alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Belajar Daring, Guru dan Siswa SD di Denpasar Keluhkan Kuota Internet

DENPASAR, BALI EXPRESS – Saat pandemic, seluruh proses pendidikan dilakukan secara daring (dalam jaringan). Namun cara pembelajaran seperti ini menemui banyak kendala seperti koneksi internet yang kerap terganggu dan kuota internet yang boros. Itulah yang dialami para guru dan siswa di SD Negeri 14 Pemecutan.

“Banyak yang mengeluhkan kalau kuota mereka tidak memenuhi. Maklum, kalau download materi-materi pelajaran butuh kuota yang lumayan juga. Kami akui, siswa di sini dari kalangan menengah ke bawah. Jadi untuk siswa yang tidak mampu, atau tidak memiliki sarana yang mendukung, kami usulkan untuk diberikan tugas secara manual agar mereka sama-sama belajar,” ungkap Kepala SD N 14 Pemecutan, Ni Luh Putu Sriasih.

Untuk tugas-tugas yang diberikan kepada siswa secara manual, orangtua atau siswa bersangkutan diminta mengambil tugas ke sekolah untuk rentang satu minggu. Materi yang diberikan sama dengan materi yang diberikan secara online. “Nanti mereka datang ke sekolah, ambil tugas. Lalu mereka kumpulkan sekalian saat sudah selesai. Jadi tidak setiap hari mereka bolak-balik ke sekolah,” tambahnya.

Sriasih mengharapkan, kegiatan belajar-mengajar segera dilakukan seperti sediakala jika pandemi ini berakhir. Sebab, terdapat perbedaan yang sangat jauh ketika guru dihadapkan dengan pembelajaran secara daring. Begitu juga dengan siswa yang diajar.

“Menurut kami, lebih baik proses belajar dengan tatap muka. Kalau secara daring, masih ada hal yang mengganjal. Kami juga berpikir, apakah siswa yang kami ajarkan secara daring benar-benar sudah paham atau belum. Jadi seperti ada tanggung jawab yang masih tertunda. Itu yang dipikirkan guru-guru di sini,” ujarnya.

Di samping kekhawatiran atas pemahaman siswanya, pembelajaran daring juga memakan banyak biaya yang berujung pada keluhan orangtua siswa. “Kami juga memaklumi kondisi orangtua yang kesulitan dengan kuota. Makanya kami sudah sangat rindu mengajar di kelas. Kalau siswanya kurang paham, bisa langsung kami treatment sampai paham. Kalau secara daring, masih susah. Di bagian mananya siswa kurang paham. Belum lagi jaringannya yang putus-putus. Kami juga harus berulang kali menjelaskan kan,” kata dia.

Disinggung masalah subsidi kuota yang mungkin bisa dilakukan pihak sekolah, Sriasih mengaku, masih belum mampu untuk memberikannya kepada siswa. “Kami masih belum bisa seperti itu. Karena dananya juga kurang dan jumlah siswa ratusan orang. Ke depan, jika memungkinkan, kami akan berikan. Tentunya dengan seleksi. Mana yang layak untuk diberikan,” kata Sriasih.

Sementara, di salah satu ruang kelas yang sepi, dua orang guru tengah sibuk membuat konten video pembelajaran. Seorang guru matematika sedang menjelaskan pemecahan masalah terkait soal yang sedang dibahas. Dan guru satunya membantu merekan video yang nantinya akan dikirim ke siswa saat melakukan pembelajaran online.

Ditemui usai membuat konten, sang guru bernama Mirah berharap kegiatan belajar-mengajar bisa dilakukan seperti sediakala. Sebab, dibandingkan dengan pembelajaran online, ia lebih memilih untuk bertatap muka langsung dengan siswa. “Kalau sudah ketemu, kami tahu siswanya sudah paham apa belum. Langsung kelihatan raut mukanya. Jadi kami bisa langsung arahkan,” ujarnya.

Mirah menambahkan, untuk mata pelajaran matematika tidak bisa hanya lewat materi biasa tanpa didukung oleh video pembelajaran. Sebab, guru juga harus memberikan cara mengerjakan soal-soal tersebut agar tugas mudah dikerjakan oleh siswa. “Memang banyak makan kuota kalau download video. Kalau mata pelajaran matematika, harus kolaborasi antara teori dan praktek. Kalau tidak begitu, nanti siswa kurang memahami dan  bingung mengerjakan soal,” ungkapnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Saat pandemic, seluruh proses pendidikan dilakukan secara daring (dalam jaringan). Namun cara pembelajaran seperti ini menemui banyak kendala seperti koneksi internet yang kerap terganggu dan kuota internet yang boros. Itulah yang dialami para guru dan siswa di SD Negeri 14 Pemecutan.

