alexametrics
29.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Tingkatkan Daya Serap Air Hujan, Jinengdalem Target 350 KK Buat Biopori

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Manfaat biopori bagi rumah tangga kini semakin banyak dirasakan. Banyak desa-desa di Buleleng membuktikan keuntungan dari pembuatan biopori. Telah banyak desa di Kabupaten Buleleng membuktikan keuntungan yang didapat dari pemanfaatan biopori, sehingga menginspirasi banyak desa lainnya untuk menerapkan hal yang sama.

 

Lubang biopori ini mampu meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah sehingga mampu mengurasi resiko banjir akibat meluapnya air hujan. Selain itu, teknologi ini juga mampu meningkatkan jumlah cadangan air bersih di dalam tanah.

 

Lubang biopori memicu biota tanah dan akan tanaman untuk membuat rongga-rongga di dalam tanah yang menjadi saluran air untuk meresap ke dalam tanah. Dengan adanya aktifitas ini menjadikan kemampuan lubang peresapan biopori senantiasa terjaga dan terpelihara.

 

Tahun 2022 ini desa Jinengdalem mulai bergerak membuat biopori di masing-masing rumah warga. Selain sebagai pencegah banjir juga dapat dimanfaatkan sebagai pembuat kompos.

 

Perbekel Desa Jinengdalem Ketut Mas Budarma Minggu (26/5) mengatakan, tahun ini desa Jinengdalem menargetkan 350 kepala keluarga (KK) memiliki 3 biopori pada masing-masing pekarangan mereka dengan spesifikasi diameter 30 cm dan kedalaman 70 cm. Pihaknya juga menyiapkan 1 unit mesin pengebor yang telah dimodifikasi seharga 3,5 juta rupiah yang dianggarkan dari dana desa. “Untuk itu, kami menyiapkan 1000 unit buis beton beserta tutupnya,” imbuhnya.

 

Pada rumah tangga yang telah dibuatkan biopori, Budarma mengarahkan mereka agar memasukkan sampah organik ke dalam biopori, lalu ditimbun dengan sedikit tanah. Setelah salah satu biopori penuh, warga diminta untuk lanjut memasukkan sampah pada 2 biopori lainnya bergantian.

 

Biopori yang sudah penuh dengan sampah organik akan diberi cairan pengurai sampah dan dibiarkan selama 2 bulan, selanjutnya sampah organik yang telah terurai dan menyatu dengan tanah, nantinya dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk. “Pupuk tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk tanaman hias atau buah di kebun,” tutupnya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Manfaat biopori bagi rumah tangga kini semakin banyak dirasakan. Banyak desa-desa di Buleleng membuktikan keuntungan dari pembuatan biopori. Telah banyak desa di Kabupaten Buleleng membuktikan keuntungan yang didapat dari pemanfaatan biopori, sehingga menginspirasi banyak desa lainnya untuk menerapkan hal yang sama.

 

Lubang biopori ini mampu meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah sehingga mampu mengurasi resiko banjir akibat meluapnya air hujan. Selain itu, teknologi ini juga mampu meningkatkan jumlah cadangan air bersih di dalam tanah.

 

Lubang biopori memicu biota tanah dan akan tanaman untuk membuat rongga-rongga di dalam tanah yang menjadi saluran air untuk meresap ke dalam tanah. Dengan adanya aktifitas ini menjadikan kemampuan lubang peresapan biopori senantiasa terjaga dan terpelihara.

 

Tahun 2022 ini desa Jinengdalem mulai bergerak membuat biopori di masing-masing rumah warga. Selain sebagai pencegah banjir juga dapat dimanfaatkan sebagai pembuat kompos.

 

Perbekel Desa Jinengdalem Ketut Mas Budarma Minggu (26/5) mengatakan, tahun ini desa Jinengdalem menargetkan 350 kepala keluarga (KK) memiliki 3 biopori pada masing-masing pekarangan mereka dengan spesifikasi diameter 30 cm dan kedalaman 70 cm. Pihaknya juga menyiapkan 1 unit mesin pengebor yang telah dimodifikasi seharga 3,5 juta rupiah yang dianggarkan dari dana desa. “Untuk itu, kami menyiapkan 1000 unit buis beton beserta tutupnya,” imbuhnya.

 

Pada rumah tangga yang telah dibuatkan biopori, Budarma mengarahkan mereka agar memasukkan sampah organik ke dalam biopori, lalu ditimbun dengan sedikit tanah. Setelah salah satu biopori penuh, warga diminta untuk lanjut memasukkan sampah pada 2 biopori lainnya bergantian.

 

Biopori yang sudah penuh dengan sampah organik akan diberi cairan pengurai sampah dan dibiarkan selama 2 bulan, selanjutnya sampah organik yang telah terurai dan menyatu dengan tanah, nantinya dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk. “Pupuk tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk tanaman hias atau buah di kebun,” tutupnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/