
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Buleleng kini memiliki perpustakaan komunitas. Perpustakaan itu berlokasi di Pantai Indah III No. 46, Desa Baktiseraga, Buleleng. Buku-buku yang ada di perpustakaan merupakan koleksi dari Komunitas Mahima yang kini bisa diakses dan dibaca secara gratis. Dengan koleksi seribu lebih buku, Perpustakaan Mahima resmi dibuka Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, (31/3) pagi.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, melihat perpustakaan lebih dari sekadar tempat arsip. Baginya, perpustakaan adalah cara sebuah daerah berbicara kepada masa depan.
“Perpustakaan bukan hanya arsip surat-surat saja, tapi bisa merekam kejadian-kejadian yang terjadi. Mengabadikan peristiwa-peristiwa yang pernah dilakukan,” ujarnya.
Menurut Supriatna, di balik setiap arsip, ada cerita. Di balik setiap catatan, ada kehidupan yang pernah berlangsung—tentang orang-orang, tentang jalan yang dibangun, tentang kebudayaan yang diwariskan, bahkan tentang hal-hal kecil yang sering luput dari ingatan.
Ia menegaskan, penting bagi sebuah wilayah untuk memiliki jejak yang rapi dan terjaga. Sebab tanpa catatan, sejarah hanya akan menjadi kabut—terasa ada, tetapi sulit disentuh.
“Sehingga semua perjalanan kita atau wilayah itu tercatat, terdata, dan dapat diingat oleh generasi-generasi berikutnya,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia berharap perpustakaan bisa menjelma menjadi pusat data yang hidup. Bukan sekadar tempat mencari buku, tetapi juga ruang rujukan bagi siapa saja yang ingin memahami cerita sebuah daerah.
“Apapun yang dibutuhkan tentang cerita, peristiwa, sejarah, bahkan catatan sekecil apapun bisa datang ke perpustakaan,” katanya.
Harapan itu tidak berdiri sendiri. Ia menemukan gaungnya pada inisiatif kecil yang tumbuh dari masyarakat. Salah satunya adalah perpustakaan komunitas yang digagas oleh Komunitas Mahima.
Di tangan komunitas ini, perpustakaan hadir dengan wajah yang lebih hangat. Tidak kaku, tidak berjarak. Rak-raknya mungkin sederhana, tetapi semangat berbagi yang mengisinya terasa luas.



