alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

PHDI Bali Pertanyakan Asal Usul Mahaprabu

DENPASAR, BALI EXPRESS –  Tulisan dari Iwan Pranajaya di media sosial facebook menjadi viral terkait surat terbuka untuk Mahaprabu (Putu Pandhia).  Pasalnya Mahaprabhu menurutnya tidak ada dalam padiksan maupun dalam tahapan menjadi orang suci sesuai Agama Hindu.

Tertera dalam surat terbuka tersebut, bahwa Mahaprabhu memperjuangkan pemurnian PHDI bersama Ida Ratu Sukahet, pejuang dresta Bali. Berada di PHDI Pemurnian, dan tentu karena pilihan posisi itu.  Berarti sejalan dengan narasi dan diksi-diksi Ida Ratu Sukahet dan PHDI MLB untuk menjaga dresta Bali dari ancaman kepunahan.

Dimana menurut pejuang pemurnian, ancaman kepunahan itu antara lain andilnya orang-orang PHDI yang terpapar sampradaya. PHDI WBT (Wisnu Bawa Tenaya) yang dituduh juga berafiliasi dengan organisasi Hindu radikal yang tidak sesuai Pancasila.

“Nah, kalau Mahaprabhu adalah pejuang dresta Bali, nunas penjelasan, nama Mahaprabhu nike diperoleh dalam proses apa? Kalau dalam dresta Bali, orang abhiseka Pandita/Sulinggih, itu melalui Diksa Dwijati, olih Nabe Napak, disaksikan Nabe Saksi dan Nabe Waktra memberikan bimbingan. Adakah Mahaprabhu melalui proses ini,?” tanya Iwan.

Baca Juga :  PHDI Mediasi Sengketa Keluarga Tutup Akses Pura Dalem Bingin Ambe

 

Dia pun melanjutkan surat terbukanya itu bahwa dari informasi yang didapatkan, Mahaprabhu bernama Putu Pandhia. “Konon memperoleh ‘aran anyar Mahaprabhu’ dari Paican Wisik Ida Bhatara, benarkah itu? Kalau tidak benar, tolong dijelaskan. Tapi, kalau benar Mahaprabhu memperoleh ‘’aran anyar dari Wisik Ida Bhatara’’, apakah itu termasuk Diksha jenis tertentu?” tanya dia lagi.

 

Soal diksa dwijati atau mediksa paican Widhi/Pawisik itu dia pertanyakan, karena Mahaprabhu menampilkan sosok di publik seperti Sulinggih yang sudah Dwijati. Busana seperti sulinggih, hingga rambut layaknya sulinggih.

 

Sementara dikonfirmasi Ketua PHDI Bali I Nyoman Kenak, menyebutkan masih berkoordinasi dengan PHDI Kabupaten Tabanan. Lantaran permasalahan ini tentang status Mahaprabhu di Pasraman Tegal Mengkeb, Kabupaten Tabanan.

 

“Masih koordinasi dengan PHDI Kabupaten Tabanan. Kalau pun Mahaprabhu, itu baru dengar saya. Biasanya yang saya tahu cuma ada Ida Pedanda, Ida Sri Mpu, Ida Sira Mpu, Ida Bhagawan, kalua Mahaprabhu ini tumben ini,” ujar Kenak, Minggu (26/6).

Baca Juga :  Pengurus PHDI Bali Hasil MLB Dikukuhkan, Pemurnian Butuh Proses

 

Dalam kesempatan itu, Mantan Ketua PHDI Kota Denpasar ini menambahkan sebaiknya jika belum melewati tahapan menjadi orang suci melewati diksa pariksa jangan mengenakan atribut seperti sulinggih. “Kalau itu bukan sulinggih sebaiknya jangan pakai atribut seperti sulinggih,” imbuh Kenak.

 

Sedangkan dikonfirmasi terpisah Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menyampaikan sempat beberapa kali bertemu dengan Mahaprabhu. Hanya saja yang dibahas terkait pemurnian PHDI dari gangguan Sampradaya Asing.

 

“Ratu hanya beberapa kali saja bertemu Mahaprabhu. Tetapi yang dibahas hanya seputaran pemurnian PHDI dresta Bali yang bebas dari sampradaya asing. Kalau sampradaya asing sering ratu nilai, biarkan berkembang di negara asalnya,” tegas Ida Penglingsir Agung Sukahet.






