel ITDC Nusa Dua. “Occupancy rate di Hotel ITDC Nusa Dua, kalau tahun 2020 lalu, itu tidak ada kegiatan apa-apa, occupancy rate-nya di bulan Desember 23,6 persen, periode yang sama Desember 2021, ada penyelenggaraan First G20 Finance Minister and Central Bank Governors Meeting itu naik dari 23,6 persen jadi 40,6 persen. Jadi occupancy rate-nya dari situ saja sudah meningkat,” ungkapnya.

Dari angka tersebut, ada peningkatan wisawatan nusantara (wisnus), wisatawan mancanegara (wisman) serta panitia dari G20 itu sendiri. Dampaknya pun, mengalir ke industri perdagangan, transportasi, akomodasi makan dan minum, jasa perusahaan, dan jasa lainnya.
Untuk itu, ia menuturkan, masyarakat Bali harus optimis untuk bangkit. Sebab, meskipun Bali sudah dua tahun terseok-seok, tetapi perhatian pemerintah kepada Bali sudah luar biasa. “Meski hanya 0,14 persen, tidak apa-apa, disyukuri. Please be optimistic,” katanya.

Sebagai informasi, G20 dibentuk pada 1999, diinisiasi oleh kelompok negara-negara maju, G7. Pada periode awal pembentukan, G20 merupakan forum bagi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral untuk mendiskusikan respons kebijakan dan memperkuat perekonomian dunia dalam menghadapi berbagai krisis yang berdampak global (Mexican Peso crisis 1994, Asian Financial Crisis 1997/1998, dan Russian financial crisis 1998).

Adapun 20 negara yang tergabung dalam G20 yakni negara maju (Amerika Serikat, Australia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, Prancis dan Uni Eropa) dan negara berkembang (Afrika Selatan, Argentina, Arab Saudi, Brazil, India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Tiongkok, dan Turki). G20 mempresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan global, serta 80 persen PDB dunia.

 






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/