Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nyepi 1948, Paket Data Seluler Dinonaktifkan 24 Jam, WiFi Rumah Tetap Berjalan

R
Penulis: Rika Riyanti❯

NONAKTIFKAN: Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana
NONAKTIFKAN: Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana


Advertisement

 

BALIEXPRESS.ID — Selama pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada Kamis (29/3), layanan paket data seluler di Bali akan kembali dinonaktifkan selama 24 jam.

Kebijakan ini mengikuti pola yang telah diterapkan pada perayaan Nyepi di tahun-tahun sebelumnya.

Advertisement

Meski paket data pada telepon seluler dimatikan, akses internet melalui WiFi rumah tangga dipastikan tetap berfungsi normal.

Layanan telepon dan SMS juga tidak terdampak dalam kebijakan tersebut.

Advertisement

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana, menjelaskan bahwa pembatasan hanya berlaku pada paket data seluler, bukan pemutusan total sinyal komunikasi.

“Bukan sinyalnya yang dimatikan, tapi paket datanya. Untuk telepon dan SMS masih bisa,” katanya, Minggu (1/3).

Ia menegaskan, tidak ada pengurangan kualitas layanan internet berbasis WiFi di rumah selama Nyepi.

Selama tidak terjadi kendala teknis dari pihak penyedia layanan, koneksi akan berjalan seperti biasa.

“WiFi dan internet di rumah tetap normal, tidak ada penurunan kecepatan. Yang dimatikan itu paket data di HP saja,” jelasnya.

Selain itu, konektivitas tetap diaktifkan di sejumlah fasilitas vital dan lokasi strategis yang membutuhkan layanan komunikasi berkelanjutan, seperti sektor keamanan, kesehatan, dan objek vital lainnya.

Penggunaan layanan di titik-titik tersebut dilakukan melalui mekanisme perizinan resmi.

Sementara untuk siaran televisi lokal di Bali, tetap dihentikan selama Nyepi sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Kebijakan ini merupakan permintaan pemerintah daerah.

“Kalau televisi di Bali, khususnya, dimatikan siarannya. Itu permintaan dari kita,” tuturnya.

Terkait teknis pelaksanaan, koordinasi dengan para penyedia layanan telekomunikasi dilakukan melalui pemerintah pusat.

Pemerintah Provinsi Bali telah menyampaikan surat kepada kementerian terkait, yang kemudian memfasilitasi rapat koordinasi bersama provider dan stasiun televisi.

“Biasanya dari pusat yang mengumpulkan, rapat koordinasi lewat Zoom. Nanti kementerian yang menyampaikan ke provider dan televisi,” katanya.

Menurut Gede Pramana, pola pembatasan ini telah berlangsung rutin setiap tahun, bahkan jauh sebelum dirinya menjabat pada 2020.

Mekanismenya relatif sama, yakni penonaktifan paket data seluler dalam kurun waktu tertentu, umumnya mulai pukul 06.00 pagi hingga 06.00 pagi keesokan harinya.

Menanggapi pertanyaan apakah keberadaan WiFi rumah dapat mengurangi esensi Nyepi, ia menekankan bahwa makna perayaan kembali pada kesadaran masing-masing individu.

“Artinya kembali kepada kita. Walaupun tidak ada imbauan melarang secara teknis, kalau kita sebagai umat yang taat, ya kita tidak menggunakan,” tutupnya.(***)

Advertisement

Artikel Terkait

YILI dan Joyday Dukung Gaya Hidup Sehat melalui Self-Care AMRun 5K 2026 di Bali

YILI dan Joyday Dukung Gaya Hidup Sehat melalui Self-Care AMRun 5K 2026 di Bali

PT Yili Indonesia Dairy (YILI) bersama merek es krim Joyday turut berpartisipasi dalam kegiatan Self-Care Antimicrobial Resistance Awareness Run (AMRun) 5K 2026 yang diselenggarakan di kawasan Sanur, Bali awal November

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan anggota DPRD Badung Made Bima Nata meninjau lokasi longsor pada Senin (2/11).

Gelar Seminar, Women’s World Banking Ungkap 23 Persen Usaha Perempuan Bertahan Lebih dari 5 Tahun

Gelar Seminar, Women’s World Banking Ungkap 23 Persen Usaha Perempuan Bertahan Lebih dari 5 Tahun

Riset tersebut menemukan hanya 44 persen pengusaha perempuan yang mampu mempertahankan usahanya selama tiga hingga lima tahun. Sementara itu, hanya 23 persen yang dapat bertahan lebih dari lima tahun.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer