Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Forum Diskusi Soroti Minimnya Ruang Aman bagi Pejalan Kaki di Bali

R
Penulis: Rika Riyanti❯

DISKUSI: Forum Jumpa Ngopi #16 bertajuk Bali Bicara Pejalan Kaki yang digelar pada Jumat (13/3)
DISKUSI: Forum Jumpa Ngopi #16 bertajuk Bali Bicara Pejalan Kaki yang digelar pada Jumat (13/3)


Advertisement

 

 

BALIEXPRESS.ID - Ketersediaan ruang yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki di Bali dinilai masih terbatas.

Advertisement

Kondisi trotoar yang sering terputus, tidak rata, hingga dialihfungsikan menjadi jalur sepeda motor membuat aktivitas berjalan kaki di berbagai kawasan menjadi tidak ramah bagi masyarakat.

Isu tersebut mengemuka dalam Forum Jumpa Ngopi #16 bertajuk Bali Bicara Pejalan Kaki yang digelar pada Jumat (13/3).

Dalam forum tersebut, berbagai komunitas, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil membahas tantangan sekaligus peluang pengembangan mobilitas ramah pejalan kaki di Bali.

“Hak dasar seperti aksesibilitas dan kenyamanan pejalan kaki selalu dipinggirkan, padahal kami juga pengguna jalan,” ujar salah satu partisipan dalam forum tersebut.

Kegiatan ini melibatkan sejumlah komunitas seperti Komunitas Pejalan Kaki (Kopeka) Bali, Denpasar Bersepeda, serta Koalisi Bali Emisi Nol Bersih.

Diskusi juga mendapat antusiasme dari kalangan akademisi yang ingin membuka ruang dialog dan berbagi wawasan terkait mobilitas berkelanjutan.

Forum ini diselenggarakan oleh WRI Indonesia bersama Pusat-Pusat Studi Universitas Warmadewa (Warmadewa Research Center).

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun gerakan kolektif antara organisasi masyarakat sipil, komunitas, akademisi, dan para profesional untuk mendorong perhatian terhadap hak pejalan kaki.

Berbagai aspek terkait pejalan kaki dibahas dalam diskusi tersebut, mulai dari tren pembangunan infrastruktur di tingkat global hingga kondisi di Indonesia. 

Director Urban Design URBAN+, Ardzuna Sinaga, memaparkan sejumlah praktik baik pengembangan ruang pejalan kaki di kota-kota dunia seperti Bangkok, Hong Kong, dan Seoul, serta tantangan yang masih dihadapi di kota-kota Indonesia seperti Bandung dan Jakarta.

Ia juga menyoroti potensi pengembangan kawasan ramah pejalan kaki di Bali, termasuk di Sanur dan Ubud.

“Kerangka pedestrian terintegrasi memiliki potensi untuk membuka ruang kreatif, membangun fleksibilitas untuk mengakomodasi kebutuhan tersembunyi, hingga menjadi panggung kewirausahaan untuk publik,” ujarnya.

Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Co-chair International Advisor Warmadewa Research Centre, I Nyoman Gede Maha Putra, yang menyoroti konteks lokal Bali, khususnya kaitan antara perkembangan urbanisasi, pariwisata, serta dampaknya terhadap infrastruktur pejalan kaki.

“Ada pandangan neoliberalisme yang terjadi saat kita melihat siapa yang seharusnya menikmati ruang kota di daerah tersebut. Pada saat saya pergi ke Ubud, sempat terlintas di depan saya nenek-nenek dan cucunya yang kesulitan untuk menyebrang dan menuju tempat tujuannya karena sulitnya berjalan dan tidak tersedianya bemo. Yang akhirnya saya berikan tumpangan. Terlihat bahwa pembangunan jalan ini memunculkan ketimpangan sosial, terutama pada masyarakat yang seharusnya menikmati lingkungan tempat tinggal mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Urban & Transport Analyst WRI Indonesia, Fairuzia Rahman, memaparkan kondisi terkini serta peluang pengembangan transportasi tidak bermotor atau Non-Motorized Transport (NMT) di Bali.

Ia juga menyinggung pengembangan Kawasan Rendah Emisi (KRE) sebagai salah satu solusi mobilitas berkelanjutan.

“Kita perlu merebut kembali ruang pejalan kaki dari dominasi kendaraan pribadi. Melalui perencanaan yang partisipatif, kami harap KRE Sanur sebagai bagian dari Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) menjadi pembuktian konsep rintisan desain berorientasi manusia atau human-centered design,” katanya.

Melalui diskusi berbasis data, pengalaman lapangan, serta refleksi terhadap nilai-nilai lokal, forum ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman bersama dan rekomendasi konkret guna mendorong terciptanya sistem mobilitas yang lebih berkelanjutan di Bali, sekaligus mendukung target emisi nol bersih di masa depan.(Ika)

Advertisement

Artikel Terkait

Dorong Sepeda Jadi Moda Harian, Diskusi Publik Soroti Transportasi Berkelanjutan di Denpasar

Dorong Sepeda Jadi Moda Harian, Diskusi Publik Soroti Transportasi Berkelanjutan di Denpasar

Lewat diskusi bertema “Bali Bicara Sepeda dan Ragam Gerakan Sosial Dibaliknya”, Penerbit Partikular, WRI Indonesia, bersama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih mengajak publik melihat ulang posisi sepeda dalam kehidupan kota

YILI dan Joyday Dukung Gaya Hidup Sehat melalui Self-Care AMRun 5K 2026 di Bali

YILI dan Joyday Dukung Gaya Hidup Sehat melalui Self-Care AMRun 5K 2026 di Bali

PT Yili Indonesia Dairy (YILI) bersama merek es krim Joyday turut berpartisipasi dalam kegiatan Self-Care Antimicrobial Resistance Awareness Run (AMRun) 5K 2026 yang diselenggarakan di kawasan Sanur, Bali awal November

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan anggota DPRD Badung Made Bima Nata meninjau lokasi longsor pada Senin (2/11).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer