alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Buleleng Nol Kasus PMK, Pemkab Intensifkan Vaksinasi dan Disinfektan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sempat menjadi sorotan dari berbagai pihak lantaran kasus PMK di Buleleng masih tinggi, kini per tanggal 24 Juli lalu kasus PMK di Buleleng dinyatakan nol kasus. Seluruh sapi yang terpapar PMK yang ada di wilayah Kecamatan Gerokgak telah tuntas dilakukan pemotongan bersyarat. Sapi yang dimiliki petani itu dibeli oleh tukang jagal serta akan mendapatkan kompensasi dari pemerintah.

 

Sebanyak 268 ekor sapi yang terpapar PMK itu dengan cepat dieksekusi. Sehingga kini Buleleng dapat dinyatakan bebas kasus. Kendati telah nol kasus namun kemungkinan sapi kembali terjangkit masih ada. Pemkab Buleleng pun secara intensif melakukan vaksinasi terhadap ratusan ekor sapi di Buleleng. Tidak hanya itu, pemberian disinfektan kepada petani juga dilakukan untuk menyemprot kandang sapi agar tetap steril.

 

Tuntasnya pemotongan bersyarat untuk 268 ekor sapi itu pun telah dilaporkan kepada Satgas PMK Provinsi Bali dan Satgas PMK RI. Bahkan telah masukd lam sistem pendataan di Kementrian Pertanian RI. Hingga kini tercatat 10.300 ekor lebih sapi telah divaksin. “Semuanya sudah tuntas. Sekarang bagaimana upaya pencegahannya ditingkatkan lagi. Untuk vaksinasi masih ada sisa 5.000 stok. Jumlah itu mungkin akan habis lima hari lagi. Tapi kami sudah meminta ke satgas provinsi supaya bisa didroping lagi,” ujar Sekda Buleleng, Gede Suyasa, ditemui Selasa (26/7) siang.

Baca Juga :  Langgar Prokes, Polres Klungkung Gerebek Judi Tajen

 

Untuk kompensasi bersyarat yang nantinya akan diberikan kepada petani, telah dirampungkan dan diusulkan ke Provinsi Bali. Nantinya usulan itu akan disampaikan ke Kementerian Pertanian RI agar dapat direalisasikan. Usulan itu pun telah dilengkapi dengan sejumlah data baik foto, data pemilik sapi hingga kondisi sapi di beberapa wilayah. Dengan demikian, persoalan PMK di Buleleng dapat segera dituntaskan. “Usulan sampai akhir Juli 2022 ini sudah harus masuk semuanya. Kami berharap tuntas secepatnya. Karena ini dari Kementan tentu kami harus menunggu juga. Dan ini betul-betul dikawal sehingga langsung sampai ke petani,” tambahnya.

 

Upaya pencapaian nol kasus ini melalui tahapan yang panjang. Tak terkecuali perdebatan dengan para petani pemilik sapi. Upaya pendekatan dilakukan dengan berbagai cara, sehingga mencapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Kesepakatan terjadi cukup alot lantaran petani sempat tidak merelakan sapi-sapi miliknya dieksekusi. Sebab sebagian besar sapi milik petani adalah tabungan biaya hidup, kesehatan hingga biaya pendidikan keluarga. “Untuk capai 0 itu, bukan perkara mudah. Kemarin Buleleng angka kasusnya masih tinggi dan jadi satu-satunya di Bali karena kami tidak mau mengorbankan petani. Petani yang punya sapi itu kan bukan semata-mata hobi beternak. Tapi jadi sumber penghasilan keluarga,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bom Bunuh Diri Meledak di Depan Gereja Katedral Makassar





Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sempat menjadi sorotan dari berbagai pihak lantaran kasus PMK di Buleleng masih tinggi, kini per tanggal 24 Juli lalu kasus PMK di Buleleng dinyatakan nol kasus. Seluruh sapi yang terpapar PMK yang ada di wilayah Kecamatan Gerokgak telah tuntas dilakukan pemotongan bersyarat. Sapi yang dimiliki petani itu dibeli oleh tukang jagal serta akan mendapatkan kompensasi dari pemerintah.

 

Sebanyak 268 ekor sapi yang terpapar PMK itu dengan cepat dieksekusi. Sehingga kini Buleleng dapat dinyatakan bebas kasus. Kendati telah nol kasus namun kemungkinan sapi kembali terjangkit masih ada. Pemkab Buleleng pun secara intensif melakukan vaksinasi terhadap ratusan ekor sapi di Buleleng. Tidak hanya itu, pemberian disinfektan kepada petani juga dilakukan untuk menyemprot kandang sapi agar tetap steril.

 

Tuntasnya pemotongan bersyarat untuk 268 ekor sapi itu pun telah dilaporkan kepada Satgas PMK Provinsi Bali dan Satgas PMK RI. Bahkan telah masukd lam sistem pendataan di Kementrian Pertanian RI. Hingga kini tercatat 10.300 ekor lebih sapi telah divaksin. “Semuanya sudah tuntas. Sekarang bagaimana upaya pencegahannya ditingkatkan lagi. Untuk vaksinasi masih ada sisa 5.000 stok. Jumlah itu mungkin akan habis lima hari lagi. Tapi kami sudah meminta ke satgas provinsi supaya bisa didroping lagi,” ujar Sekda Buleleng, Gede Suyasa, ditemui Selasa (26/7) siang.

Baca Juga :  Bawa Ekstasi, Mahasiswa asal Malaysia Terancam 15 Tahun

 

Untuk kompensasi bersyarat yang nantinya akan diberikan kepada petani, telah dirampungkan dan diusulkan ke Provinsi Bali. Nantinya usulan itu akan disampaikan ke Kementerian Pertanian RI agar dapat direalisasikan. Usulan itu pun telah dilengkapi dengan sejumlah data baik foto, data pemilik sapi hingga kondisi sapi di beberapa wilayah. Dengan demikian, persoalan PMK di Buleleng dapat segera dituntaskan. “Usulan sampai akhir Juli 2022 ini sudah harus masuk semuanya. Kami berharap tuntas secepatnya. Karena ini dari Kementan tentu kami harus menunggu juga. Dan ini betul-betul dikawal sehingga langsung sampai ke petani,” tambahnya.

 

Upaya pencapaian nol kasus ini melalui tahapan yang panjang. Tak terkecuali perdebatan dengan para petani pemilik sapi. Upaya pendekatan dilakukan dengan berbagai cara, sehingga mencapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Kesepakatan terjadi cukup alot lantaran petani sempat tidak merelakan sapi-sapi miliknya dieksekusi. Sebab sebagian besar sapi milik petani adalah tabungan biaya hidup, kesehatan hingga biaya pendidikan keluarga. “Untuk capai 0 itu, bukan perkara mudah. Kemarin Buleleng angka kasusnya masih tinggi dan jadi satu-satunya di Bali karena kami tidak mau mengorbankan petani. Petani yang punya sapi itu kan bukan semata-mata hobi beternak. Tapi jadi sumber penghasilan keluarga,” imbuhnya.

Baca Juga :  Jelang Galungan, Bupati Suwirta Sidak di Pasar Galiran





Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/