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS –  Tulisan dari Iwan Pranajaya di media sosial facebook menjadi viral terkait surat terbuka untuk Mahaprabu (Putu Pandhia).  Pasalnya Mahaprabhu menurutnya tidak ada dalam padiksan maupun dalam tahapan menjadi orang suci sesuai Agama Hindu.

Tertera dalam surat terbuka tersebut, bahwa Mahaprabhu memperjuangkan pemurnian PHDI bersama Ida Ratu Sukahet, pejuang dresta Bali. Berada di PHDI Pemurnian, dan tentu karena pilihan posisi itu.  Berarti sejalan dengan narasi dan diksi-diksi Ida Ratu Sukahet dan PHDI MLB untuk menjaga dresta Bali dari ancaman kepunahan.

Dimana menurut pejuang pemurnian, ancaman kepunahan itu antara lain andilnya orang-orang PHDI yang terpapar sampradaya. PHDI WBT (Wisnu Bawa Tenaya) yang dituduh juga berafiliasi dengan organisasi Hindu radikal yang tidak sesuai Pancasila.

“Nah, kalau Mahaprabhu adalah pejuang dresta Bali, nunas penjelasan, nama Mahaprabhu nike diperoleh dalam proses apa? Kalau dalam dresta Bali, orang abhiseka Pandita/Sulinggih, itu melalui Diksa Dwijati, olih Nabe Napak, disaksikan Nabe Saksi dan Nabe Waktra memberikan bimbingan. Adakah Mahaprabhu melalui proses ini,?” tanya Iwan.

Baca Juga :  Habis Masa Retensi, Pemkab Tabanan Musnahkan Arsip

 

Dia pun melanjutkan surat terbukanya itu bahwa dari informasi yang didapatkan, Mahaprabhu bernama Putu Pandhia. “Konon memperoleh ‘aran anyar Mahaprabhu’ dari Paican Wisik Ida Bhatara, benarkah itu? Kalau tidak benar, tolong dijelaskan. Tapi, kalau benar Mahaprabhu memperoleh ‘’aran anyar dari Wisik Ida Bhatara’’, apakah itu termasuk Diksha jenis tertentu?” tanya dia lagi.

 

Soal diksa dwijati atau mediksa paican Widhi/Pawisik itu dia pertanyakan, karena Mahaprabhu menampilkan sosok di publik seperti Sulinggih yang sudah Dwijati. Busana seperti sulinggih, hingga rambut layaknya sulinggih.

 

Sementara dikonfirmasi Ketua PHDI Bali I Nyoman Kenak, menyebutkan masih berkoordinasi dengan PHDI Kabupaten Tabanan. Lantaran permasalahan ini tentang status Mahaprabhu di Pasraman Tegal Mengkeb, Kabupaten Tabanan.

 

“Masih koordinasi dengan PHDI Kabupaten Tabanan. Kalau pun Mahaprabhu, itu baru dengar saya. Biasanya yang saya tahu cuma ada Ida Pedanda, Ida Sri Mpu, Ida Sira Mpu, Ida Bhagawan, kalua Mahaprabhu ini tumben ini,” ujar Kenak, Minggu (26/6).

Baca Juga :  PHDI Bali Gelar Majaya-jaya dan Doakan Kelancaran G20

 

Dalam kesempatan itu, Mantan Ketua PHDI Kota Denpasar ini menambahkan sebaiknya jika belum melewati tahapan menjadi orang suci melewati diksa pariksa jangan mengenakan atribut seperti sulinggih. “Kalau itu bukan sulinggih sebaiknya jangan pakai atribut seperti sulinggih,” imbuh Kenak.

 

Sedangkan dikonfirmasi terpisah Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menyampaikan sempat beberapa kali bertemu dengan Mahaprabhu. Hanya saja yang dibahas terkait pemurnian PHDI dari gangguan Sampradaya Asing.

 

“Ratu hanya beberapa kali saja bertemu Mahaprabhu. Tetapi yang dibahas hanya seputaran pemurnian PHDI dresta Bali yang bebas dari sampradaya asing. Kalau sampradaya asing sering ratu nilai, biarkan berkembang di negara asalnya,” tegas Ida Penglingsir Agung Sukahet.






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/