alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Kecewa Air PDAM Mati Dua Hari, Warga Petulu Gunung Mengeluh

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pelayanan PDAM Gianyar dikeluhkan oleh masyarakat. Pasalnya sejak Selasa sore (23/3) hingga Jumat siang (26/3) air PDAM di daerah Banjar Petulu Gunung, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Gianyar mati. Hal itu pun membuat pelanggan kecewa.

 

Seperti halnya yang disampaikan oleh salah seorang pelanggan PDAM Gianyar, I Ketut Supriawan, warga Banjar Petulu Gunung, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Gianyar, yang ditemui Jumat (26/3).

 

Ia menuturkan jika air PDAM sudah mati sejak hari Selasa (23/3) sore. Akibatnya untuk kebutuhan sehari-hari dan MCK, ia harus mengambil air ke sungai yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Sedangkan untuk air minum ia nunas (meminta) di Tirta Tawar yang merupakan sumber mata air yang disucikan warga setempat. “Bahkan kemarin saya 2 kali mengambil air ke sungai di utara rumah saya pakai mobil pikap,” ujarnya.

 

Selain itu dirinya juga sempat meminta air kepada tetangganya yang menggunakan sumur bor. Atas kondisi tersebut, Supriawan pun mengaku kecewa atas pelayanan PDAM Gianyar. Padahal selama ini sebagai pelanggan ia selalu disiplin menunaikan kewajibannya dalam membayar air. Namun pelayanan PDAM Gianyar justru kurang memuaskan. “Untuk pembayaran saya tetap lancar bahkan sampai Rp 350.000 perbulan karena saya pakai usaha, tapi pelayanan kurang memuaskan,” keluhnya.

 

Ia juga menyayangkan tidak adanya pemberitahuan dari pihak PDAM bahwa akan ada gangguan. Tiba-tiba saja air mati sehingga ia tidak bisa menampung air. Padahal pria yang memiliki usaha kerajinan kayu tersebut juga menjual banten dan Sabtu besok ia akan melaksanakan Pengebatan untuk membuat caru dan ulam banten sehingga sangat membutuhkan air. “Katanya seluruh Banjar Petulu Gunung airnya mati, saya sudah hubungi petugas PDAM dan katanya masih dalam perbaikan pompa, dijanjikan Kamis sudah hidup tapi sampai sekarang masih mati,” tandasnya. 

 

Berbeda dengan Supriawan, warga lainnya Made Sartika mengaku terpaksa mandi menggunakan air hujan yang ia tampung ketika hujan turun. “Ya terpaksa saya mandi pakai air hujan,” ujarnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Pelayanan PDAM Gianyar dikeluhkan oleh masyarakat. Pasalnya sejak Selasa sore (23/3) hingga Jumat siang (26/3) air PDAM di daerah Banjar Petulu Gunung, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Gianyar mati. Hal itu pun membuat pelanggan kecewa.

 

Seperti halnya yang disampaikan oleh salah seorang pelanggan PDAM Gianyar, I Ketut Supriawan, warga Banjar Petulu Gunung, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Gianyar, yang ditemui Jumat (26/3).

 

Ia menuturkan jika air PDAM sudah mati sejak hari Selasa (23/3) sore. Akibatnya untuk kebutuhan sehari-hari dan MCK, ia harus mengambil air ke sungai yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Sedangkan untuk air minum ia nunas (meminta) di Tirta Tawar yang merupakan sumber mata air yang disucikan warga setempat. “Bahkan kemarin saya 2 kali mengambil air ke sungai di utara rumah saya pakai mobil pikap,” ujarnya.

 

Selain itu dirinya juga sempat meminta air kepada tetangganya yang menggunakan sumur bor. Atas kondisi tersebut, Supriawan pun mengaku kecewa atas pelayanan PDAM Gianyar. Padahal selama ini sebagai pelanggan ia selalu disiplin menunaikan kewajibannya dalam membayar air. Namun pelayanan PDAM Gianyar justru kurang memuaskan. “Untuk pembayaran saya tetap lancar bahkan sampai Rp 350.000 perbulan karena saya pakai usaha, tapi pelayanan kurang memuaskan,” keluhnya.

 

Ia juga menyayangkan tidak adanya pemberitahuan dari pihak PDAM bahwa akan ada gangguan. Tiba-tiba saja air mati sehingga ia tidak bisa menampung air. Padahal pria yang memiliki usaha kerajinan kayu tersebut juga menjual banten dan Sabtu besok ia akan melaksanakan Pengebatan untuk membuat caru dan ulam banten sehingga sangat membutuhkan air. “Katanya seluruh Banjar Petulu Gunung airnya mati, saya sudah hubungi petugas PDAM dan katanya masih dalam perbaikan pompa, dijanjikan Kamis sudah hidup tapi sampai sekarang masih mati,” tandasnya. 

 

Berbeda dengan Supriawan, warga lainnya Made Sartika mengaku terpaksa mandi menggunakan air hujan yang ia tampung ketika hujan turun. “Ya terpaksa saya mandi pakai air hujan,” ujarnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/