“Banyak yang mengeluhkan kalau kuota mereka tidak memenuhi. Maklum, kalau download materi-materi pelajaran butuh kuota yang lumayan juga. Kami akui, siswa di sini dari kalangan menengah ke bawah. Jadi untuk siswa yang tidak mampu, atau tidak memiliki sarana yang mendukung, kami usulkan untuk diberikan tugas secara manual agar mereka sama-sama belajar,” ungkap Kepala SD N 14 Pemecutan, Ni Luh Putu Sriasih.

Untuk tugas-tugas yang diberikan kepada siswa secara manual, orangtua atau siswa bersangkutan diminta mengambil tugas ke sekolah untuk rentang satu minggu. Materi yang diberikan sama dengan materi yang diberikan secara online. “Nanti mereka datang ke sekolah, ambil tugas. Lalu mereka kumpulkan sekalian saat sudah selesai. Jadi tidak setiap hari mereka bolak-balik ke sekolah,” tambahnya.

Sriasih mengharapkan, kegiatan belajar-mengajar segera dilakukan seperti sediakala jika pandemi ini berakhir. Sebab, terdapat perbedaan yang sangat jauh ketika guru dihadapkan dengan pembelajaran secara daring. Begitu juga dengan siswa yang diajar.

“Menurut kami, lebih baik proses belajar dengan tatap muka. Kalau secara daring, masih ada hal yang mengganjal. Kami juga berpikir, apakah siswa yang kami ajarkan secara daring benar-benar sudah paham atau belum. Jadi seperti ada tanggung jawab yang masih tertunda. Itu yang dipikirkan guru-guru di sini,” ujarnya.

Di samping kekhawatiran atas pemahaman siswanya, pembelajaran daring juga memakan banyak biaya yang berujung pada keluhan orangtua siswa. “Kami juga memaklumi kondisi orangtua yang kesulitan dengan kuota. Makanya kami sudah sangat rindu mengajar di kelas. Kalau siswanya kurang paham, bisa langsung kami treatment sampai paham. Kalau secara daring, masih susah. Di bagian mananya siswa kurang paham. Belum lagi jaringannya yang putus-putus. Kami juga harus berulang kali menjelaskan kan,” kata dia.

Disinggung masalah subsidi kuota yang mungkin bisa dilakukan pihak sekolah, Sriasih mengaku, masih belum mampu untuk memberikannya kepada siswa. “Kami masih belum bisa seperti itu. Karena dananya juga kurang dan jumlah siswa ratusan orang. Ke depan, jika memungkinkan, kami akan berikan. Tentunya dengan seleksi. Mana yang layak untuk diberikan,” kata Sriasih.

Sementara, di salah satu ruang kelas yang sepi, dua orang guru tengah sibuk membuat konten video pembelajaran. Seorang guru matematika sedang menjelaskan pemecahan masalah terkait soal yang sedang dibahas. Dan guru satunya membantu merekan video yang nantinya akan dikirim ke siswa saat melakukan pembelajaran online.

Ditemui usai membuat konten, sang guru bernama Mirah berharap kegiatan belajar-mengajar bisa dilakukan seperti sediakala. Sebab, dibandingkan dengan pembelajaran online, ia lebih memilih untuk bertatap muka langsung dengan siswa. “Kalau sudah ketemu, kami tahu siswanya sudah paham apa belum. Langsung kelihatan raut mukanya. Jadi kami bisa langsung arahkan,” ujarnya.

Mirah menambahkan, untuk mata pelajaran matematika tidak bisa hanya lewat materi biasa tanpa didukung oleh video pembelajaran. Sebab, guru juga harus memberikan cara mengerjakan soal-soal tersebut agar tugas mudah dikerjakan oleh siswa. “Memang banyak makan kuota kalau download video. Kalau mata pelajaran matematika, harus kolaborasi antara teori dan praktek. Kalau tidak begitu, nanti siswa kurang memahami dan  bingung mengerjakan soal,” ungkapnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/